Kamis, 24 Jumadil Akhir 1435 / 24 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Dr KH Didin Hafidhuddin: Bush Lebih dari Sekadar Dajal

Rabu, 03 Desember 2008, 05:07 WIB
Komentar : 0
Salah seorang ulama dan cendekiawan Muslim yang paling risau dengan serangan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya ke Irak adalah Dr KH Didin Hafidhuddin. Bukan lantaran jatuhnya Saddam Husein dan rezimnya yang sangat ia ratapi, tapi lebih pada jatuhnya korban ribuan warga sipil, hancurnya bangunan-bangunan bersejarah, serta lenyapnya khasanah peradaban berupa perpustakaan yang menyimpan ribuan buku baik klasik maupun modern.

Ia menyebut serangan AS ke negeri Seribu Satu Malam itu lebih ganas dari apa yang pernah dilakukan tentara Mongolia. Saat itu, pada masa Khalifah Muktasim Billah (berkuasa 1242-1258) dari Dinasti Abbasiyah, tentara Mongol yang dipimpin Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Mereka menghancurkan hampir semua bangunan dan membakar perpustakaan. Konon sungai Eufrat yang membelah Baghdad airnya menjadi hitam terkena polusi abu kertas jutaan buku yang terbakar.

Penghancuran sebuah negeri seperti itu, Kiai Didin menyatakan sebagai tindakan Dajal. ''Mereka yang berusaha menghancurkan Islam dan negeri Muslim tak lain adalah Dajal-Dajal. Mereka bisa perorangan, kelompok atau negara,'' ujarnya. Kerisauan KH Didin yang sangat mendalam terhadap hancurnya negeri Irak itu barangkali bisa dipahami karena ia adalah seorang dai.

Dai, dalam pandangannya, adalah orang yang menyerukan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Dengan begitu, dai adalah orang yang humanis, orang yang peduli pada penderitaan orang lain. Dalam hal ini adalah penderitaan warga Irak. Lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 Oktober 1951, bapak lima anak yang memperoleh gelar S1 dan S3 dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini kini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk dakwah, baik lewat ceramah, mengajar maupun tulisan. ''Jihad itu kan tak mesti harus terjun ke medan perang.

Jihad bisa dengan berdakwah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Itu nilainya sudah setara dengan jihad di medan perang,'' jelas direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Chaldun ini. Selain berdakwah dan mengajar di Istitut Pertanian Bogor (IPB), direktur Sharia and Banking Institute (SEBI) ini juga rajin menulis buku. Antara lain: Islam Aplikatif (2003), Pribadi Qur'ani, Solusi Islam Terhadap Problematika Umat, Panduan Praktis Zakat, Tafsir Al-Hijri, Sakit Menguatkan Iman, dan Fikih Zakat (terjemahan).

Sabtu pekan lalu, Repubila sempat berbincang-bincang dengan pimpinan pesantren mahasiswa dan sarjana Ulul Albaab, Bogor ini di sekitar problematika umat dan fenomena Dajal abad-21. Berikut petikannya:

Kita sering mendengar kata Dajal. Nah menurut Anda, apa sih yang dimaksud dengan Dajal itu?
Dajal itu merupakan simbol atau personifikasi dari semua nilai kemungkaran, kejahatan, asusila dan perilaku-perilaku antiagama dan seterusnya. Dia bisa perseorangan, kelompok, atau bahkan negara atau segala perbuatan kejahatan lintas batas. Nafsu menggapai kenikmatan dan menguasai dunia atau orang dengan segala cara apa pun dilakukan, merupakan tindak-tindak dari sosok Dajal. Itulah sebabnya, kemungkaran atau kejahatan dewasa ini bisa dikatakan sebagai fenomena lahirnya Dajal-Dajal kecil yang bukan tidak mungkin, bila dibiarkan, akan menjadi Dajal-Dajal besar yang berarti, seperti disinyalir beberapa Hadis, hari akhir dari kehidupan dunia ini telah dekat.

Anda yakin Dajal itu ada?
Ya, saya yakin benar Dajal itu memang ada. Secara kasat mata saja, seperti saya ungkapkan tadi, Dajal itu kan amat cerdik, lihai, dan profesional. Ia mengajak orang berbuat maksiat yang dibungkus dengan keindahan, mengajak manusia meraih kebahagiaan, padahal sebenarnya adalah kesengsaraan dan seterusnya. Ini sudah banyak kita saksikan.

