Jumat, 18 Jumadil Akhir 1435 / 18 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Budi Kairani: Kita Terpanggil Bentengi Akidah

Selasa, 16 Desember 2008, 01:03 WIB
Komentar : 0
Di kalangan komunitas anak jalanan, nama Budi Kairani sudah tidak asing lagi. Dialah salah satu yang menggagas pembentukan Sanggar Warung Udik, tempat bernaungnya puluhan bahkan ratusan anak jalanan. Berkat kegigihannya, anak-anak jalanan tersebut kini kembali punya harapan dalam mengarungi kehidupan ibu kota yang kejam. Totalitasnya guna membina anak jalanan terbentuk seiring nasib yang menuntunnya juga menjadi bagian dari mereka. Budi bertahun-tahun hidup di jalanan, mengamen untuk menyambung hidup. Oleh karenanya Budi yang lahir di Jakarta, 7 Desember 1974 itu tahu betul apa-apa masalah yang dihadapi teman-temannya sesama anak jalanan. "Yang tahu kebutuhan anak jalanan, ya, anak jalanan sendiri," kata dia menyindir pihak-pihak yang kerap memanfaatkan anak jalanan. Gaya bicara pemenang best actor DKI tahun 1998 ini memang 'berapi-api' jika sudah bicara tentang anak jalanan. Budi pernah menimba ilmu agama di ponpes al-Hikmah, Brebes, Jawa Tengah dan lulus tahun 1993. Ilmu yang ditimbanya menjadikan dia mampu membimbing serta menyusun program pembinaan keagamaan bagi anak-anak jalanan di sanggar. Berikut petikan wawancaranya: Kegiatan di Sanggar Warung Udik sangat menarik. Bagaimana Anda mengawalinya?
Itu bermula tahun 1993. Setelah lulus dari Pesantren al-Hikmah, eh saya malah nyangkut di terminal Pulogadung. Sejak itu, saya mulai ngamen keliling untuk menyambung hidup. Ketika itulah saya melihat banyak teman-teman anak jalanan nggak punya ketrampilan apa-apa. Lantas saya ajari mereka main gitar. Mulainya dari satu dua anak, lantas banyak yang gabung. Sampai tahun 1998 saya masih keliling ngamen dari satu terminal ke terminal. Kemudian saya putuskan untuk menetap di Pulogadung dan mencoba mengumpulkan anak-anak lagi. Saya ajak mereka ikut berbagai festival anak jalanan sebab waktu itu pemerintah daerah banyak menyelenggarakan kegiatan festival anak jalanan. Kita pernah menang di tingkat nasional. Lantas pada tanggal 15 Agustus 1999 kami putuskan untuk membentuk komunitas anak jalanan. Kita memikirkan hasil dari mengamen ini akan digunakan sebagai apa. Sebagian hasil dipakai untuk membiayai sekolah teman-teman. Kebetulan pula saat itu, di pinggiran Kali Item, ada bekas lahan pembuangan sampah, nah di situlah pertama kali kita membuat satu saung (gubug) untuk tempat kita berkumpul. Setelah punya tempat tinggal, terpikirlah bahwa anak-anak ini juga membutuhkan pembinaan agama. Oleh sebab itu, kami mulai menyusun jadwal kegiatan agama. Dari shalat berjamaah, tadarusan, hingga membahas kajian agama. Di samping dari kita sendiri, kita juga undang ustadz dan dai sekitar lokasi untuk datang memberikan pengajaran agama. Seperti apa metode pengajaran yang diberikan kepada mereka?
Kita berikan pengetahuan tentang ibadah mulai dari yang tidak terlalu berat antara lain shalat, puasa dan tadarus. Ada misalnya, teman-teman jalanan yang nggak bisa shalat jenazah, ini jadi catatan buat kita. Ya yang seperti itulah. Di sini hebat sekali. Teman-teman ini 'kan kebanyakan Islam, tapi luput dalam hal ibadah. Nggak bisa shalat, nggak pernah puasa apalagi baca Alquran. Mungkin banyak faktor penyebab, dari urusan ekonomi dan lain-lain yang membuat mereka lupa ibadah. Makanya bagi teman-teman yang ingin datang ke sini, syarat utamanya harus mau shalat. Tentu merintis aktivitas seperti itu tidaklah mudah. Apa saja hambatan yang ditemui?
Pernah ada LSM yang kepengen kita jadi binaan mereka. Sebenarnya tidak ada soal, sejauh kita tetap independen. Hanya kemudian, kenyataannya kita justru banyak dieksploitasi dan dimanfaatkan. Segala kegiatan kita dibatasi oleh rekomendasi mereka. Akhirnya kita memutuskan untuk tidak lagi bergabung ke LSM tersebut. Setelah tak lagi menetap di lokasi awal, kita lantas pindah ke tempatnya Andi (wakil pembina Sanggar Warung Udik) yang kebetulan orang sini. Tapi keluarga Andi kurang menerima kehadiran kita. Belum lagi masyarakat yang kerap memandang negatif anak-anak jalanan. Hingga pada saat menghadapi berbagai persoalan, saya pernah menulis tentang lika-liku kehidupan anak jalanan. Dan tulisan itu sampai ke tangan Pak Parni Hadi (wartawan senior). Pas bulan puasa tahun 2000, pak Parni dengan ditemani seorang rohaniwan dan orang dari Dompet Dhuafa datang ke sini mencari saya. Setelah bicara panjang lebar, pak Parni bersedia membantu kami. Saya katakan, kita sangat membutuhkan tempat tinggal. Maka dicarilah rumah di daerah sini, kebetulan rumah yang sekarang kami tempati memang hendak dijual oleh pemiliknya. Jadilah rumah ini dibeli oleh DD dan jadi tempat bernaung. Bila bicara anak jalanan, sebenarnya apa yang dibutuhkan mereka?
