Minggu, 1 Safar 1436 / 23 November 2014
find us on : 
  Login |  Register

Tayangan Serial Umar Bin Khattab Sulut Pro Kontra

Selasa, 24 Juli 2012, 12:47 WIB
Komentar : 111
www.onislam.net
Tayangan Serial 'Omar'
Tayangan Serial 'Omar'

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Penayangan serial televisi yang menggambarkan sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar Bin Khattab, memicu protes keras di dunia Arab. Opini yang terbentuk menyatakan penggambaran tentang sahabat itu dilarang.

Kontroversi ini dimulai saat stasiun televisi Arab Saudi 'MBC' menayangkan serial berjudul "Omar". Serial ini boleh dibilang proyek besar dengan melibatkan lebih dari 30 ribu aktor dan tim teknis dari 10 negara berbeda. Serial ini terdiri dari 31 episode.

Meski penggambaran secara visual tidak secara eksplisit disebut dilarang dalam Alquran, para ulama Al-Azhar telah mengeluarkan fatwa bahwa penggambaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya dilarang. Pusat Penelitian Hukum Kerajaan Arab Saudi, Dar Al-Ifta, juga mengeluarkan fatwa serupa.

Di jejaring sosial Facebook, ribuan orang memprotes dan meminta serial itu dihentikan. "Ini memalukan", begitulah tanggapan para pemilik akun.

Sementara, juru bicara MBC mengatakan serial itu telah mendapat dukungan dari beberapa ulama terkemuka. Itu termasuk ulama terkemuka asal Mesir, Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Dipihak lain, sejumlah profesor berpendapat penggambaran sahabat nabi tidak dilarang. Penggambaran itu selalu menjadi kontroversi. ''Namun, hal tersebut terjadi kalau dalam isi serial itu ada hasutan kebencian dan suasana permusuhan atau konflik," ungkap Profesor Hukum Islam Universitas Al-Qassim, Khaled Al-Musleh.

Musleh berpendapat ketimbang memprotes atau melarang penggambaran sahabat nabi, lebih baik membuat ukuran yang disepakati bagaimana sebaiknya penggambaran itu. "Aturan ketat harus diterapkan itu pasti. Dengan demikian, penonton diberikan informasi dan penggambaran yang tepat," kata dia.

Sanaa Hashem, Asossiate Profesor Institute Film Kairo, mengatakan Islam tidak melarang penggambaran selain nabi. "Itu penting guna mendorong terbangunnya dialog terkait tokoh dan cerita sejarah dibaliknya," papar dia.

Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Didi Purwadi
Sumber : www.onislam.net
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Menanti Janji Jokowi Soal Perdamaian Palestina
 JAKARTA -- Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengatakan umat muslim di Indonesia bisa ikut mendesak pemerintah agar lebih...