Dasarnya apa bila Anda katakan Dajal itu ada?
Dalam Alquran memang tak dijelaskan baik eksplisit maupun implisit. Tapi harap diingat, segala angkara murka, kejahatan, kemaksiatan dan sebagainya jelas dibeberkan dalam Alquran. Yang pasti adalah dalam Hadis Rasulullah, yang dinilai kesahihannya (validitasnya). Misalnya Hadis muttafaq 'alaih (diriwayatkan Bukhari-Muslim -- Red) dari sahabat Huzaifah yang menyebutkan bahwa, ''Suatu saat Dajal itu akan muncul dengan membawa air dan api. Adapun yang terlihat oleh manusia sebagai air, pada hakikatnya adalah api yang membakar, sementara yang terlihat sebagai api oleh manusia itu, hakikatnya adalah air yang sejuk dan tawar.

Barang siapa yang mendapati dia antara kalian, maka hendaknya ia memilih apa yang terlihat sebagai api, karena pada hakikatnya ia adalah air tawar yang baik.'' Dalam Hadis lain, dari Abi Hurairah juga disebutkan, bahwa Nabi SAW suatu ketika mengatakan, ''Sukakah aku jelaskan kepada kalian tentang Dajal yang belum dijelaskan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Sesungguhnya Dajal itu buta sebelah matanya, dan ia sesungguhnya akan membawa manusia ke surga. Maka apa yang ia katakan sebagai surga itu adalah neraka.'' Salah satu doa yang kerap kita ucapkan juga menyatakan hal itu, seperti ''Ya Allah aku berlindung dari fitnah Dajal.''

Bisa dijelaskan makna kontektual dalil-dalil tersebut?
Sah-sah saja kalau ada yang menafsirkan bahwa Dajal itu seperti apa yang digambarkan Hadis tadi, misalnya buta sebelah mata dari segi fisik, dan menyebarkan berbagai fitnah dan lain sebagainya. Tapi, saya berpandangan, bahwa ini lebih sebagai simbol saja. Pertama, buta sebelah matanya, ini semacam gerakan-gerakan zionisme yang antiagama, materialis, menghendaki hanya ada satu pemerintahan di dunia ini dan menghancurkan kekuatan-kekuatan lain seperti dicita-citakan Adam Weasock yang menyatakan, hendaknya terbentuk satu dunia baru yang berdasar satu pemerintahan, satu sistem ekonomi, satu sistem keuangan dan satu kewarganegaraan. Buta sebelah ini juga menjelaskan bahwa ia membutakan diri dari kebenaran Ilahi dan para rasul-Nya.

Ia hanya melihat kebenaran dari sudut pandangnya tanpa melihat kebenaran itu secara universal atau kebenaran dari sutu pandang yang lainnya. Kedua, dalam Hadis itu juga disebutkan pendusta dan pemfitnah. Jadi, Dajal itu mampu melakukan rekayasa dan konspirasi yang amat canggih, menyebarkan paham adu-domba, intimidasi, lalu mengangkat yang satu dan menghancurkan yang lain. Nah, penghancuran Irak itu hemat saya juga gerakan dari kekuatan Dajal. Artinya, dia mengelabui dunia bahwa Irak itu menyimpan dan mengembangkan persenjataan pemusnah massal. Tapi realitanya, sampai Irak hancur tuduhan itu tidak terbukti. Sekarang tuduhan diarahkan ke Suriah.

Menurut saya, itu kan bentuk rekayasa, konspirasi, dan gerakan zionisme yang tak lain adalah gerakan Dajal. Sekarang ini kan zionisme memang menguasai, yang secara permukaan ditampilkan kepemimpinan mereka melalui Presiden AS George Bush, PM Inggris Tony Blair, dan PM Australia John Howard. Dan ketiga, membawa air yang sesungguhnya adalah api. Maknanya, manusia digiring pada kenikmatan, kebahagiaan, padahal sejatinya adalah neraka. Melalui materi, uang misalnya, manusia diiming-imingi kenikmatan, dan pasti siapa pun akan tergiur dengan uang. Padahal uang itulah yang menjerumuskan kepada kesengsaraan dan kehancuran. Juga menawarkan HAM, food, demokratisasi dan sebagainya, padahal itu hanyalah kebohongan saja.

