Senin, 21 Jumadil Akhir 1435 / 21 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Muslim Rohingya, Tantangan Terbesar Aung San Suu Kyi

Rabu, 20 Juni 2012, 11:00 WIB
Komentar : 16
AP Photo
Seorang wanita muslim Rohingya Myanmar berada dalam sebuah perahu bersama bayinya dalam pelariannya ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan antara umat Buddha lokal dan Muslim Rohingya. Muslim Rohingya ini dicegat oleh otoritas perbatasan Bangladesh di T
Seorang wanita muslim Rohingya Myanmar berada dalam sebuah perahu bersama bayinya dalam pelariannya ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan antara umat Buddha lokal dan Muslim Rohingya. Muslim Rohingya ini dicegat oleh otoritas perbatasan Bangladesh di T

REPUBLIKA.CO.ID, -- Bebasnya penerima nobel perdamaian Aung San Suu Kyi dan masuknya Suu Kyi dalam parlemen Myanmar membangkitkan harapan bagi warga Muslim Rohingya yang terus tertindas. Mereka berharap Suu Kyi akan lantang berbicara terhadap hak-hak Muslim Rohingya, sebuah kaum yang disebut PBB sebagai kaum minoritas paling teraniaya di dunia.

Namun apa yang terjadi, Suu Kyi masih menghindari isu tersebut. Seperti yang terjadi kala Suu Kyi berbicara di Jenewa, Senin, kemarin. Suu Kyi terlihat 'main aman' dengan tidak ingin menyinggung rezim Myanmar.

Ditanya berulang tentang nasib Rohingya, ikon demokrasi Myanmar ini justru mengarahkan pembicaraan mengenai latar belakang atau kewarganegaraan Muslim Rohingya. Ia tidak yakin apakah Muslim Rohingya merupakan warga negara Myanmar.

"Ada beberapa dari mereka yang mengatakan bahwa mereka bukan sebenar-benarnya berasal dari Burma, namun mereka baru tiba dari Bangladesh baru-baru ini," kata Suu Kyi. "Di sisi lain Bangladesh mengatakan sebaliknya, mereka mengatakan bahwa para pengungsi bukan asli Bangladesh namun datang dari Burma untuk menghindari konflik," tambahnya.

Sejumlah pengamat menyatakan, enggannya Suu Kyi lantang dalam membela Muslim Rohingya karena ditakutkan jadi serangan balik baginya. Ia takut diasingkan oleh masyarakat Burma yang mayoritas menganut agama Budha.

Akan tetapi, di sisi lain, publik Internasional juga menunggu Suu Kyi untuk segera mengakhiri ketidakadilan yang dilakukan terhadap minoritas malang yang telah tinggal di Burma selama beberapa generasi itu.

Suu Kyi diharapkan dapat maju ke depan mengatasi masalah ini dengan membangun dialog terhadap mereka yang memiliki latar belakang etnis serta agama berbeda, untuk menemukan landasan bersama bagi penyelesaian damai masalah yang kompleks ini.

Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu((QS. An Nisa 4 : 29).)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Iin Komariyah Jumat, 9 November 2012, 05:53
setuju bgt tuch sama ukhti Vida, seharusnya FPI kesana
  aku muslim Kamis, 2 Agustus 2012, 13:28
Saya merasa sangat malu, kita sebagai komunitas terbanyak hanya dengan lapang dada menerima pembantaian tersebut, mana PBB ? Mana serikat muslim dunia ? Miris...
  kasmin Selasa, 31 Juli 2012, 12:04
akankah kita cuman mampu berpanggkuh tangan melihat saudara-saudara kita yang tertindas.
  vida Kamis, 26 Juli 2012, 11:51
sebaiknya kirim aja anggota FPI kesana.. pasti beres
  Warga Asean Selasa, 24 Juli 2012, 22:48
Pecat aja Myanmar dari Asean