Kamis , 20 April 2017, 17:29 WIB
Belajar Kitab

Hayy ibn Yaqzhan, Roman Menemukan Pencipta

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Roman filsafat Hayy ibn Yaqzhan karya Ibnu Thufail sudah dikenal di dunia Timur dan Barat. Roman ini ditulis pada abad ke-12 M, ketika cahaya ilmu pengetahun Islam terang benderang menyinari alam.

Gagasan yang tertuang di dalamnya bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa tahun sebelum Ibnu Thufail menulis Hayy ibn Yaqzhan, Ibnu Sina sudah menulis roman dengan judul yang sama. Meski demikian isi keduanya berbeda.

Mengenai kesamaan judul dalam kedua karya tersebut, menurut Abbas Mahmud Al-Aqqad, disebabkan kuatnya imajinasi para ulama Muslim pada abad ke-11 dan ke-12 M menggapai Zat yang Maha Agung. Menurut Aqaad, mereka tidak puas terhadap dunia beserta isinya.

Mereka gelisah, sehingga berupaya mencari 'surga yang hilang'. Tidak sampai dua atau tiga abad setelah itu, semangat yang sama muncul di Eropa dengan pemicu yang sama pula.

Pertalian gagasan tersebut dapat dilacak dari Ibnu Sina, Al-Ghazali, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail hingga kepada para filosof Eropa, seperti Thomas Hobbes, John Locke, Isaac Newton, dan Immanuel Kant.

Secara khusus Hayy ibn Yaqzhan karya Ibnu Thufail memengaruhi beberapa ilmuan Eropa abad pencerahan, di antaranya David Hume dan George Barkeley.

Hayy ibn Yaqzhan pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Edward Pococke pada 1660 dengan judul Philosophus Autodidactus. Kemudian, pada 1686 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George Ashwell dengan judul The Improvement of Human Reason: Exhibited in the Life of Hai Ebn Yokdhan.

Terjemahan-terjemahan tersebut menyebar ke negara-negara Eropa, terutama di Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan negara-negara Latin. Pada 1721 cerita Hayy ibn Yaqzhan dikenalkan oleh Cotton Mather (filosof Kristen) ke Amerika Utara.

Dalam Wikipedia disebutkan, buku ini merupakan salah satu buku terpenting yang mendukung proses pencerahan masyarakat Eropa dan revolusi ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Tidak mengherankan jika kemudian kajian-kajian kritis terhadap Hayy ibn Yaqzhan di Barat lebih jauh melebihi yang terjadi di dunia Arab sendiri.

Penggambaran seorang bocah yang hidup sendirian di pulau terpencil mencari kebenaran mutlak, mengajak setiap pembaca menerawang ke dunia antah berantah. Imajinasi serupa juga berkembang di Eropa dan kerap diusung oleh pujangga-pujangga di sana. Oleh sebab itu, model penyajian gagasan filsafat Ibnu Thufail ini mudah diterima oleh bangsa lain di dunia.

Ibnu Thufail memang piawai merangkai kata. Ia dapat memancing emosi dan rasa penasaran para pembacanya. Sang pujangga mengisahkan, Hayy ibn Yaqzhan tidak pernah berhenti mencari daya (fail) yang menggerakkan fenomena-fenomena alam di sekitarnya.

Tahapan-tahapan spiritualitas ia raih dengan olah akal. Butuh waktu beberapa tahun baginya untuk melangkah dari satu fase pemahaman realitas menuju fase selanjutnya. Setelah pencarian selama 35 tahun, barulah ia bisa menyibukkan pikirannya memahami sang Fail (daya penggerak) yang mengatur seluruh jagad ini. Sebelumnya, ia hanya berkutat pada pemahaan fenomena alam dengan kekuatan indranya.

Pada bab pertama Ibnu Thufail mengingatkan, ''Saudaraku yang mulia dan tulus, ketahuilah bahwa siapa pun yang menghendaki kebenaran sejati, ia harus mencari kearifan dan bersungguh-sungguh menggelutinya.''

''Aku sudah menyaksikan suatu kondisi yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Aku sampai pada sebuah pengalaman yang begitu menakjubkan. Pengalaman yang tak terlukis dan tak bisa diungkapkan. Sebab, apa yang telah aku capai ini memang berada di luar pengalaman indrawi manusia dan melampaui realitas fisik,'' ungkap Ibnu Thufail menjelaskan pengalamannya.

Tampaknya pengalaman spiritual itu yang menuntun Ibnu Thufail menuangkan gagasan-gagasan filsafatnya dalam bentuk roman. Jika Ibnu Sina menggambarkan sosok Hayy ibn Yaqzhan sebagai seorang kakek bijak yang memperoleh hikmah melalui pengalaman dan pengembaraan, Ibnu Thufail mengilustrasikannya sebagai seorang bocah yang hidup sendiri di sebuah pulau, diasuh oleh seekor rusa.

Berita Terkait