Thursday, 29 Zulhijjah 1435 / 23 October 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ini Sejarah Syiah di Indonesia

Friday, 07 September 2012, 23:22 WIB
Komentar : 1
Ilustrasi Syiah
Ilustrasi Syiah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keberadaan Syiah di Indonesia dibawa ulama dari Hadramaut ribuan tahun lalu. Ketika itu, mereka ada yang datang ke Indonesia untuk berdagang, tapi tak sedikit yang mendarat di Nusantara untuk berdakwah. Namun, semuanya tak menunjukkan diri sebagai penganut Syiah.

Pecinta Syiah lewat Ahlul Bait Indonesia (ABI) menjelaskan, umat Syiah dari Hadramaut itu kemudian melebur dan berperilaku laiknya pengikut mazhab Syafii. Dampak, penganut mazhab Syafii di Indonesia banyak yang dipengaruhi paham Syiah.

Sekjen ABI, Ahmad Hidayat mengklaim jejak Syiah sebenarnya banyak tersebar dalam tradisi masyarakat Indonesia. Misalnya tradisi yasinan dan ziarah ke makam. Ada pula tradisi tabot, yakni peringatan pembantaian keluarga Nabi Muhammad SAW di Karbala, Iran.

Lebih lanjut Hidayat menjelaskan, sekitar medio 1979-1980, politik Iran bergejolak. Seorang ulama Iran yang berdomisili di Prancis, Ayatullah Rohullah Khomeini, berhasil menumbangkan pemerintahan otokrasi di Iran, pimpinan Mohammad Reza Shah Pahlevi. Syiah pun memiliki negara.

Revolusi Iran mempengaruhi mahasiswa Indonesia. Pada 1982, mahasiswa Indonesia mulai mempelajari buku revolusi Iran. Tak sedikit yang tertarik dengan pemikiran Syiah.

Pada 1990-an, para habib yang pulang dari Khum, Iran, mulai mengajarkan Syiah ke kalangan terbatas. Seperti Ustaz Umar di Palembang dan Ustaz Husein Al Habsyi di Jawa Timur. Mereka datang dengan fikih Syiah.

"Kita pelajari juga ushluhuddin, ma'rifatullah, dan tasawuf. Waktu sudah di ranah fikih, mulai ada perbedaan paham dengan mayoritas Muslim Indonesia menganut ahlussunah wal jamaah," imbuh Hidayat.

Namun, Hidayat menekankan, sejatinya ajaran-ajaran dari ulama luar negeri yang dibawa masuk ke ranah kultural Nusantara, tidak berusaha merusak ajaran yang sudah ada. Seperti yang dicontohkan dalam kehidupan keimanan keluarganya yang berlatar belakang Nahdhatul Ulama. Hidayat tidak berusaha menekan anggota keluarga lainnya mempelajari Syiah.

Reporter : Indah Wulandari
Redaktur : Karta Raharja Ucu
Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya ((HR Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...