Rabu, 16 Jumadil Akhir 1435 / 16 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (1)

Rabu, 13 Juni 2012, 21:12 WIB
Komentar : 6
AP
Bocah Uighur saat membantu ayahnya berjualan kopiah di Kota Urumqi, Xinjiang.
Bocah Uighur saat membantu ayahnya berjualan kopiah di Kota Urumqi, Xinjiang.

REPUBLIKA.CO.ID, Bicara Islam di Cina, maka harus menyertakan Xinjiang di dalamnya. Mengapa? Ya, karena Xinjiang adalah rumah bagi setidaknya sepertiga Muslim di Cina.

Dari total 25 juta Muslim di Negeri Tirai Bambu, sebanyak 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Xinjiang adalah sebuah daerah otonomi— bukan provinsi—di Cina. Nama lengkapnya adalah Daerah Otonomi Uighur Xinjiang. Wilayah ini berbatasan dengan Daerah Otonomi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di tenggara.

Xinjiang juga berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur, Rusia di utara, serta Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Kashmir di barat. Xinjiang juga mencakup sebagian besar wilayah Aksai Chin, yang diklaim India sebagai bagian dari Negara Bagian Jammu dan Kashmir.

Secara harfiah, Xinjiang bermakna “perbatasan baru” atau “daerah baru”, sebuah nama yang diberikan semasa Dinasti Qing Manchu. Bagi para pendukung kemerdekaan Xinjiang, nama ini terasa sinis dan menyakitkan hati, sebab mereka sejatinya lebih menyukai nama lokal yang bersejarah atau yang berkaitan dengan gerakan kemerdekaan, seperti Turkestan Cina, Turkestan Timur, atau Uighuristan.

Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur (45,21 persen) dan suku Kazakh (6,74 persen). Selain itu, di Xinjiang juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.

Menurut sensus tahun 2000, jumlah suku Han di Xinjiang mencapai 40,58 persen. Ini adalah peningkatan jumlah yang sangat drastis dibandingkan pada 1949 saat berdirinya Republik Rakyat Cina. Kala itu, belum banyak suku Han yang hidup di Xinjiang, hanya sekitar enam persen.

Meski dalam hal jumlah Muslim Uighur masih merupakan mayoritas di Xinjiang, tetapi hari demi hari mereka kian terpinggirkan. Istilah ‘daerah otonomi’ yang ditetapkan Pemerintah Cina cuma sekadar nama. Agama dan budaya mereka ditekan habis-habisan oleh Pemerintah Cina.

Sementara, dalam bidang ekonomi, orang-orang dari suku Hanlah yang berkuasa. Di “tanah air” suku Uighur ini, orang-orang Han menguasai ladang-ladang minyak dan jalur-jalur perdagangan. Sementara, warga setempat yang beragama Islam cenderung terpinggirkan laksana orang Indian di Amerika.



Reporter : Prima Restri Ludfiani
Redaktur : Chairul Akhmad
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah [2[:82)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Murtadin Jumat, 13 Juli 2012, 20:16
Kemajuan suku bangsa tidak ada hubungannya dengan agama dan surga akan tetapi tergantung pada integritas dari suku bangsa itu sendiri
  abu fadhil Rabu, 20 Juni 2012, 11:50
islam minoritas ditindas, tapi cina minoritas di negeri ini jadi raja, semoga umat segera kembali ke masa kejayaannya dengan sungguh beragama
  fajar Rabu, 20 Juni 2012, 11:15
Islam akan berjaya berkembang di negara Kapitalis, komunis, sosialis
tanpa perang pd suatu saat karna Allah melindungi agamanya.
  awang thea Kamis, 14 Juni 2012, 17:23
semakin yakin jika muslim agama yang bnar akan masuk surga,syurga sangat mahal,maka dgn ancaman ini adalah cobaan muslim untuk masuk surga,dmi allah agama muslim yang bnar,agama lain adalah bathill.
  suhairi Kamis, 14 Juni 2012, 15:08
Begitulah nasip umat Muslim apabila mereka sebagai minoritas.Sayangnya dunia kurang memberi respon pada nasip mereka.Tragis memang,untuk itu sebagai sesama muslim,marilah kita memikirkan dan mencari jalan keluar dari semua permasalahan umat Muslim di Indonesia khususnya dan di Dunia pada umumnya.