Friday, 27 Safar 1436 / 19 December 2014
find us on : 
  Login |  Register

Shalat Id ala Islam Aboge

Monday, 20 August 2012, 15:05 WIB
Komentar : 1
blogspot.com
 Penganut Islam Aboge saat shalat Id di Masjid Saka Tunggal Baitussalam Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas.
Penganut Islam Aboge saat shalat Id di Masjid Saka Tunggal Baitussalam Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas.

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS – Imam yang juga juru kunci masjid, Sulam (43) mengatakan, kenduri tersebut sebagai wujud syukur warga kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga mereka bisa kembali merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Disinggung mengenai adanya perbedaan penetapan 1 Syawal, dia mengatakan, penganut Islam Aboge tidak mempermasalahkannya karena masing-masing memiliki cara penghitungan sendiri.

"Kami juga memiliki cara sendiri dalam menentukan 1 Syawal dan cara penghitungan ini telah diyakini sejak ratusan tahun silam. Kami harapkan perbedaan ini tidak diperdebatkan dan dipertentangkan, hormatilah perbedaan yang ada," katanya.

Selain di Kabupaten Banyumas, Shalat Id juga dilaksanakan para penganut Islam Aboge di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, dan Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.

Kepala Desa Ujungmanik, Supardan, melalui sambungan telepon menginformasikan bahwa ratusan penganut Islam Aboge setempat melaksanakan Shalat Id di Masjid Baetussalim Desa Ujungmanik yang dipimpin imam Supandi dan khatib Suhadi.

Dalam khotbah berbahasa Jawa, kata dia, khatib menyampaikan berbagai hal tentang Idul Fitri serta mengajak warga untuk menjalin tali silaturahmi.

"Usai melaksanakan shalat, mereka bersama ribuan warga Desa Ujungmanik yang telah Shalat Id pada hari Minggu, menggelar silaturahmi dengan bersalam-salaman guna saling memaafkan. Acara tersebut dilanjutkan dengan kenduri di masjid sambil menikmanti hidangan yang mereka bawa dari rumah masing-masing," tutur Supardan.




Redaktur : Chairul Akhmad
Sumber : Antara
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Polwan Berjilbab Harus Dilindungi Negara
JAKARTA -- Pemakain jilbab untuk polisi wanita hingga kini belum menemukan titik terang. Terkait hal tersebut, Ketua umum Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin...