Friday, 28 Ramadhan 1435 / 25 July 2014
find us on : 
  Login |  Register

KH Nuril Huda: Ramadhan Momentum Terbaik Menuju Ikhlas

Tuesday, 16 December 2008, 02:02 WIB
Komentar : 0
Semenjak usia belasan, KH Nuril Huda sudah menjadi aktivis NU di Lamongan. Dan sejak itu, dia tidak pernah absen dari dunia politik, sosial maupun dakwah di bawah payung NU. Hingga akhirnya, lelaki kelahiran Lamongan, 17 Agustus 1938 ini dipercaya menjabat selaku ketua Lembaga Dakwah PBNU. Aktivitas jebolan santri Langitan dan juga alumnus fakultas syariah itu di bidang dakwah tidak mengenal lelah. Terlebih setelah umat Muslim menjadi bulan-bulanan dengan dituduh sebagai dalang terorisme, Nuril Huda makin terpacu mengembangkan dakwah Islamiyah. Salah satu yang kerap disampaikan pada tiap kesempatan adalah visi Islam sebenarnya yakni "Islam yang ramah, bukan Islam yang marah." Nah, momentum bulan suci Ramadhan 1425 H hendaknya dijadikan sarana untuk mengembangkan ghirah keislaman yang menuju tatanan rahmatan lil alamin. Ayah dari delapan anak ini menekankan supaya segenap umat memanfaatkan kedatangan Ramadhan sebaik-baiknya. "Perbanyak ibadah, karena pahala ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT," ungkap dia. Akan tetapi lanjut Nuril Huda, yang terpenting adalah bagaimana memaknai keutamaan ibadah Ramadhan untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Oleh karenanya, aktivitas sosial jangan pula ditinggalkan, baik yang dilakukan selama Ramadhan dan bulan-bulan sesudahnya. Berikut refleksi Ramadhan dari KH Nuril Huda : Apa sebenarnya makna yang terkandung dari bulan Ramadhan?
Ramadhan yang ditandai dengan ibadah puasa sebulan penuh, pada hakekatnya adalah ujian bagi naluri manusia yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit dikendalikan itu adalah keinginan untuk makan dan minum. Sedangkan dari segi filosofisnya, ada dua falsafah yang dapat menguasai serta mendominasi kehidupan manusia, yakni materialisme dan spiritualisme. Mereka yang berorientasi pada materi, akan selalu hidup untuk dunianya saja. Kehendak naluri mereka tidak pernah terpuaskan dan ingin terus menambah apa-apa yang sebenarnya sudah dimiliki dengan berbagai macam cara. Orang-orang semacam ini tidak disukai Allah. Sementara itu orientasi spiritualisme adalah sebaliknya. Mereka tidak mementingkan materi dunia melainkan hanya mencari kerahmatan Allah SWT. Namun seperti kita ketahui, agama Islam adalah agama yang seimbang. Ia menghormati rohani dan jasmani, memperhatikan nilai-nilai ideal manusia, tapi juga menjamin kebutuhan hidup naluri duniawinya asalkan sesuai nilai-nilai agama. Apa yang bisa dipetik dari Ramadhan adalah bagaimana umat dapat menyelaraskan kebutuhan di dunia dan akherat. Ibadah diperlukan sebagai bekal menuju kehidupan di alam nanti, sementara amal perbuatan di dunia menjadi perwujudan nyata dari ketaqwaan terhadap Islam. Juga bulan penuh ampunan?
Betul sekali. Ramadhan adalah bulan penuh barokah, rahmat, dan kebahagiaan. Umat perlu merenung sejenak untuk bersiap-siap menyambutnya berikut menelaah kebaikan-kebaikan yang dikandungnya. Allah SWT menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang agung, memberikan keistimewaan yang banyak sekali. Pada bulan ini seorang muslim mencurahkan sebagian besar perhatiaan kepada Allah, akherat dan peningkatan ruhani sebelum peningkatan materi. Ia adalah bulan ruhani, bulan munajat, serta waktu untuk menghadap kepada Allah, memohon pertolongan dari Yang Maha Tinggi. Hendaknya selama Ramadhan, umat memperbanyak bertaubat, memohon ampun dan mengevaluasi kembali lembaran masa lalu. Rasulullah SAW pun senantiasa bertaubat setiap hari di bulan Ramadhan. Oleh karenanya, momentum Ramadhan harus dipergunakan untuk menghapus dosa dan sekaligus membangun komitmen memperbaiki diri di masa mendatang. Tapi masalahnya selama ini, orang hanya bergiat ibadah di bulan Ramadhan, sesudahnya intensitas ibadah cenderung menurun. Apa yang perlu dibenahi dalam rangka membina keimanan dan takwa yang sifatnya permanen?
