Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

MUI: Fatwa Mubah Rokok Patut Dipertanyakan

Jumat, 25 Februari 2011, 17:36 WIB
Komentar : 0
Rokok
Rokok

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan tidak terdapat opsi mubah (diperbolehkan) dalam hukum merokok. Sebab, mudlarat yang diakibatkan rokok jauh lebih besar ketimbang manfaatnya. Demikian disampaikan oleh Ketua MUI Ma’ruf Amin. ”Fatwa MUI tentang rokok pun menafikan opsi mubah,” kata dia.

Karenanya, kepada Republika di Jakarta, Jumat (25/2), Ma’ruf mengatakan, hasil kajian Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM-NU), yang menyatakan terdapat opsi mubah untuk merokok patut dipertanyakan. Selain berbagai penelitian telah menegaskan bahayanya, fakta pun membuktikan rokok telah membunuh jutaan manusia. “Banyak penelitan telah mengakuinya bahkan telah dinyatakan oleh WHO (World Health Organization, red),”kata dia.

Ma’ruf mengemukakan, fatwa MUI tentang rokok yang pernah dikeluarkan pada tahun 2009 memang terjadi perbedaan (ikhtilah. Ada dua pandangan yang saling berseberangan yaitu kelompok ulama yang mengganggap tidak haram mutlak dan kelompok yang berpandangan hukumnya tidak makruh mutlak. Karenanya permasalahan hukum merokok pun dikategorikan sebagai masalah yang diperdebatkan (mukhtalaf fih).

Tetapi Ma’ruf menegaskan, ulama yang terlibat dalam perumusan fatwa tersebut sepakat bahwasanya hukum merokok haram mutlak bagi tiga kategori yaitu wanita atau ibu hamil sebab bisa membayakan bayinya, anak kecil dan remaja, serta merokok di tempat umum. Terkait ini maka tidak ada pilihan hukum lain dan masyarakat mesti menaatinya.

Namun, kaitannya dengan mukhtalaf fih maka masyarakat mempunyai hak memilih pendapat yang menurutnya kuat. “Meskipun kita mengimbau lebih ashlah meninggalkan rokok karena dampak dan risikonya lebih besar,”tandas dia.

Reporter : Nashih Nashrullah
Redaktur : Krisman Purwoko
Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui.(QS Al-Baqarah: 42)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  hamba allha Jumat, 18 Maret 2011, 11:39
Republika kayanya beritanya menyerang rokok terus? apa dapat dana juga dari perushaan farmasi??
  herdisawahlunto Minggu, 13 Maret 2011, 05:31
Selagi para kyai atao ustad masih ada yang merokok, permasalahan haram, makruh atau mubah atas orang yg merokok mah gak ada habisnya dan sering bertentangan, la ustad atau kiyai nya sendiri suka merokok....
  gunawan Minggu, 27 Februari 2011, 09:51
Kiai, jgn mudah mngharamkan barang halal, bikin gaduh. Jngan mudah menyesatkn, bikin anarki.
  ayla Minggu, 27 Februari 2011, 09:34
Rokok tdk sj bahaya bagi perokok tp org disekitar, wajarlah kl haram. Berbuat kerusakan dg tangan sdri, dampaknya juga ke org lain. Kalau sdh tahu bahaya knp msh merokok?. Buang pikiran ya ambil wudhu, berpikir gak perlu smbil merokok cm buat lalai sj.
  roy Jumat, 25 Februari 2011, 22:43
kalau berfatwa yg bener pak kyai, kalau fatwa kaya gini gimna generasi muda kita kedepan. Astaghfirullah