Kamis , 20 April 2017, 19:10 WIB
Belajar Kitab

Kisah Pengembaraan Hayy ibn Yaqzhan

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alkisah, di sebuah pulau di Samudra Hindia yang dilintasi garis katulistiwa, hidup seorang anak yang lahir tanpa ibu dan bapak. Ia terlahir dari tanah liat yang menyediakan segala keperluan janin di tengah proses menjadi seorang bayi yang sempurna. Hayy ibn Yaqzhan namanya. Ia terlahir normal, sehat layaknya bayi lain yang terlahir dari rahim ibunya.

Tujuh tahun lamanya, Hayy bin Yaqzhan diasuh oleh seekor rusa. Tingkah laku, suara, makanan, hingga kebiasaan sehari-hari sang bayi sangat mirip dengan segerombolan rusa. Akan tetapi, keriangan Hayy ibn Yaqzhan di masa kanak-kanaknya akhirnya terhenti di usia tujuh tahun. Rusa yang mengasuhnya mati.

Segala tenaga dan pikiran ia curahkan untuk mencari sebab-sebab kematian pengasuhnya itu. Ia membedah seluruh isi perut rusa mencari jawaban dari pertanyaan yang menggelayut di pikirannya, kenapa harus ada kematian? Selidik demi selidik, si bocah pun menyimpulkan bahwa kekuatan tak berbentuk telah meninggalkan jasad si rusa.

Dari sini pengembaraan Hayy ibn Yaqzhan mencari hakikat mutlak dimulai. Ia mengamati seluruh kehidupan di sekelilingnya. Ada segerombolan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang bergerak sesuai dengan kodratnya. Mereka tak mampu melawan takdir yang telah melekat pada dirinya. Ia melihat api dan segera menyimpulkan apilah benda yang paling mulia.

Api menjalar ke atas dan memberikan kehangatan. Ia teringat bagian dalam tubuh rusa yang meninggalkannya begitu hangat ketika hidup, kemudian berubah dingin setelah mati. Karena itu, menurutnya, kehangatan api adalah inti kehidupan dalam diri setiap makhluk hidup.

Setelah si bocah beranjak dewasa, perhatiannya beralih kepada benda-benda langit, matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet. Ia terkagum dengan pergerakan mereka yang teratur sesuai dengan garis peredarannya masing-masing.

Pada tahapan kisah ini, pembaca diingatkan dengan kisah pencariaan Nabi Ibrahim akan hakikat Tuhan. Ibrahim berhijrah dari kota-ke kota untuk menemukan siapa Tuhan sejatinya. Pada episode akhir pencariannya itu, Ibrahim menganggap benda-benda langit yang merupakan simbol ketinggian, keagungan, dan keindahan seperti layaknya Tuhan. Selangkah kemudian, Ibrahim pun 'menemukan' Tuhan.

Demikian halnya dengan kisah yang dituturkan Ibnu Thufail. Hayy ibn Yaqzhan dikisahkan ingin menyerupai benda-benda langit itu. Ia pun melakukan gerakan berputar. Terkadang memutari rumahnya sendiri, bukit-bukit dan pulau itu. Ia terus berputar hingga kesadarannya pun hilang.

Semakin dalam pencariannya tentang hakikat mutlak, Hayy ibn Yaqzhan merasakan keindahan, keagungan, dan kenikmatan yang tak terhingga, yang tak pernah terbetik sedikit pun dalam kalbu manusia, tak bisa disifati, dan tak bisa dinalar kecuali oleh mereka yang sudah sampai pada tujuan dan mengarifi sendiri.

Ibnu Thufail cepat-cepat mengingatkan kepada pembaca, ''Jangan sekali-kali engkau mencari penjelasan lebih dari ini melalui kata dan bahasa. Sebab kata dan bahasa, mustahil mengungkapkan realitas yang pernah dialami Hayy ibn Yaqzhan.''