Kalau begitu apa saja ciri-ciri Dajal itu?
Banyak sekali. Yang paling menonjol adalah suka berbohong, memfitnah, mengadu domba, memutarbalikkan fakta, mendorong umat manusia pada kemaksiatan, dan menjerumuskan kehidupan manusia kepada kesengsaraan. Mereka juga menawarkan kebahagiaan dan kenikmatan, padahal di balik tawaran itu sebenarnya ada sesuatu yang amat berbahaya bagi orang atau masyarakat, mengajak pada antiagama, serta kekufuran atau meninggalkan pada ajaran agama untuk meraih kenikmatan sesaat.

Anda bisa mempersonifikasikan siapa yang disebut Dajal sekaramg ini?
Sangat bisa. Apa yang dipertontonkan George Bush dan Tony Blair sekarang ini sudah memenuhi ciri-ciri atau watak Dajal. Sebuah sumber menyebut bahwa Dajal pada keningnya tertulis tulisan 'kafir'. Menurut saya, Bush lebih dari itu. Bahkan dia kan sempat menyebut invasi ke Irak sebagai Perang Salib, meski akhirnya ia mengoreksinya. Itu kan terang-terangan. Karena antiagama, ia dengan segala kekuatan yang dimilikinya menggempur Irak yang tak bersalah, sementara menghiraukan suara dunia. Begitu pula dengan Blair.

Mayoritas rakyatnya sendiri saja menentang, tapi dia nekat. Jadi sangat pantas kedua orang ini disebut sebagai Dajal. Apakah Firaun atau Hitler bisa juga dipersonifikasikan sebagai Dajal?Ya, jelas. Firaun itu musuh nabi dan kebenaran. Saya melihat, Firaun itu intinya kan perilaku kesewenang-wenangan. Kalau di masa kini ya semacam personifikasi dari penguasa yang zalim terhadap rakyatnya sendiri, dan dengan kekuasaannya ia memecah belah kaumnya seperti ditegaskan dalam surat Al-Qashas ayat 4. Selain itu, Firaun juga sosok penguasa yang memutlakkan kekuasaannya sendiri, tidak boleh ada kekuatan lain selain kekuatan yang ia miliki.

Bahkan kekuatan Tuhan pun ia nafikkan dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Demikian pula dengan Hitler. Dia amat sombong, angkuh dan menindas kelompok lain, sementara dia meninggikan sukunya sendiri. Dalam diri Hitler dan Firaun tertanam ciri dan sifat-sifat Dajal. Jadi, Firaun dan Hitler pun juga Dajal.

Lantas, menurut Anda, apa yang harus dilakukan umat Islam untuk mencegah munculnya Dajal-Dajal kecil dan juga besar itu?
Kaum Muslimin sekarang ini harus menemukan kekuatannya sendiri. Kita tidak boleh mengandalkan dan menyerahkan kekuasaan ini pada kekuatan lain. Umat Islam harus meningkatkan kualitas dirinya, baik ekonomi, pendidikan, politik, maupun pemahamannya terhadap agamanya. Ekonomi harus dibangun dari kekuatan umat, tak bisa lagi mengandalkan pada kekuatan asing. Bila umat ini menyadari semua itu, dengan bersusah payah mengatasinya dan siap dalam kondisi 'usr (kesulitan) untuk mendapatkan yusr (kemudahan), insya Allah umat Islam akan terhindar dari perilaku-perilaku Dajal.

Tapi kalau umat Islam itu lemah, apalagi bertengkar satu sama lain, maka amat mudah mereka terkena intervensi dari para Dajal modern. Kasus Irak memberi pelajaran, bahwa kekalahan Irak sebenarnya bukan masalah kalah senjata dan seterusnya. Tapi umat Islam, khususnya di Timur Tengah, itu tak pernah menyadari bahwa Amerika itu sebenarnya tidak pernah bermaksud baik. Kesadaran inilah yang hilang dari kita semua.

Penulis : hery sucipto    
REPUBLIKA - Jumat, 25 April 2003      
'Ketahuilah, sesungguhnya bahwa malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat patung.(HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Tokoh Perubahan 2013, Inspirasi Indonesia
JAKARTA -- Republika menganugerahkan gelar Tokoh Perubahan 2013 kepada beberapa tokoh yang memberi inspirasi pada Indonesia. Untuk tahun ini tokoh yang mendapat gelar...