Sunday, 1 Safar 1436 / 23 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Ustadz Ihsan Tanjung : Kondisi Kita Mirip Era Makkah

Tuesday, 30 December 2008, 22:54 WIB
Komentar : 0
Secara kuantitas, umat Islam di Indonesia merupakan mayoritas. Namun secara kualitas, kondisinya tak jauh berbeda dengan umat Islam di kota Makkah pada era awal kehadiran Islam: masih terbelakang dalam banyak bidang."Hijrah itu tidak bisa tidak harus kita lakukan. Yang sekarang diperlukan adalah hijrah maknawiyah dalam semua aspek kehidupan," ujar mubaligh ibu kota, Ustadz Ihsan Tandjung. Semua pihak, kata dia, harus bertanya apa yang harus "dihijrahkan" dari dirinya agar menjadi umat yang diridhai. Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, salah satu nara sumber Alquran Selular ini menguraikan tentang makna hijrah:  Apa makna hijrah bagi bangsa Indonesia pada saat sekarang ini, terutama dengan begitu banyaknya musibah dan bencana yang terjadi?
Hijrah kalau kita lihat dari istilah maknanya berpindah dan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang muhajir adalah seseorang yang meninggalkan larangan Allah SWT. Artinya, orang yang berhijrah orang yang meninggalkan satu keadaan di mana dia sedang jauh dari rambu Allah untuk kemudian berpindah kepada keadaan dia mendapatkan ridha dan rahmat Allah. Itu artinya dia tidak lagi merasa tenang untuk hidup bergelimangan larangan-larangan Allah yang dia kerjakan tapi dia menuju kepada perbuatan yang Allah ridhai dan diperintahkan untuk dilakukan. Para ulama mengakatagori hijrah itu menjadi dua. Pertama, hijrah makaniyah atau hijrah teritorial atau geografis, tempat tinggal. Kedua, hijrah maknawiyah, yaitu hijrah secara substansial maknawi. Dalam konteks bangsa kita sekarang bukan hanya di Indonesia tapi di manapun kita tidak ada tuntutan lagi untuk melakukan hijrah makaniyah, secara teritorial geografis. Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Nabi SAW setelah dibebaskan kota Makkah, Nabi bersabda, La hijrata ba'da fathi Makkah walakin jihadun wa niyyatun (setelah dibebaskan kota Makkah sudah tidak ada lagi kewajiban berhijrah yang tinggal adalah kewajiban berjihad dan niat untuk berjihad). Jadi tak perlu lagi hijrah teritorial?
Nah, ulama kemudian mengartikan hijrah yang tidak ada lagi setelah dibebaskannya kota Makkah itu hijrah makaniyah, hijrah secara teritorial. Tetapi hijrah secara maknawiyah terus menjadi tuntutan sepanjang zaman. Apa makna hijrah maknawiyah? Artinya, kita mengupayakan agar semua aspek kehidupan kita beralih dari keadaan yang tadinya jauh dari ridha Allah menjadi yang di ridhai Allah SWT dalam semua aspek. Entah itu aspek ibadah, aspek akidah, akhlak, hubungan pergaulan kita, aspek kehidupan sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, militer, kehidupan berbangsa dan bernegara. Semuanya itu kita coba cek dan ricek apakah sudah di dalam rel yang digariskan oleh Allah SWT atau tidak. Dan itu pulalah yang dilakukan oleh Nabi SAW selaku pemimpin umat mengajak para sahabat berpindah dari Makkah ke Madinah, sebab di Makkah ada beberapa kondisi khas yang menyebabkan munculnya tuntutan hijrah. Apa tuntutan hijrah saat itu?
