Tuesday, 6 Zulhijjah 1435 / 30 September 2014
find us on : 
  Login |  Register

Satukan Awal Ramadhan, Konferensi Ulama Astronomi Terbesar Digelar di Makkah

Wednesday, 15 February 2012, 15:42 WIB
Komentar : 0
Sistem penghitungan pada kalender hijriyah menggunakan perputaran bulan. (ilustrasi)
Sistem penghitungan pada kalender hijriyah menggunakan perputaran bulan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH - Sebuah konferensi astronomi Islam terbesar digelar di Makkah, Arab Saudi. Konferensi yang mengikut sertakan para ulama ahli astronomi dari negara-negara Islam ini bertemu, menyerukan pembentukan Komite Ulama Astronomi Dunia. Komite ini nantinya memiliki kewenangan untuk menyatukan awal bulan bulan pada negara-negara Muslim.

Komite ini akan berbasis di Liga Dunia Muslim (MWL) di Makkah, akan mempelajari semua pekerjaan penelitian sejauh ini. Konferensi ini, diselenggarakan oleh Akademi Fikih Islam berbagai mazhab, afiliasi dari MWL. Konferensi menekankan pentingnya menyatukan persamaan bulan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul Hijjah.

Ulama dan Ilmuwan Inggris ikut ambil bagian dalam menyampaikan jurispruden ilmu astronomi. Mufti Agung Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Al-Asheikh menekankan pentingnya penentuan awal bulan Hijriah berdasarkan penampakan bulan. 

"Islam telah menentukan bahwa awal dan akhir dari puasa tergantung pada penampakan bulan sabit dan tidak ada perbedaan pendapat tentang ini," katanya yang dilansir arabnews, Rabu (15/2).

Namun, konferensi ulama Astronomi ini tidak berkeberatan untuk memanfaatkan sarana teknologi modern untuk melihat bulan. Ini untuk membantu apabila polusi udara dan kondisi langit telah menyulitkan untuk melihat bulan dengan mata telanjang. Selain itu, komite akan mempertimbangkan Makkah sebagai pusat untuk observasi astronomi dan mengeluarkan kalender Hijriah bersatu bagi umat Islam sedunia.

Para peserta konferensi mengatakan keterangan saksi tidak dapat diterima jika tidak mungkin untuk melihat bulan atas dasar fakta-fakta ilmiah kategoris. Mereka juga sepakat bahwa minoritas Muslim yang tinggal di suatu negara harus mulai atau berhenti puasa selama Ramadhan jika bulan itu terlihat di mana saja di negara ini.

"Jika minoritas Muslim di negara non-Muslim tidak bisa melihat bulan baru untuk alasan apapun mereka harus mengikuti negara muslim terdekat atau kelompok minoritas Muslim," dalam rilis konferensi yang dilansir arabnews.

Konferensi ini mendesak para astronom Muslim untuk memberikan informasi yang benar berkaitan dengan penampakan bulan kepada instansi yang berwenang di suatu negara. Hal ini juga mendesak masyarakat untuk tidak meragukan penampakan bulan setelah disetujui oleh otoritas pemerintah setempat.

Reporter : Amri Amrullah
Redaktur : Ramdhan Muhaimin
Sumber : arabnews
Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.(HR Muslim)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Wow, Pabrik di Tuban Pekerjakan Robot
 TUBAN -- Guna mendapatkan hasil masksimal, PT. Semen Gresik (Persero) Tbk di Tuban menggunakan jasa robot. Robot tersebut digunakan untuk melakukan sampling, persiapan dan...