Rabu , 08 Februari 2017, 18:16 WIB

Rais Aam NU: Ulama Bergeraklah

Red: Nasih Nasrullah
NU
Halaqah Ulama NU se-Banten bersama Kapolri Tito Karnavian di Pesantren Annawawiyah, Tanara Banten, Rabu (8/7)
Halaqah Ulama NU se-Banten bersama Kapolri Tito Karnavian di Pesantren Annawawiyah, Tanara Banten, Rabu (8/7)

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin meminta ulama jangan hanya diam di pesantren, tetapi harus bergerak keluar untuk lebih mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

Kendati demikian, dia menggarisbawahi seruannya tersebut jangan dikonotasikan ulama meninggalkan pesantren seutuhnya. Bagaimanapun peran ulama di pesantren tetap penting, untuk mencetak kader atau regenerasi ulama.

Menurut Ma’ruf yang juga ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut, untuk menjaga negara perlu ada kerja sama yang baik antara ulama dan umara. 

“Agak sulit rasanya menjaga Negara tanpa adanya kesatuan kekuatan antara ulama dan umara tadi,” katanya saat memaparkan pendapatnya sebagai pembicara kunci dalam “Silaturahim dan Dialog Kebangsaan Ulama, Pengasuh Pondok Pesantren dan Syuriah PCNU se-Banten” di Pesantren An-Nawawi, Tanara, Serang, Rabu (8/2).

Dia mengapresiasi peran Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian yang mampu mengendalikan situasi politik nasional beberapa waktu ini, dengan mendekati dan melibatkan para ulama. “Jadi Kapolri, ya sudah ulama itulah patokannya,” katanya di hadapan Kapolri yang saat itu juga hadir di tengah-tengah hadirin. 

Selain peran di bidang sosial keagamaan, Ma’ruf juga meminta ulama, khususnya di Banten menjaga umat dari ajaran atau akidah-akidah yang menyimpang. 

Ajaran atau kaidah-kaidah yang menyimpang, akan mengubah arus cara berpikir dan gerakan yang mengarah ke ekstrem radikal. “Baik itu radikal agama maupun radikal sekuler,” katanya. 

Lebih lanjut Ma’ruf meminta para ulama NU memperkuat silaturahim dan mengonsolidasikan gerakan. NU itu harus saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi. Selain ukhuwah Islamiyah (sesama Islam), wathaniyah (kebangsaaan), insaniyah (kemanusiaan), perlu lagi ditambah ukhuwah Nahdliyah (sesama Nahdliyin).   

Penambahan satu ukhuwah Nahdliyyah, maksudnya, kata dia, jangan sampai ketika seluruh warga NU menjalankan ketiga ukhuwah tersebut justru terpecah-pecah sesama warga atau di internal NU sendiri. “Makanya, perlu ditambah Ukhuwah Nahdliyah,” katanya.