Pertama, para sahabat atau orang-orang yang beriman di Makkah adalah minoritas, sementara yang mayoritas adalah penyembah berhala. Kalaupun penyembah berhala dibiarkan sebagai orang non-beriman ada pembenarannya karena memang Islam mengajarkan la ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam beragama). Cuma problemanya mereka tidak semata-mata menjadi orang musyrik yang pasif, tapi mereka musyrik yang aktif, jahat, dan dzalim. Kondisi yang kedua karena mereka minoritas sehingga tertindas. Karena mereka tertindas maka mereka kondisi yang ketiga yang mereka hadapi mereka menjadi terbatas ruang geraknya. Mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk menampilkan ajaran Allah SWT secara all out, Mereka dibatasi ruang geraknya. Sehingga dari itu semua pun Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin umat di Makkah pun terbatas peranannya sekedar sebagai moral and spiritual leader pemimpin moral dan spiritual. Maka ketika berhijrah ke Madinah memang tidak instan suasananya langsung berubah total. Tapi, ada proses juga walaupun sudah berhijrah ke Madinah. Tetapi proses itu mengarah kepada pembalikan kondisi. Yang tadinya mereka menjadi minoritas di Makkah, di Madinah orang beriman menjadi mayoritas. Fakta sejarah ini seringkali tidak teramati oleh umat Islam. Sehingga umat Islam kemudian seolah-olah karena mereka jumlahnya mayoritas, lantas muncul anggapan tak perlu lagi hijrah. Justru sekarang beban hijrah kita semakin besar. Secara kuantitas kita memang tidak mirip seperti di Makkah. Tetapi secara substansi kita sebenarnya banyak kemiripan dengan Makkah. Maka ironis sekali, sudah kita mayoritas secara jumlah berbeda ketika di Makkah dahulu tapi secara kualitas kita ini minoritas. Dengan kata lain kita masih tertindas?
Sejujurnya saja kalau kita mau membaca koran sedikit saja untuk mencari informasi, kita akan berkesimpulkan berkata jujur umat sedang tertindas. Secara ekonomi kita benar-benar belum bisa menegakkan ekonomi syariah kita bahkan masih berjuang keras walapun kini bermunculan bank-bank syariah tapi secara regulasi oleh perundang-undangan belum di-back up. Budaya kita sudah diserbu habis. Kita sekarang ini mau tidak mau dipaksa menyaksikan dunia permisifisme, hedonisme, dan materialisme. Bahkan ini dibela saudara-saudara kita sendiri. Kita sebenarnya kondisinya mirip dengan di Makkah, masih tertindas. Majalah porno tetap terbit. Belum lagi bicara hak kita mendapatkan manfaat dari kekayaan alam kita. Kita tertindas sekali. Belum lagi di bidang politik. Memang benar banyak pejabat-pejabat kita Muslim. Tetapi apa benar pejabat-pejabat Muslim itu sudah memiliki ruhul Islam yang benar-benar bisa menyebabkan Allah ridha dan rahmat kepada negeri ini karena hadirnya pemimpin yang benar-benar komit dengan Islam. Agama itu bukan hanya urusan personal. Kalau kita meninjau dari sudut itu saya merasa susah mengatakan kita untuk tidak berhijrah lagi. Kalau kita kaitkan dengan bencana-bencana yang terjadi di negeri ini malah menjadi luar biasa lagi tuntutan tersebut. Ayatnya dalam QS Al-A'raf 96 Walau anna ahlal qura amanuu wattaqau lafatahna alaihim barakatim minassamaa-i wal ardi (seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa niscaya kami akan curahkan dari langit dan bumi keberkahan-keberkahan. Wa lakin kadzdzabu apabila merka mendustakan, fa-akhadznahum bima kanu yaksibun, maka kami siksa, kami azab mereka dikarenakan perbuatan mereka. Penulis : dam
REPUBLIKA - Jumat, 19 Januari 2007       
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.((HR. Ad-Dailami))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Keren, Ada Aplikasi untuk Mengatur Usaha Kecil Anda
NEW YORK -- Baru-baru ini, jaringan kedai kopi Starbucks mengklaim unggul dalam pembayaran lewat aplikasi ponsel dengan 7 juta transaksi seminggu. Tetapi UKM...