Selasa , 26 September 2017, 15:00 WIB

Warisan Budaya Palestina Terus Dikembangkan

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
Reuters
Bendera Palestina
Bendera Palestina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Asayel Folklore Troup, rombongan kesenian yang mempertunjukkan budaya Palestina pada malam itu, terbentuk mulai 1995. Mereka berkeliling dunia untuk memperkenalkan budaya Palestina ke berbagai negara di dunia. Kelompok itu sudah mengunjungi 45 negara, mulai dari Amerika Utara, Amerika Latin, Afrika, Eropa, Asia, dan negara-negara Arab.

Donasi yang didapat digunakan untuk membiayai sekolah anak-anak Palestina, menyokong operasional rumah sakit, dan kegiatan sosial lain. "Kami semua relawan," kata Dalia Jadallah, salah satu penari rombongan itu. Hampir semua penari masih berstatus mahasiswa, termasuk dia.

Penampilan kelompok itu terbagi menjadi beberapa babak. Di antaranya,  tarian yang mengisahkan betapa kangen mereka dengan masa-masa sebelum pendudukan Israel. Keberadaan dinding pemisah yang dibangun Israel membuat rakyat Palestina harus kehilangan kenangan akan rumah mereka yang dulu. Sebagian bahkan harus terpisah dari sanak saudara dan kerabat. Rakyat Palestina merindukan masa-masa bebas itu, tapi tidak ada jalan pulang.

Sebagai negara terjajah, perbincangan mengenai budaya, seni, musik, dan sastra rakyat Palestina sering tenggelam dalam derak letupan bedil yang kian serak. Padahal, negara itu memiliki segudang kekayaan budaya. Sejak 1948, Palestina terus dipotong-potong serupa kue.

Tidak hanya tanah, tapi juga identitas. Ribuan orang menjadi migran akibat kekalahan pertama Palestina pada 1948. Banyak orang kehilangan kerabat atau terpisah oleh batas negara. Ketika Tepi Barat dan Jalur Gaza diduduki pada 1967, sekali lagi ribuan warga Palestina menjadi pengungsi.

Mirip struktur sosial rakyat Palestina, budaya Palestina mencakup empat pusat geografis: Tepi Barat, Jalur Gaza, Palestina-Israel, dan kaum diaspora. Warisan budaya Palestina dikembangkan selama puluhan tahun terakhir dengan berbagai cara.

Dalam sistem kekeluargaan yang kuat, rakyat Palestina mengabadikan tradisi dan adat istiadat lewat upacara pernikahan, kerajinan, pakaian, obat-obatan tradisional, dan makanan. Pada saat yang sama, budaya itu mereka gunakan sebagai sarana penguatan identitas dan perlawanan terhadap okupasi Israel.