Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

'Kemiskinan Itu Bisa Diubah'

Selasa, 16 Desember 2008, 00:58 WIB
Komentar : 0
Kemiskinan seperti menjadi karib bangsa ini. Lama bangsa ini terlilit kemiskinan dan belum mampu memecahkannya secara tuntas. Ironisnya, mayoritas masyarakat yang miskin adalah umat Islam yang jumlahnya terbesar di negeri ini.
Menurut Cendekiawan Muslim Dr Tarmizi Taher, untuk mengatasi kemiskinan salah satu hal yang harus dibereskan adalah pola pikir umat. Karena tak jarang umat beranggapan bahwa kemiskinan adalah sebuah takdir dan itu menjadi perlambang tingkat keimanan seseorang.

Untuk mengetahui lebih jauh pandangan mantan menteri agama ini tentang kemiskinan dan apa yang seharusnya menjadi solusi bagi kemiskinan, berikut petikan wawancara wartawan Republika, Ferry Kisihandi dengan Tarmizi Taher, di sela-sela acara seminar Agama dan Kemiskinan, di Jakarta, Senin (13/9). Kemiskinan telah terjadi lama di Indonesia, pergantian pemerintahan selama ini pun belum mampu menyelesaikan masalah ini. Bagaimana pandangan Anda mengenai kondisi ini?
Kemiskinan saya akui memang merupakan masalah yang paling besar bagi bangsa kita. Bahkan, tak jarang kemiskinan ini menimbulkan dampak lain, yaitu terjadinya konflik. Saya amati konflik yang terjadi di sejumlah daerah disebabkan karena adanya kesenjangan antarkelompok masyarakat yang ada di daerah tersebut.

Di sana ada kelompok masyarakat yang memiliki kondisi ekonomi yang baik namun ada pula kelompok yang menghadapi kondisi sebaliknya. Sangat berbahaya jika kemiskinan tersebut dibiarkan. Di sisi lain, umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini adalah bagian dari masyarakat yang dihinggapi kemiskinan tersebut.
Kemiskinan memang perlu mendapatkan perhatian yang serius. Agar tak menimbulkan kesenjangan dan kecemburuan di antara kelompok masyarakat secara berkepanjangan. Karena sebenarnya orang Indonesia tak mau berkelahi satu sama lain.  Dengan kondisi demikian apa yang semestinya dilakukan oleh pemegang kekuasaan di negeri ini?
Saya berharap pemerintahan yang terbentuk nanti akan mengubah sikap mentalnya. Pemerintah kelak diharapkan mampu menetapkan kebijakan yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, terutama mengangkat mereka dari lembah kemiskinan. Jangan sampai pemerintah menetapkan kebijakan yang menguntungkan orang-orang yang sudah makmur.

Kalau pemerintah tak mampu memberantas kemiskinan maka saya khawatir setiap pergantian pemerintahan mereka akan selalu berawal dari nol. Lihatlah bagaimana setelah beberapa orde pemerintahan jatuh maka orde pemerintahan yang baru memulai pemberantasan dari nol kembali. Ini terjadi sejak masa Soekarno hingga sekarang. Oleh karenanya, saya berharap masalah kemiskinan ini akan menjadi titik perhatian pada pemerintahan baru yang akan datang. Dan mau tidak mau mereka memang harus memikirkan hal itu jika ingin tetap bertahan. Kebijakan apa yang harus diterapkan oleh pemerintah yang akan datang?
Pemerintah semestinya menerapkan kebijakan yang memihak kepada masyarakat dan membuat potensi masyarakat dan alam Indonesia dapat termanfaatkan dengan baik. Saya mencontohkan bagaimana potensi alam Indonesia tak tergarap dengan optimal oleh orang Indonesia sendiri karena kebijakan yang kurang baik.

Sebenarnya di sejumlah daerah, misalnya Sulawesi Tenggara yang memiliki komoditi kacang mete akan mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat Indonesia dan mengentaskan mereka dari kemiskinan. Namun, nyatanya komoditi tersebut dikuasai oleh orang lain. Manfaatnya pun tentunya tak dapat dinikmati oleh rakyat Indonesia. Ini juga terjadi di daerah-daerah lainnya.

