Ansor Inginkan Figur Ketua NU Steril Politik
Kamis, 29 Oktober 2009 06:10 WIB
SURABAYA--Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda Ansor, Saifullah Yusuf, menginginkan figur Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dari kalangan yang benar-benar steril dari kepentingan politik. "Jangan sampai NU dipimpin oleh orang yang gemar terlibat dukung-mendukung seseorang di dunia politik," katanya saat ditemui di kantor Pemprov Jatim, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu.
Menurut dia, selama ini figur pucuk pimpinan NU lebih senang dengan urusan politik daripada masalah syariat untuk kemaslahatan umat. "Ketua NU itu harus bisa mengurus umat, ahli memahami kitab kuning, dan mengerti masalah syariat. Bukan sebaliknya, senang berpolitik," kata Wakil Gubernur Jawa Timur itu.
Oleh sebab itu, dia mendorong kalangan intelektual muda untuk tampil dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 pada 25-31 Januari 2010 di Makassar, Sulawesi Selatan. "Semua calon yang ada sekarang ini bagus, baik Gus Sholah (KH Sholahuddin Wahid, pengasuh Ponpes Tebuireng) maupun Pak Said (KH Said Agil Siradj salah satu Ketua PBNU)," katanya.
Saifullah juga tidak menginginkan figur pemimpin NU dari kalangan keluarga pondok pesantren seperti yang selama ini terjadi. "Yang penting, dia mampu menguasai ilmu agama dan punya sikap yang istikamah. Namun dia, juga harus didampingi dewan syura dari kalangan ulama sepuh NU," kata Saifullan yang sudah dua periode memimpin organisasi badan otonomi NU itu. ant/kpo
Menurut dia, selama ini figur pucuk pimpinan NU lebih senang dengan urusan politik daripada masalah syariat untuk kemaslahatan umat. "Ketua NU itu harus bisa mengurus umat, ahli memahami kitab kuning, dan mengerti masalah syariat. Bukan sebaliknya, senang berpolitik," kata Wakil Gubernur Jawa Timur itu.
Oleh sebab itu, dia mendorong kalangan intelektual muda untuk tampil dalam bursa pencalonan Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-32 pada 25-31 Januari 2010 di Makassar, Sulawesi Selatan. "Semua calon yang ada sekarang ini bagus, baik Gus Sholah (KH Sholahuddin Wahid, pengasuh Ponpes Tebuireng) maupun Pak Said (KH Said Agil Siradj salah satu Ketua PBNU)," katanya.
Saifullah juga tidak menginginkan figur pemimpin NU dari kalangan keluarga pondok pesantren seperti yang selama ini terjadi. "Yang penting, dia mampu menguasai ilmu agama dan punya sikap yang istikamah. Namun dia, juga harus didampingi dewan syura dari kalangan ulama sepuh NU," kata Saifullan yang sudah dua periode memimpin organisasi badan otonomi NU itu. ant/kpo
65 reads
Isi Komentar





ingat supaya jangan pilih tokoh NU yang berpolygami karena nanti NU ditinggalkan oleh kaum perempuan NU yang telah berpendidikan umum . Saya lihat ada calon pimpinan NU yang sudah punya koleksi bini sebanyak 7 atau 8 perempuan . Pie to sampeyan ini ?
Balas