Sabtu, 25 Zulqaidah 1435 / 20 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Terbitkan Kartun Malaikat Pakai 'Tanktop', Konglomerat Ini Digugat

Kamis, 03 Januari 2013, 02:04 WIB
Komentar : 0
laman Islamonline
Naguib Sawiris
Naguib Sawiris

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Seorang konglomerat di Mesir bernama Naguib Sawiris digugat oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) setempat karena telah menerbitkan kartun kontroversial di sebuah koran lokal miliknya, Al-Masry Al-Youm. Aksi Sawiris itu dianggap telah menghina agama Islam dan melecehkan nilai-nilai Islam. 

Konglomerat yang kaya lewat bisnis telekomunikasinya itu menerbitkan kartun Adam dan Hawa. Pada kartun kontroversial itu digambarkan adegan dimana Adam dan Hawa dimarahi oleh malaikat Mesir yang mengenakan 'tank top' lantaran tidak ikut menyumbang suara pada referendum belum lama ini.

Sontak, adegan kartun tersebut menuai protes dari penjuru Mesir. Kritikan pedas ditujukan kepada konglomerat terkaya nomor dua di Mesir itu karena sudah menghina agama Islam. Demikian dilaporkan laman Islamonline pada Kamis (3/1).

Bukan kali ini saja konglomerat yang namanya tercatat di Majalah Forbes itu berulah. Tahun lalu, Sawiris juga melakukan aksi kontroversial lainnya dengan men-tweet gambar Minni Maouse (karakter kartun Disney) yang mengenakan cadar.

Gugatan kepada Sawiris telah diajukan oleh pengacara Salafi, Khaled El-Masry yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pusat Nasional untuk Pertahanan dan Kebebasan (NCDF). Baik Sawiris dan sang kartunis, Doaa El-Adl ditetapkan sebagai terdakwa dalam gugatan itu.

Berbicara kepada harian berbahasa Inggris di Mesir, El-Adl mengatakan bahwa kartun yang ia terbitkan bukan dimaksudkan sebagai serangan terhadap agama Islam. Tapi, untuk mengekspresikan komentar atas sentuhan agama dalam proses politik di Mesir.
 
Sebagaimana diketahui, belum lama ini sekitar sepertiga dari warga Mesir berpartisipasi dalam referendum. Sekitar 60 persen dari warga Mesir memberikan suaranya mendukung konstitusi baru. Sebuah konstitusi yang berlandaskan hukum syariah.

Konstitusi baru ini telah membelah Mesir menjadi dua, bahkan kalangan moderat di negeri Firaun itu khawatir bahwa pemerintah baru akan membatasi ruang gerak warga Mesir. Misalnya, kebebasan pers, pengadilan yang independen dan hak untuk kaum  minoritas dengan penerapan sentralitas hukum Syariah.

El-Adl menambahkan, "Orang-orang ini akan memberitahu Anda, jika Anda memilih ya Anda akan pergi ke surga, tetapi jika Anda memilih tidak maka Anda akan pergi ke neraka."

"Siapa pun yang mencoba untuk menggambar sesuatu dengan janggut akan ditafsirkan melakukan penyerangan terhadap Islam," tambahnya.

Meskipun komentar pedas dan kasar sudah membanjiri akun Facebook-nya, El-Adl tidak mengkritik surat kabar Al-Masry Al-Youm untuk cepat menghapus gambar kartun tersebut dari edisi online-nya. El-Adl justru menantang gugatan tersebut dengan santai.

Karena menurut dia, kritikan ini merupakan tindakan ironis yang menghalangi kebebasan kelompok lain berbicara. "Naguib Sawiris adalah seorang umat Kristen, tapi orang-orang yang bekerja di korannya adalah kalangan Muslim," kata El-Adl.

Redaktur : Citra Listya Rini
Mimpi baik adalah dari Allah, sedangkan mimpi buruk adalah dari setan. Maka seandainya kalian mimpi buruk, meludahlah ke arah kiri dan berlindunglah kepada Allah, karena dengan demikian (mimpi buruk) itu tidak akan memerangkapnya(HR Bukhari)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Gadai SK, Jadi Cerminan Masalah RUU Pilkada?
 MAKASSAR -- Belakangan ini banyak anggota DPRD terpilih yang menggadaikan SK. Terkaiy hal tersebut pakar komunikasi politik Effendi Gazali menilai itu sebuah hal...