Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Jihad Seorang Muslim Memakmurkan Pedalaman Papua

Minggu, 20 Juni 2010, 02:04 WIB
Komentar : 0
ap
Warga Papua
Warga Papua

REPUBLIKA.CO.ID, NABIRE--Tekadnya bulat dan besar; mencetak 100 sarjana Muslim asal Papua. Demi cita-citanya ini dia dengan modal nekat menemui orang-orang besar, beraudiensi dengan rektor-rektor perguruan tinggi ternama di Indonesia untuk memuluskan jalan bagi anak-anak Muslim Papua agar bisa kuliah di kampus-kampus besar di Pulau Jawa.

Muhammad Yudi (36) berasal dari Nabire, Papua. Dia bungsu dari 13 bersaudara. Perjalanannya ke Pulau Jawa dimulai saat mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi di Semarang. Waktu itu Yudi belum Muslim. Kedekatannya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), membuat Yudi memutuskan mengucap dua kalimat syahadat.

Yudi kemudian berkenalan dengan salah satu tokoh Islam di Jakarta. Dari kedekatan mereka, Yudi akhirnya mendirikan Yayasan Pendidikan Muslim Papua. Melalui yayasan ini, Yudi menjembatani dan mencarikan dana bagi anak-anak Muslim Papua yang Dhuafa agar bisa menuntut ilmu di Pulau Jawa. “Pada dasarnya anak Papua itu sama cerdasnya dengan anak-anak di sini (Jawa). Hanya saja, kesempatan bagi mereka tidak tersedia,” katanya. Salah satu anak binaannya sudah ada yang lulus dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan telah bekerja di Pemda Nabire.

Ketika ditemui baru-baru ini, Yudi sedang sibuk mengurus 5 orang anak yang hendak dia masukkan ke UI dan UNJ. Anak-anak tersebut masih di Papua, dan akan ke Jakarta sebelum ujian masuk. Yudi pun menyediakan rumahnya di Bojonggede, Bogor, Jawa Barat sebagai tempat penampungan. Kelak, setelah anak-anak binaannya lulus, mereka harus kembali ke Papua membangun daerah mereka. “Papua tidak akan bisa maju kecuali dibangun oleh putra asli daerahnya,” ungkapnya.

Setiap tahun, Yudi pulang kampung untuk menjemput 20-30 orang anak Muslim yang yatim dan dhuafa untuk dibawa ke Jakarta. Dia menggunakan kapal laut yang harga tiketnya sekali jalan bisa mencapai Rp 1 juta. Jadi untuk membawa anak-anak itu dari Papua ke Jakarta, Yudi harus mencari dana sekitar Rp 20 jutaan, itu baru untuk transportasi saja.

“Alhamdulillah banyak yang bantu, seperti dari Gontor, Asy-Syafiiyah, Yarsi, dan sejumlah lembaga Islam. Istri saya, Lilin banyak membantu, dan ridho dengan saya, ditambah dengan kehadiran anak saya, Muhammad Radho Ottoki semakin membuat saya semangat,” tuturnya bersemangat. Lilin (31) dan Muhammad Radho Ottoki (2,5) adalah dua orang yang selalu memberi asupan energi buat Yudi.

Sehari-hari, Yudi hidup dari usaha peternakan ayam kampung dan petelur yang jumlahnya sudah hampir 10 ribu ekor. Tapi baru-baru ini usahanya itu bangkrut. “Tapi saya yakin rezeki Allah Maha Luas,” ujarnya. Yudi tidak menolak bantuan dermawan bila ada yang bersimpati pada perjuangannya. Dia yakin bahwa dengan beramal, hidupnya akan baik-baik saja. “Jika saya belum berhasil mencetak 100 orang sarjana asal Papua, saya belum puas. Banyak tawaran untuk naik haji gratis, tapi selalu saya tolak. Saya baru akan berangkat haji setelah anak binaan saya yang lulus sarjana 100 orang,” tandasnya.

Reporter : akhsin
Redaktur : irf
Sumber : dompet dhuafa
Barangsiapa mengobati sedang dia tidak dikenal sebagai ahli pengobatan maka dia bertanggung jawab((HR. Ibnu Majah))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Berlianta Jumat, 12 Agustus 2011, 13:48
Kami siap berjuang bersama, dari Desa terpencil Kota Tambang Kab. Luwu Timur, Malili. Papua
  Agus Selasa, 21 Juni 2011, 14:34
Tetap Semangat Bang Yudi, Allah maha adil dan maha segala.
  Anti Pemurtadan Sabtu, 6 November 2010, 23:44
lagi pula mau kagak lw di daerah basis2 lw, didirikan masjid dan ponpes secara ilegal? ngomong tuh pakai otak bukan pakai pantat, dasar orang gila nan aneh....
  Anti Pemurtadan Sabtu, 6 November 2010, 23:44
blacksuryo>>> dari pada ajaran lw, sudah terbukti nggak bisa memakmurkan papua. dikuasai Kristen selama bertahun-tahun penduduknya masih saja mengenakan koteka dan nggak kenal mandi, dsb. di amerika latin jg begitu, bny yg miskin di sana. Kristen dan Yahudi mmg ideologi penjajahan sejati...
  Qarnita Sabtu, 6 November 2010, 23:44
@ muchlis dan blacksuryo, smeoga kalian mendapat hidayahNya nanti sebelum kalian abadi di neraka, karena menyembah Tuhan yang salah dan mengikuti Nabi palsu seperti Paulus itu, bukan Nabi yg sebenarnya, Muhammad SAW dan Isa AS