Sunday, 1 Safar 1436 / 23 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Kemenag tak Persoalkan Awal Puasa Berbeda

Friday, 29 June 2012, 12:50 WIB
Komentar : 1
Puasa (ilustrasi)
Puasa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PANGKALPINANG - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Prof. Dr. Hatamar, M.Ag, mengatakan, awal puasa yang berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam bukanlah suatu masalah dalam Islam.

"Awal puasa tidak bersamaan yang ditetapkan oleh pemerintah dan beberapa organisasi Islam bukan masalah karena pada dasarnya Islam adalah agama yang bersifat luwes," kata Prof. Dr. Hatamar, M.Ag di Pangkalpinang, Jumat (29/6).

Hal tersebut dikemukakan Hatamar terkait dengan pernyataan Menteri Agama Suryadharma Ali yang memprediksikan adanya perbedaan penentuan awal puasa di antara beberapa organisasi masyarakat di Indonesia menjelang 1 Ramadhan 1433 Hijriyah.

Hatamar menjelaskan, dasar penetapan awal Ramadhan dalam Islam tidak hanya ditentukan dengan menggunakan satu metode saja.

"Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad memang ada beberapa cara dalam menentukan awal puasa, misalnya dengan cara hisab atau perhitungan secara matematis dan astronomis, ada lagi cara rukyat atau mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali," katanya.

Oleh sebab itu, Hatamar mengatakan, tidak boleh ada sebuah pemaksaan untuk menyeragamkan penentuan awal puasa karena memang metoda yang digunakan untuk perhitungan berbeda. Meski demikian, Hatamar menegaskan, perbedaan tersebut haruslah masih sesuai dengan perhitungan yang benar.

"Akan jadi masalah jika awal puasa ditentukan di luar perhitungan misalnya sesuai perhitungan puasa dilaksanakan hari ini tapi ada yang melaksanakannya dua hari kemudian, itu tidak masuk akal karena tidak mungkin ada selisih durasi 12 jam dalam perhitungan," katanya.

Lebih lanjut, Hatamar menjelaskan, menurut kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan dalam kalender tergantung pada penampakan bulan.

"Oleh karena itu, puasa di Mekkah jatuh lebih dulu dari pada di sini meski kita lebih awal enam jam dari waktu di Mekkah itu karena letak Saudi yang di tengah pusat bumi sehingga bulan selalu tampak lebih dulu di sana," kata dia.

Redaktur : Djibril Muhammad
Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar.((HR Al Hakim))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Menanti Janji Jokowi Soal Perdamaian Palestina
 JAKARTA -- Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengatakan umat muslim di Indonesia bisa ikut mendesak pemerintah agar lebih...