Kamis, 29 Zulhijjah 1435 / 23 Oktober 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pemahaman Ajaran Islam Kunci Penyelesaian Konflik Pattani

Rabu, 07 Desember 2011, 15:41 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, PATTANI – Penyelesaian konflik Pattani dapat diselesaikan dengan pemahaman terhadap ajaran Islam di kalangan Muslim. Sebab, uang ataupun senjata tidak akan menyelesaikan konflik.

"Kami tidak menginginkan Muslim Pattani berada di pihak pemerintah atau negara, kami hanya ingin mereka benar-benar memahami agamanya," ungkap Direktur Pusat Perdamaian Pattani, Kolonel Chatchapon Sawangchote, seperti dikutip csmonitor.com, Rabu (7/12).

Kolonel Sawangchoten yang seorang mualaf mengatakan telah meminta bantuan organisasi Jamaah Tabligh, sebuah gerakan Islam global yang berkembang pesat di Thailand. Menurutnya, bantuan organisasi yang dipimpin Imam Yeemae Pattalung itu dapat membantu penyelesaian konflik Thailand selatan mencapai titik terang.

Menurut Pattalung, penyelesaian konflik Thailand Selatan harus dimulai dengan meluruskan kesalahpahaman yang terakumulasi secara sistematis dalam waktu yang lama. "Kita tidak bisa memecahkan masalah dengan cara instan seperti uang atau senjata," katanya.

Keduanya sepakat, kelompok militan Pattani telah mendistorsikan ajaran Islam untuk kepentingan kelompoknya. Mereka menggunakan "Keyakinan Jihad" untuk membenarkan apa yang menjadi agenda kelompok tersebut. "Apa yang terjadi di Thailand selatan bukanlah perang jihad," kata Pattalung.

Sawangchote mengakui persoalan Thailand Selatan bukanlah semata-mata soal agama. Ada persoalan lain yang luput dari perhatian. Salah satunya keberadaan militer. "Tidak ada tanda-tanda pos pemeriksaan ditiadakan," katanya.

Meski demikian, keduanya optimis perdamaian di Thailand akan terwujud. Namun, membutuhkan proses panjang. "Perdamaian itu seperti koin, kadang berubah posisinya dengan cepat," kata Pattalung.

Namun, ada kekhawatiran dari berbagai pihak soal kinerja proyek perdamaian di Pattani. Kekhwatiran itu bermula dari ada dugaan penyusupan kelompok militan dalam organisasi beranggotakan 4.000 relawan tersebut.

Jurnalis dan analis keamanan yang berbasis di Yala membantah dugaan itu. Sebab, konflik Thailand Selatan bukanlah Afghanistan atau Pakistan. "Madrasah di kawasan Pattani tidak melahirkan generasi militan atau ekstrimis," kata dia.


Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Chairul Akhmad
Buta yang paling buruk ialah buta hati.((HR. Asysyihaab))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Zulkifli Hasan: Halal Itu Budaya Indonesia
JAKARTA -- Predikat negara dengan penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, membuat produk halal menjadi sesuatu yang penting di Indonesia. Bahkan Ketua MPR...