Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Azyumardi: Muhammadiyah Perlu Kembangkan Tasawuf Dahlani

Senin, 30 Juli 2012, 14:46 WIB
Komentar : 3
Azyumardi Azra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –- Pendidikan Tinggi di Indonesia kebanyakan berdiri pada tahun 70-80an. Kondisi itu melahirkan masyarakat menengah di negara ini. Karenanya, lembaga pendidikan memberikan kontribusi lahirnya kelas menengah.

Kelas menengah yang memiliki pendidikan ini, menurut Cendikiawan Islam Azyumardi Azra, memiliki daya dorong untuk melakukan perubahan. Hal itu diungkapkan dalam acara  Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah Kantor Jakarta di Aula RSIJ, Senin (30/7),

Azyumardi menjelaskan, walaupun sebenarnya mereka memiliki gaya hidup relatif  tinggi, namun setidaknya mereka telah menggerakan ekonomi. “Sehingga kehebatan ekonomi kita karena tingkat konsumsi masyarakat menengah yang meningkat, sehingga pemerintah tidur pun ekonomi tetap berjalan,” jelasnya.

Ada dakwah yang dibutuhkan oleh kelas menengah ini, yaitu mencari makna Islam yang mendalam. Yaitu model pengajian yang mengkaji hal-hal yang bersifat tasawuf. “Sayangnya Muhammadiyah tidak suka dengan tasawuf ini,” katanya.

Padahal, menurut Azyumardi, masyarakat menengah saat ini memerlukan hal-hal seperti itu, bukan hanya berbicara tentang halal-haram.

Karenanya Muhammadiyah memerlukan model pengembangan dakwah ke arah itu, walaupun kemudian melakukan modernisasi seperti yang dilakukan oleh Hamka.

“Kalau Muhammadiyah tidak menggarap ini, maka masyarakat menengah akan terjebak pada Sudosufism, yaitu tasawuf palsu, bukan tasawuf beneran,” jelasnya.

Muhammadiyah, kata Azyumardi, memang perlu melakukan perubahan model pembaruan sufisme dengan melakukan penyariangan kontennya. “Hilangkan saja hal-hal yang bertentangan dengan Muhammadiyahnya, seperti khurafat, tahayul dan bid’ahnya,” harapnya.

Namun bagaimanapun, jika Muhammadiyah tidak menggarap ini maka kelas menengah kita akan kehilangan arah, padahal mereka memerlukan pencerahan keagamaan. Mereka memiliki pendidikan dan uang yang banyak, mau diapakan mereka maka tergantung materi apa yang mereka terima.

“Karenanya Majelis Tarjih Muhammadiyah harus sudah mulai melirik ini, sebab ini sangat penting untuk digarap oleh Muhammadiyah,” pungkasnya.

Karena pentingnya hal tersebut, “Saya saat  ini merekomendasikan tasawuf model Muhammadiyah. Namanya menurut saya Tasawuf Dahlani,” usulnya.

Redaktur : Heri Ruslan
Sumber : muhammadiyah.or.id
2.846 reads
Apabila seseorang mengafirkan temannya, maka ucapan (yang mengafirkan) itu benar-benar kembali kepada salah seorang di antara keduanya (yang mengatakan atau yang dikatakan). ( HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  bambang kristanto Selasa, 18 Desember 2012, 08:26
ada perbedaan mendasar antara NU dan muhammadiyah. kalau di NU sulit mencari profesor kalau di muhammadiyah sulit mencari Ulama
  aris Kamis, 15 November 2012, 06:18
Setuju...
Sebab spiritualitas lebih mudah diterima di masyarakat Asia.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda