Selasa , 18 April 2017, 06:06 WIB

Berawal dari Masjid, Dorong Kohesi Sosial di Singapura

Red: Fernan Rahadi
dokpri
Noor Huda Ismail
Noor Huda Ismail

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berkeliling dunia mempromosikan film Jihad Selfie sudah menjadi kegiatan rutin produser film sekaligus pakar terorisme, Noor Huda Ismail. Film yang bercerita tentang seorang pemuda Indonesia yang nyaris bergabung ISIS tersebut sudah diputar di sejumlah negara dan puluhan kota di Indonesia.

Akan tetapi fakta bahwa film tersebut dipakai pemerintah Singapura untuk mempromosikan program bernama Broadening Religious or Racial Interaction through Dialogue and General Education (Bridge) sama sekali di luar bayangan pria asal Yogyakarta itu. Semua berawal dari undangan seorang Imam Masjid Ba'alwi Singapura, Habib Hasan, kepada Huda baru-baru ini.

"Habib Hasan meminta saya untuk melakukan public screening dan diskusi di Singapura. Karena diundang oleh sebuah masjid, maka saya pun dengan senang hati datang," ujarnya saat diwawancarai via surel oleh Republika, Senin (17/4).

Awalnya, ia hanya memprediksi anggota jamaah masjid tersebut yang datang menonton diskusi dan pemutaran film tersebut. Akan tetapi di luar dugaannya, banyak pejabat negara yang datang, termasuk menteri pertahanan Singapura. Acara tersebut diikuti kurang lebih 250 orang dan diliput oleh media massa lokal, baik TV maupun cetak.

Ternyata, dampak film Jihad Selfie ke masyarakat Singapura lumayan besar. Pengurus masjid itu pun meminta pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian itu kembali menghadiri kegiatan serupa di beberapa komunitas di Singapura, termasuk komunitas Muslim yang terdiri dari para ustaz.

"Bagi mereka film Jihad Selfie ini memberikan cara pandang baru melihat masalah radikalisme yang tidak melulu dengan pendekatan keamanan," ujar ayah dua anak itu.

Animo yang besar ini rupanya ditangkap oleh dua kementerian Singapura, yaitu kementerian pemuda dan kementerian informasi. Film Jihad Selfie ini pun dipakai sebagai kick off program Bridge yang digagas untuk mendorong kohesi sosial masyarakat Singapura yang sangat multikultural. Acara itu pun digelar di National Singapore Gallery dan dihadiri 300 orang lebih.

"Kedua kementerian ini melihat Jihad Selfie bisa dijadikan sebagai media untuk membuka diskusi masalah-masalah yang sering dianggap sensitif secara bebas. Oleh karena itu, mereka meminta saya untuk bisa kembali memutar film ini kepada masyarakat Singapura, termasuk untuk guru-guru SMA mereka," kata Huda.

Ditanya mengenai motivasinya membuat film Jihad Selfie, Huda mengungkapkan film itu hanya dipakainya sebagai media untuk melakukan silaturahmi dengna berbagai pihak, terutama orang-orang yang tertarik mendalami mengapa orang normal bisa terlibat dalma kelompok kekerasan seperti ISIS. Film ini, kata dia, tidak menghakimi siapapun melainkan menjelaskan proses radikalisasi yang berpotensi dilakukan masyarakat. 

"Barangkali nilai silaturahmi dan tidak cepat menghakimi orang inilah cara saya mempromosikan nilai-nilai Islam. Bukankah Islam selalu mengajarkan kita untuk selalu tabayun atau kroscek terhadap informasi apapun?" ujar pria yang kini berdomisili di Melbourne, Australia, ini.