Yang terpenting adalah membangun rasa keikhlasan yang sebenar-benarnya. Ikhlas untuk memanjatkan doa, beribadah, serta bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saat sekarang, mungkin masih banyak di antara kita yang harus menebalkan kembali keikhlasan ini, terutama karena banyaknya tantangan dan kendala yang kerap ditemui. Saya sepakat agar jangan menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang sifatnya ritual semata. Patut dicamkan, interaksi yang dikehendaki di bulan Ramadhan adalah interaksi dalam ketaatan kepada Allah, tidak sekedar sambil lalu. Maka, hendaklah semua umat menjadikan bulan suci ini untuk meningkatkan amal ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Fenomena yang sama juga ditemui pada tayangan Ramadhan di televisi. Gencarnya program bernuansa religi saat Ramadhan tidaklah seperti halnya di bulan-bulan lain?
Sudah sejak lama kita semua memprihatinkan kualitas tayangan dan program di televisi-televisi. Banyaknya unsur kekerasan, sensualitas, mistis, dan kemewahan amatlah jauh dari nilai-nilai agama dan moral. Walau nantinya akan ada payung hukum, misalnya UU pornografi, namun saya kira itu tidak bakal cukup kuat meredam maraknya tayangan yang dapat merusak akhlak. Kita sudah meminta secara terus menerus agar televisi membatasi diri. Negara ini sudah bangkrut. Oleh karenanya, jangan ditambah lagi dengan upaya-upaya yang dapat menambah kesengsaraan dan kemaksiatan di tengah masyarakat. Masih untung kita diberi umur panjang, sebab jika Allah SWT sudah murka dan menurunkan adzab-Nya yang lebih pedih, wah apa jadinya negara ini. Wajar kita khawatir pada tayangan televisi sebab televisi punya pengaruh yang sangat kuat. Dengan begitu menjadi kewajiban moral bagaimana agar pengelola televisi tidak mementingkan sisi komersial. Saya rasa bulan Ramadhan ini bisa dijadikan langkah memperbaiki segi tayangan dan program, alhadulillah kalau itu bisa berlanjut di bulan selain Ramadhan. Apa-apa saja yang perlu dilaksanakan agar kita siap secara lahir maupun bathin selama bulan Ramadhan nanti?
Pada dasarnya, Ramadhan merupakan kesempatan terbaik umat untuk lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Ibaratnya kita tengah melakukan perjalanan menuju keridhoan Allah SWT. Para ulama kerap menggambarkan hal tersebut sebagai perjalanan yang banyak terdapat ujian dan tentangan. Di situ misalnya, ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Selanjutnya tergantung masing-masing umat, sesuai tekad dan semangat, apakah mampu menguasai tantangan yang menghadang. Bila berhasil, capaiannya yang dapat diketahui adalah orang tersebut mampu mengendalikan hawa nafsunya. Bila sudah sampai pada tahap itu, dia dapat melanjutkan perjalanan untuk meraih ridho Allah SWT. Namun diperlukankan bekal yang cukup agar sampai ke tujuan. Bekal itu berupa amal kebajikan. Selain itu, harus ada tekad yang keras untuk memerangi nafsu tadi, agar setiap malam Ramadhan dapat dimuliakan dengan shalat dan tadarrus serta ibadah lainnya.

REPUBLIKA - Jumat, 01 Oktober 2004        Penulis : yus  
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?((QS Ar Rahman))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar