Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (2-habis)

Rabu, 13 Juni 2012, 22:32 WIB
Komentar : 10
AP
Dua orang Muslim Uighur di Xinjiang melintas di depan parade militer Cina.
Dua orang Muslim Uighur di Xinjiang melintas di depan parade militer Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, Xinjiang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

Bagi Cina, Xinjiang memang sangat penting secara geopolitik. Sejak dulu, Cina menempatkan Xinjiang sebagai garda pertahanan terdepan dalam menghadapi kemungkinan serangan dari Barat.

Hal tersebut merupakan alasan mengapa Cina sedikit pun tak ingin kehilangan kontrol dan pengaruh atas wilayah ini.

Demi mengontrol Xinjiang, berbagai langkah dilakukan Pemerintah Cina, termasuk membelenggu hak warga Muslim untuk menjalankan ritual dan ajaran agamanya. Sekadar contoh, keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat.

Dalam kurun waktu 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam. Pemerintah juga menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini mencakup larangan shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Pendek kata, menjalankan ibadah secara leluasa masih menjadi barang mahal dan mewah bagi warga Muslim di Xinjiang. Di bidang ketenagakerjaan, orang-orang Muslim juga sering dihambat dari jabatan yang tinggi.

Cengkeraman dan tekanan Pemerintah Cina yang terlampau kuat ditambah dominasi suku Han atas masyarakat lokal membuat hasrat untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat tak pernah surut dari bumi Xinjiang.

Ketimbang menjadi bagian Cina, masyarakat Uighur lebih suka jika Xinjiang menjadi negara sendiri atau bergabung dengan Kirgistan, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Xinjiang.


Reporter : Prima Restri Ludfiani
Redaktur : Chairul Akhmad
Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya.((HR. Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  yadong Rabu, 20 Juni 2012, 20:26
Ya begitulah
  kuku Rabu, 20 Juni 2012, 11:04
mana FPI PERJUANGAN FPI ...................................jng cuma jago kandang
  Hu Xin Nha Jumat, 15 Juni 2012, 14:09
Semoga Muslin Xinjiang di kuatkan imannya.
  Abdul Rahman Jumat, 15 Juni 2012, 07:48
Muslim Xinjiang, muslim Rohingya, muslim Filipina dll nasibnya sama...mana "pahlawan" HAM (AS dan sekutunya?)?
  HANSON,S.Pd Jumat, 15 Juni 2012, 06:26
kemana HAM, kok diam saja bukankah pelenggaran berat????,