Orang lain mendapatkan kemudahan dalam mengelola komoditas tersebut namun begitu orang Indonesia akan bergerak mengelola komoditi tersebut malah mereka dikenakan pajak yang tinggi. Akhirnya mereka tak mampu mengembangkan komoditi tersebut dan tak membuat mereka semakin makmur. Bukankah ini hal yang ironis? Selain masalah kebijakan yang tak memihak pada kepentingan masyarakat faktor apa yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di Indonesia?
Menurut saya kemiskinan ini juga terkait dengan korupsi. Korupsi di Indonesia telah jamak dilakukan. Ini telah menjadi penyakit bangsa yang sangat sulit untuk disembuhkan. Padahal keberadaan korupsi menyebabkan orang yang miskin bertambah miskin dan memperkaya orang yang sudah kaya. Korupsi menjadi salah satu hambatan bagi perkembangan ekonomi. Menurut Anda sejauh mana peran agama dalam upaya mengatasi kemiskinan yang telah lama berlangsung ini?
Sebenarnya agama dapat menjadi pemandu dalam mengatasi kemiskinan. Karena dalam ajaran agama, khususnya Islam, umat selalu didorong untuk terhindar dari kemiskinan. Bahkan, dinyatakan bahwa kemiskinan akan menyebabkan kekufuran.
Dengan demikian agama memandang bahwa kemiskinan ini sangat berbahaya dan mendorong umatnya untuk menghindarkan diri dari kemiskinan. Artinya, umat selalu didorong untuk dapat menghidupi dirinya atau kalau bisa menjadi kaya, tujuannya agar mereka dapat memberi santunan bagi orang lain. Namun nyatanya umat beragama, khususnya umat Islam, mengalami kemiskinan pula?
Menurut saya, ini disebabkan oleh pandangan kita selama ini yang menyatakan bahwa kemiskinan adalah wujud dari kesalehan. Kemiskinan juga dipandang sebagai takdir dan umat menerima kemiskinan secara pasif. Padahal kemiskinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Kita mesti berusaha untuk mengubah keadaan dengan bekerja, setelah bekerja baru diserahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Umat Islam harus menyadari hal ini. Mereka pun harus tahu bagaimana cara mengubah keadaan tersebut. Jika tak mau berubah maka umat Islam telah terjebak dalam sikap fatalistik. Ini pandangan yang keliru. Semestinya umat Islam memiliki sikap yang dinamis untuk melakukan perubahan termasuk dalam mengubah kemiskinan ini. Ini kewajiban para dai pula untuk memberikan penyadaran kepada umatnya. Apa yang mesti dilakukan agar umat yang masih dalam pusaran kemiskinan ini dapat terlepas darinya?
Kita memang harus mengajak umat untuk berpikir agar pemahaman yang salah selama ini harus diubah. Mereka juga dapat pula diajak untuk berpikir seimbang. Ia bisa berpikir secara ekonomis dan agama. Saya yakin perubahan mindset ini akan sangat mudah dilakukan. Asal para intektual dan para ulama tak bosan untuk melakukan penyadaran kepada umat untuk mengubah pola pikirnya.

Agar hal ini dapat berjalan dengan lancar,  para dai sebaiknya selain memiliki kemampuan ilmu agama juga ia mampu kemampuan untuk menggerakkan ekonomi. Misalnya, dalam bidang pertanian, perdagangan maupun perikanan. Bukankah Nabi Muhammad juga adalah seorang yang memiliki pemahaman agama yang bagus juga seorang yang piawai dalam menggerakkan roda ekonomi dengan cara berdagang?
Penulis : Ferry Kisihandi  
REPUBLIKA - Jumat, 17 September 2004       
Salah satu di antara kalian tidak beriman sebelum ia mencintai saudaranya (atau beliau bersabda: tetangganya) seperti mencintai diri sendiri. (HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar