Kamis, 17 Jumadil Akhir 1435 / 17 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pemerintah Respon Positif Gagasan Pusat Pembinaan Mualaf

Rabu, 16 Maret 2011, 17:38 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pemerintah menyambut baik gagasan pembentukan pusat pembinaan mualaf. Sebab, selama ini mualaf sering luput dari perhatian. Padahal, pendampingan dan pembinaan secara intensif mutlak diperlukan. Demikian diungkapkan oleh Direktur Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama (Kemenag) Ahmad Djauhari. “Ketika muallaf mau masuk Islam banyak disambut, kala masuk dibiarkan,”kata dia

Kepada Republika di Jakarta, Rabu (16/3), Djauhari mengatakan keberadaan pusat ini nantinya diharapkan mampu menjadi wadah yang fokus menangani mualaf. Apapun bentuknya kelak, pemerintah akan menfasilitasi lembaga itu dengan segala keterbatasan. Pasalnya, anggaran pembinaan organisasi keagamaan Islam masih belum memadai. Total anggaran pembinaan itu pertahun sekitar 3-4 milyar yang diberikan kepada ratusan ormas.

Namun demikian, ujar Djauhari, belum ada pembahasan lebih intens. Ada beberapa alternatif terkait ini, lembaga itu merupakan lembaga tersendiri yang khusus dibentuk untuk pembinaan muallaf. Opsi lain, memberdayakan lembaga-lembaga pembinaan sudah ada. Tetapi kesemua opsi belum dibahas lebih lanjut. “Prinsipnya secara riill harus ada lembaga khusus,”kata dia

Djauhari mengakui, gagasan ini terlambat muncul karena minimnya komunikasi dan informasi. Karenanya, meskipun terkesan lambat tetapi pada dasarnya pemerintah telah berupaya melakukan pembinaan melalui penyuluh agama baik fungsional yang berjumlah 4000 orang ataupun non fungsional sebanyak 90.000 orang di lingkungan kementerian agama. “Jalur umumnya melalui penyuluh meski terbatas kita berusaha maksimal,”kata dia.

Respon positif muncul dari berbagai kalangan termasuk Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Ahmad Satori Ismail. Menurutnya ide membentuk pusat pembinaan muallaf sangat strategis dan bermanfaat. Sebab, perhatian dai terhadap muallaf dinilai kurang optimal. “Setelah diislamkan dan diberi sertifikat tidak difollow up,”kata dia

Satori menjelaskan pembinaan muallaf dibutuhkan di berbagai aspek. Beberapa hal yang penting diberikan kepada muallaf ialah pengokohan keimanan, keislaman, pembinaan ilmu, dan ketrampilan. Selain itu, tak kalah penting perlu pula dibina dengan program pembauran dan adaptasi bersama umat Islam lainnya. “Agar bisa menempatkan diri dan tidak merasa asing,”papar dia.

Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Krisman Purwoko
Tiada beriman kepadaku orang yang bermalam (tidur) dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu. ((HR. Al Bazzaar))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  eko sukanto Kamis, 31 Maret 2011, 09:00
Alhamdulillah..... semoga segera terwujud. Kami sangat bergembira kalau ini semua terwujud, karena selama ini kami mengawal mu'allaf di wilayah Gunungkidul Yogyakarta, mestinya akan mendapatkan tambahan motivasi. ahad-legi.blogspot.com
  Dimas Selasa, 22 Maret 2011, 17:43
Bagus ada pembinaan selanjutnya. Alangkah sempurnanya jika Pemerintah juga membuka Badan Pembinaan bagi yang baru masuk Kristen, Katholik, Budha dan Hindu.... Salam
  hartono Kamis, 17 Maret 2011, 11:03
islamisasi sekarang pakai wadah negara sepertinya...
damai dan indahnya agama ini...
setiap saat bicara penistaan agama, melaknat orang lain, membom orang lain, menuduh kristenisasi, ckckck...
tidakkah kalian melihat kedamaian dalam islam? damai...