Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 / 23 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ajaran Rasulullah SAW Menyambut Ramadhan

Rabu, 28 Juli 2010, 08:13 WIB
Komentar : 0
Yogi Ardhi/Republika
Ilustrasi
Ilustrasi

Sejak bulan Sya'ban, Rasulullah menganjurkan ummatnya agar mempersiapkan diri menyambut kedatangan 'tamu mulia' bernama Ramadhan dengan memperbanyak ibadah, terutama ibadah shaum sunah. Hal ini sebagai persiapan mental sekaligus fisik untuk menghadapi bulan yang disucikan itu.

Saat-saat menanti Ramadhan, para sahabat tak bedanya seperti calon pengantin yang merindukan hari-hari pernikahannya. Tiada seorangpun di antara kaum Muslimin yang bersedih hati ketika menghadapi Ramadhan. Sebaliknya mereka bersuka cita dan bergembira, menyambutnya dengan penuh antusias dan semangat membara.

Merupakan tradisi di masa Rasulullah, pada saat akhir bulan Sya'ban para sahabat berkumpul di masjid untuk mendengar khutbah penyambutan Ramadhan. Saat itu dimanfaatkan oleh kaum Muslimin untuk saling meminta maaf di antara mereka. Seorang sahabat kepada sahabatnya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang adik kepada kakaknya, dan seterusnya. Mereka ingin memasuki bulan Ramadhan dengan tanpa beban dosa. Mereka ingin berada dalam suasana Ramadhan yang disucikan itu dalam keadaan suci dan bersih.

Kebiasaan Rasulullah dan para sahabatnya ini, perlu dihidupkan lagi tanpa harus mengubah tradisi yang sudah ada dan eksis sampai saat ini. Biarlah Hari Raya Idul Fitri tetap dalam tradisinya, tapi pada akhir bulan Sya'ban perlu ditradisikan hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan Nabi, yaitu dengan memperbanyak silaturrahim, saling meminta maaf, dan bertahniah, selain menyambutnya dengan ceramah yang dikhususkan untuk itu. Tahniah, saling mengucapkan 'selamat' adalah kebiasaan baik yang ditadisikan Rasulullah.

Dianjurkan kepada kaum Muslimin untuk mengunjungi kaum kerabat, terutama orang tua untuk mengucapkan tahniah, memohon maaf, dan meminta nasihat menjelang Ramadhan. Jika jaraknya jauh, bisa ditempuh melalui telepon, surat pos, atau dengan cara-cara lain yang memungkinkan pesan itu sampai ke tujuan. Adalah baik jika kebiasaan itu dikemas secara kreatif, misalnya dengan mengirimkan kartu Ramadhan.

Adapun tentang ceramah yang diselenggarakan khusus untuk menyambut Ramadhan, Rasulullah telah memberikan contohnya. Pada saat itu sangat tepat jika disampaikan tentang segala hal yang berkait langsung dengan Ramadhan. Mulai dari janji-janji Allah terhadap mereka yang bersungguh-sungguh menjalani ibadah Ramadhan, amalan-amalan yang harus dan sunnah dikerjakan selama Ramadhan, sampai tentang tata cara menjalankan seluruh rangkaian ibadah tersebut.

Salah satu penggalan khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan yang menggetarkan itu adalah, "Wahai ummatku, akan datang kepadamu bulan yang mulia, bulan penuh berkah, yang pada malam itu ada malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Itulah malam di mana Tuhan memberi perintah bahwa kewajiban puasa harus dilakukan di siang hari dan Dia menciptakan shalat khusus (tarawih) di malam hari...."

Reporter : Emmy Hamidiyah, Sekretaris Umum Baznas
Redaktur : irf
Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  ryo Selasa, 24 Agustus 2010, 11:59
lho kalau dipikir memang kan iya kan. Ibadah menjadi tidak sah atau bid'ah karena tidak sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Karena hubungannya dengan Allah SWT, jadi harus bener tata cara ibadahnya.
  ryo Selasa, 24 Agustus 2010, 11:59
Kalau asal hukum ibadah mau gimana aja halal, berarti kalau wudu yang penting kena air sah dong? Nggak kan? Coba siapa yang wudunya habis tangan terus kaki, dengan alasan hukum awal ibadah adalah halal?
Jadi kita tidak boleh melakukan bentuk ibadah kepada Allah SWT, kecuali yang sudah dituntunkan Al-Qur'an dan Rasul.
  Ibn Ahmad Selasa, 3 Agustus 2010, 17:06
yang bilang "hukum awal ibadah adalah haram, kecuali ada dalil yang shahih yang mencontohkan atau memerintahkan untuk beribadah." itu siapa??
Quran aja ga bilang gitu... udah berani ngelangkahin Allah ye, ckckck...
kenapa sih ga ngeliat esensi dari ibadah, terlalu berpatok pada KULIT formal ibadah jadi susah deh...
  Ibn Ahmad Selasa, 3 Agustus 2010, 17:06
yang bilang "hukum awal ibadah adalah haram, kecuali ada dalil yang shahih yang mencontohkan atau memerintahkan untuk beribadah." itu siapa??
Quran aja ga bilang gitu... udah berani ngelangkahin Allah ye, ckckck...
kenapa sih ga ngeliat esensi dari ibadah, terlalu berpatok pada KULIT formal ibadah jadi susah deh...
  M Isa Jumat, 30 Juli 2010, 22:20
Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini.