Ahad , 05 February 2017, 12:55 WIB

'Semestinya Para Pemimpin Bangsa Hormati Ulama'

Red: Nasih Nasrullah
Republika/Maman Sudiaman
KH Maruf Amin
KH Maruf Amin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Semua komponen bangsa Indonesia, terutama pimpinan-pimpinan bangsa, diimbau bisa menjaga ucapan dan perilaku terhadap para ulama, sebagai penghormatan terhadap guru sekaligus pemersatu umat

Selain itu pula mengutuk setiap tindakan yang melecehkan dan meremehkan ulama karena tidak sesuai dengan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Ajakan ini sebagai respons atas pernyataan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terhadap KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang sekaligus Raais Aam Nahdlatul Ulama dalam sidang ke-8 kasus dugaan penistaan agama. 

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII), Abdullah Syam,  pernyataan Ahok tersebut merupakan bentuk intimidasi dan cenderung melecehkan ulama yang posisinya sangat dihormati dalam ajaran Islam. 

Ulama merupakan guru dan teladan bagi umat Islam, karena mereka dianggap pewaris para nabi. Bagi umat Islam, ajaran Rasulullah SAW yang diajarkan ulama merupakan jalan hidup. 

“Dengan demikian tidak pantas bila Basuki Tjahaja Purnama mengatakan hal tersebut di pengadilan,” katanya kepada Republika.co.id di Jakarta, Ahad (5/2). 

Bagaimanapun, menghormati ulama merupakan pertanda ketakwaan seseorang yang beragama Islam, karena ulama merupakan tanda kebesaran Allah SWT di muka bumi. 

Di samping itu pernyataan Ahok dinilai telah keluar dari substansi persidangan, yang akan melahirkan konsekuensi hukum. 

Lebih lanjut, ia mengatakan bangsa Indonesia harus menyadari peran penting ulama ataupun tokoh agama lainnya dalam pembangunan nasional.  Dalam keyakinan umat Islam pembangunan nasional dapat berhasil apabila didukung dengan elemen-elemen yang saling menguatkan. 

Di antaranya pemerintahnya (umara) adalah pemerintah yang adil, para orang kaya //(aghniya)// bersikap dermawan,  ulamanya memiliki pengetahuan dan paham terhadap hukum agama, dan rakyat yang kekurangan (kaum miskin dan dhuafa) yang terus berdoa.