Friday, 6 Safar 1436 / 28 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Dr Dien Syamsuddin, Tidak Sembarang Orang Boleh Menafsirkan Alquran

Friday, 28 November 2008, 18:38 WIB
Komentar : 0
Bagaimana MUI menyikapi maraknya berbagai aliran keagamaan belakangan ini?
Persoalan-persoalan itu akan kita serahkan kepada Komisi Pengkajian MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk dibahas. Sampai sekarang kita belum melakukannya, karena MUI masih dalam proses konsolidasi setelah terbentuk kepengurusan baru. Memang kita merasakan adanya gejala-gejala seperti itu. Saya kira hal ini tidak terlepas dari dua hal mendasar. Pertama, semua itu merupakan konsekuensi dari kehidupan pada era globalisasi dan era informasi. Kedua, semua itu juga merupakan akibat dari kehidupan modern di mana banyak sekali orang yang mengalami kegersangan rohani atau spiritual. Di tengah proses pencarian kedamaian itulah, acapkali seseorang terdorong untuk mencari jawaban, dan dalam proses itulah seringkali mereka terjebak dengan aliran-aliran atau paham baru yang berbeda dengan main stream umat. Biasanya, aliran baru itu ada kecenderungan tertentu, misalnya lebih condong pada pendekatan-pendekatan seperti filsafat atau pengaruh dari teologi agama lain. Belakangan ini ada pihak-pihak yang menafsirkan ayat-ayat Alquran berdasarkan versinya sendiri. Menurut Anda, bolehkan setiap orang menafsirkan Alquran?
Para ulama sudah sepakat bahwa tidak sembarang orang beleh menafsirkan Alquran. Yang boleh menafsirkan itu, ya hanya mereka yang mempunyai ilmu memadai sebagai alat untuk penafsiran. Tidak boleh semaunya sendiri. Saya kira banyak sekali persyaratannya. Oleh karena itu, sebaiknya kalau soal menafsirkan Alquran itu, ya diserahkan kepada ahlinya saja. Apakah Anda sudah membaca buku-buku Anand Krishna?
Kebetulan belum. Tapi yang jelas ada satu hal yang harus disadari bersama bahwa seharusnya sudah menjadi kewajiban seluruh pemuka agama untuk memberikan penjelasan agar tidak membuat kebingungan umat sehingga umat Islam tidak terjebak dengan paham-paham yang dinilai menyesatkan. Apalagi bertentangan dengan akidah. Terlepas dari itu, sebetulnya Islam itu sendiri juga terbuka untuk munculnya perbedaan pendapat. Tapi, perbedaan itu biasanya hanya pada soal-soal furu'iyah bukan pada masalah-masalah akidah. Sebab, kalau soal akidah sudah tak boleh bertentangan lagi.mms/dokrep/September 2000
Laknat Allah bagi penyuap dan yang menerima suap((HR Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Tahun 2015 MLS Bertabur Bintang
WASHINGTON DC -- Setelah David Beckham bermain di MLS selama tahun hingga 2012, Thierry Henry yang masih bermain hingga saat ini, tahun 2015...