- Republika Online' /> ' /> Pesan untuk Pemuda di Kitab Idhotun Nasyi'in | Republika Online
Jumat , 17 Maret 2017, 22:45 WIB
Belajar Kitab

Pesan untuk Pemuda di Kitab Idhotun Nasyi'in

Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kitab Idhotun Nasyi'in, Musthofa al Ghulayani membahas makna kemerdekaan. Mulai dari kemerdekaan pribadi, kemerdekaan masyarakat, dan kemerdekaan bangsa serta negara.

Beliau mengingatkan para pemuda agar tidak memahami kemerdekaan dalam makna sebebas-bebasnya sehingga melampaui batas atau melanggar hukum. Karena, menganggap kemerdekaan adalah merdeka segala-galanya.

Termasuk merdeka dalam urusan-urusan yang mengganggu norma (akhlak) dan tatanan kehidupan masyarakat yang memegang teguh ajaran agama. Bahkan, menganggap aturan agama sebagai penjajahan terselubung yang harus dilawan dan dihancurkan.

"Jangan kalian mengenal lelah dan payah demi kepentingan bangsa dan negara dalam melepaskan umat dari bentuk-bentuk perbudakan apa pun, baik yang dilakukan penjajah asing maupun bangsa sendiri yan berkomplot dengan penjajah. Juga, perbudakan hawa nafsu yang menyeret manusia berperilaku rendah dan hina, rusak budi pekerti, berpikiran tercela, dan jahat," tulis Musthofa al-Ghulayani.

Untuk memperkuat uraiannya, beliau mengutip pepatah Arab sebagai berikut.

Inna lil umami ajalan wa ajalu kulli ummatin yauma tafqidu hurriyataha. (Setiap umat memiliki ajal kematian dan ajal kematian umat itu adalah ketika kehilangan kemerdekaannya).

Kepada para pemuda, Musthofa al-Ghulayani mengingatkan mereka agar mampu menunjukkan prestasi dan reputasi sendiri sehingga dapat menjadi manusia hakiki yang mendapat gelar insan kamil (manusia sempurna). Berwawasan luas, berjiwa kuat, dan berhati mulia. Mereka disebut ishomi, yaitu manusia yang berbangga berkat kerja keras sendiri.

Hal ini berbeda dengan manusia idhomi yang selalu menggantungkan namanya kepada kehebatan para leluhur. Misalnya, membangga-banggakan diri sebagai ahli waris kejayaan para nenek moyang yang sudah meninggal lama tanpa melihat peralihan situasi dan kondisi. Dia hanya mendompleng popularitas orang tuanya di masa lampau.

Pepatah Arab menyatakan, Laisal fata man yaqulu kana abiy, walakinna al-fata man yaqulu, ha ana dza. (Bukan ksatria orang yang mengatakan, tuh bapakku, melainkan seorang kstaria berkata, ini dadaku).