Kita pernah mengkonsep hal tersebut. Kita bagi tiga bagian sesuai anatomi tubuh; kampung atas, kampung tengah, dan kampung bawah. Kalau kampung atas adalah segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan dan pembinaan akhlak. Kampung tengah merupakan faktor ekonomi dan urusan perut. Sementara kampung bawah adalah segala kegiatan anak jalanan, impian maupun militansinya. Tiga-tiganya harus berkaitan. Jika kita bedah urusan ekonomi saja, ya, berat tanpa diimbangi pembinaan religi. Buktinya banyak, teman-teman yang sudah punya komunitas tapi nggak punya benteng akidah akhirnya berantakan. Intinya kita nggak mau lepas dari segi religi. Oleh karenanya berbagai kegiatan keagamaan kita selenggarakan. Yang rutin, ya, ngaji bareng, shalat jamaah dan diskusi agama. Ada pula peringatan hari-hari besar keagamaan. Alhamdulillah berkat itu, lama kelamaan warga mau mengakui keberadaan kita. Bahkan banyak orangtua yang minta agar anaknya bisa bergabung mengikuti kegiatan kita. Bagaimana peran tokoh agama setempat pada pembinaan anak jalanan?
Kita tetap silaturahmi dengan tokoh masyarakat dan ustadz setempat. Setiap penyelenggaraan kegiatan peringatan hari besar agama, kita selalu kerjasama. Kegiatan pesantren jalanan juga melibatkan masyarakat sini. Bagaimanapun kita kan juga warga sini juga. Adakah tujuan khusus dari kegiatan pembinaan agama ini?
Dasar pemikiran adalah untuk membentengi akidah dari gerakan pemurtadan. Hal itu patut diwaspdai. Di Ciputat yang kita tahu, tiap hari tertentu ada saja anak jalanan yang dibaptis. Sehingga pada setiap kesempatan saya selalu pesankan pada anak-anak agar waspada kalau ada orang yang tiba-tiba menawari sesuatu. Namun begitu pun setiap saat ada saja yang mengadu, "Bang ada yang ngajak kita makan-makan di Mc Donald, gimana nih Bang?" Kalau sudah begini saya katakan,"Nggak usahlah, kalau mau makan, makan saja di sini nanti kita masakin nasi." Jadilah gerakan kita ya untuk mengerem yang begitu itu dengan membentengi akidah teman-teman.   Selain menggiatkan pembinaan agama, masalah apa lagi yang hendaknya juga diselesaikan?
Sekali lagi, yang mendominasi adalah faktor ekonomi. Inilah kemudian kita menuntut ke pemerintah dan lembaga sosial untuk memperhatikan masalah kita. Dari kita sendiri sebenarnya paham untuk mengatasi hal-hal seperti itu. Program-program pemberdayaan sebaiknya dilempar saja ke anak jalanan sendiri karena mereka yang mengetahui permasalahan dan cara-cara untuk mengatasinya. Jadi berbagai program bantuan ke anak jalanan yang sudah digulirkan sama sekali tidak menyentuh langsung ke pokok masalah?
Selama ini terkesan program bantuan ke anak jalanan hanya bersifat seremonial saja. Buang-buang duit tanpa ada manfaatannya. Mereka tidak memahami kebutuhan anak jalanan. Pernah ada yang bertanya, "Kok kalian sudah dibina oleh DD tapi tetap ngamen di jalan?" Ya kalau kita diam saja, ya nggak jadi dong gerakan jalanan. Kita ini justru harus mengamen terus, kalau mau profesional harus begitu. Pokoknya yang paham tentang anak jalanan, ya anak jalanan, bukan mereka yang tiap hari berdasi dan duduk nyaman di kantor. Makanya kemarin kita berkoalisi dengan sesama teman anak jalanan se-Indonesia dalam kegiatan Jambore dan membentuk Badan Anak Jalanan se- Indonesia (Bajai). Kita kepengen jadi sebuah badan yang legal sehingga dapat menjadi wadah penyaluran aspirasi dan membina hubungan dengan lembaga-lembaga resmi lainnya. Sekarang kita sudah punya jaringan di seluruh Indonesia. Ke depan, kita juga ingin model pembinaan anak jalanan di Warung Udik bisa diterapkan di tempat lain.
Penulis : yus  
REPUBLIKA - Jumat, 24 September 2004
Hati-hatilah terhadap dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)((HR. Bukhari))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar