Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Satukan Awal Ramadhan, Konferensi Ulama Astronomi Terbesar Digelar di Makkah

Rabu, 15 Februari 2012, 15:42 WIB
Komentar : 0
Sistem penghitungan pada kalender hijriyah menggunakan perputaran bulan. (ilustrasi)
Sistem penghitungan pada kalender hijriyah menggunakan perputaran bulan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH - Sebuah konferensi astronomi Islam terbesar digelar di Makkah, Arab Saudi. Konferensi yang mengikut sertakan para ulama ahli astronomi dari negara-negara Islam ini bertemu, menyerukan pembentukan Komite Ulama Astronomi Dunia. Komite ini nantinya memiliki kewenangan untuk menyatukan awal bulan bulan pada negara-negara Muslim.

Komite ini akan berbasis di Liga Dunia Muslim (MWL) di Makkah, akan mempelajari semua pekerjaan penelitian sejauh ini. Konferensi ini, diselenggarakan oleh Akademi Fikih Islam berbagai mazhab, afiliasi dari MWL. Konferensi menekankan pentingnya menyatukan persamaan bulan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Dzul Hijjah.

Ulama dan Ilmuwan Inggris ikut ambil bagian dalam menyampaikan jurispruden ilmu astronomi. Mufti Agung Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Al-Asheikh menekankan pentingnya penentuan awal bulan Hijriah berdasarkan penampakan bulan. 

"Islam telah menentukan bahwa awal dan akhir dari puasa tergantung pada penampakan bulan sabit dan tidak ada perbedaan pendapat tentang ini," katanya yang dilansir arabnews, Rabu (15/2).

Namun, konferensi ulama Astronomi ini tidak berkeberatan untuk memanfaatkan sarana teknologi modern untuk melihat bulan. Ini untuk membantu apabila polusi udara dan kondisi langit telah menyulitkan untuk melihat bulan dengan mata telanjang. Selain itu, komite akan mempertimbangkan Makkah sebagai pusat untuk observasi astronomi dan mengeluarkan kalender Hijriah bersatu bagi umat Islam sedunia.

Para peserta konferensi mengatakan keterangan saksi tidak dapat diterima jika tidak mungkin untuk melihat bulan atas dasar fakta-fakta ilmiah kategoris. Mereka juga sepakat bahwa minoritas Muslim yang tinggal di suatu negara harus mulai atau berhenti puasa selama Ramadhan jika bulan itu terlihat di mana saja di negara ini.

"Jika minoritas Muslim di negara non-Muslim tidak bisa melihat bulan baru untuk alasan apapun mereka harus mengikuti negara muslim terdekat atau kelompok minoritas Muslim," dalam rilis konferensi yang dilansir arabnews.

Konferensi ini mendesak para astronom Muslim untuk memberikan informasi yang benar berkaitan dengan penampakan bulan kepada instansi yang berwenang di suatu negara. Hal ini juga mendesak masyarakat untuk tidak meragukan penampakan bulan setelah disetujui oleh otoritas pemerintah setempat.

Reporter : Amri Amrullah
Redaktur : Ramdhan Muhaimin
Sumber : arabnews
Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:107))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Iman Rabu, 6 Juni 2012, 16:25
Bagus... dengan ini Islam sedikit demi sedikit bersatu....
  muda Rabu, 15 Februari 2012, 20:47
semoga ummat islam bersatu. Namun lebih dari itu semoga ummat islam di Indonesia mau bersatu dengan ummat islam se-Dunia. karena biasanya orang Indonesialah yang memisahkan diri dari fatwa2 yg telah di tetapkan oleh majelis ulama-ulama di dunia. sebut saja Ahmadiah, Rokok, penetapan 1 syawal dll.
  Abdullah Rabu, 15 Februari 2012, 20:25
Alhamdulillah...smg ini merupakan awal dari persatuan dan kebangkitan Islam..Mari kita rebut kembali kejayaan ISLAM disemua bidang...
  dianqoemis Rabu, 15 Februari 2012, 19:06
Alhamdulillah....
  Eddy Hartono Rabu, 15 Februari 2012, 16:17
Semoga dengan ini umat Islam bersatu.
Dan semoga juga semua ormas di Indonesia
tidak lagi berselisih soal awal Ramadhan.
Kompak itu indah.

  VIDEO TERBARU
Konsep SPBU ini Jadi Tren di AS
WASHINGTON -- Bayangkan, mengisi bensin sekaligus menikmati hidangan lezat yang dimasak langsung? Konsep yang sedang tren di Amerika ini memungkinkan warga memaksimalkan waktu...