Sabtu, 1 Muharram 1436 / 25 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Balada Cina Muslim di Indonesia, Minoritas Memeluk Agama Mayoritas

Jumat, 28 Januari 2011, 15:00 WIB
Komentar : 0
Zhuang Wubin
Abang Faisal, warga Muntok Bangka Barat, memperlihatkan silsilah keluarga Cina Muslimnya.
Abang Faisal, warga Muntok Bangka Barat, memperlihatkan silsilah keluarga Cina Muslimnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pengajar Jurusan Indonesia, Beijing Foreign Univeristy, Eddy Prabowo mengatakan terdapat banyak cara bagi komunitas Tionghoa untuk memutuskan menjadi muslim. Sekian banyak cara yang ada hanya menyisakan dua jalan besar yakni sosialiasi dengan umat Islam lain diluar etnis Tionghoa dan pendidikan.

“Harus diakui ada pandangan yang mengatakan Islam dan China merupakan dua kutub yang berlawanan. Tak heran segera muncul pernyataan seperti China kok Muslim, atau Tionghoa
Muslim, memang ada,” kata Eddy.

Yang menarik, lanjut dia, setiap agama sejatinya bebas dipeluk komunitas Tionghoa. Namun ketika pembicaraan mengarah pada Islam dan China memang tidak terlepas dari perlakuan sejarah di masa lalu.

Menurut Eddy, Muslim Tionghoa dalam memperoleh identitas keislamannya boleh dibilang sangat sulit. Selain harus menghadapi pakem kepercayaan keluarga zaman kolonial tentang
pentingnya pernikahan satu etnis, Muslim Tionghoa juga harus berhadapan dengan sterotip di
masyarakat. “China kok Muslim. Padahalnya bisa saja dikatakan China kok Katholik,” imbuhnya.

Belum lagi masalah lain yang harus dihadapi seperti perlukan tradisi nenek moyang ditinggalkan setelah memeluk Islam. Menurur Eddy, perbincangan macam itu sangat banyak terjadi. Perdebatan bahkan berlanjut pada perlu tidaknya seorang Muslim merayakan Imlek. Atau mungkin, boleh tidaknya melakukan sembahyang dupa guna menghormati orang tua. Masalah-masalah seperti ini yang kebanyakan sering dihadapi. “Itulah salah satu fungsi organisasi paguyuban seperti PITI atau yayasan Karim Oei,” katanya.

Yang menarik, kata Eddy, Muslim Tionghoa itu sudah menjadi minoritas tapi memeluk agama
mayoritas yang sayangnya merupakan minoritas di kalangannya sendiri. Namun, kondisi itu bisa saja berubah bila sekolah-sekolah negeri terbuka untuk Komunitas Tionghoa.

Selama ini, Eddy memaparkan masyarakat komunitas Tionghoa lebih suka masuk ke sekolah yang didominasi oleh kalangannya sendiri. Disamping itu, faktor pekerja juga bisa membantu membuat warga Tionghia untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Yang diharapkan masyarakat Indonesia terhadap komunitas Tionghoa atau Muslim Tionghoa adalah menampilkan diri mereka apa adanya,” kata Eddy.

Terakhir, Eddy mengatakan apa yang termaktub dalam karya Wubin sudah menggambarkan
bagaimana komunitas Tionghoa berbaur dengan pribumi dan menjadi Muslim. Tahapan berikutnya
bagaimana kehidupam Muslim Tionghoa yang terkekang aturan ketat dan pemisahan di masa lalu
sehingga menghadirkan stereotip negatif.

Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Stevy Maradona
Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, apakah kami berobat?" Beliau menjawab, "Ya, wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah meletakkan penyakit dan diletakkan pula penyembuhannya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan (pikun)".((HR. Ashabussunnah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Hampir Sama dengan Sistem Pesawat, Pengemudi Truk Ini Bisa 'Selonjoran'
WASHINGTON DC -- Truk biasanya digunakan untuk mengantar barang jarak jauh. Kelelahan selalu menjadi kendala dari pengemudi truk. Akan hal itu Mercedes-Benz menciptakan...