Minggu, 20 Jumadil Akhir 1435 / 20 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Pembangunan Kota Makkah Cenderung Kebarat-Baratan

Rabu, 09 November 2011, 19:55 WIB
Komentar : 0
Republika/Siwi Tri Puji
Salah satu sudut kota Makkah.
Salah satu sudut kota Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID,  MAKKAH – Kota Suci Makkah telah berevolusi secara drastis dalam beberapa dekade terakhir. Yang membuat khawatir, Masjidil Haram bakal tenggelam dalam mewahnya pencakar langit yang bertebaran di Makkah.
 
Namun, Walikota Makkah membantah pembangunan yang kian pesat tanpa perhitungan. Sebaliknya, otoritas Makkah mempertimbangkan lebar jalan dan lokasi sehingga tidak sembarang gedung pencakar langit dapat dibangun.
 
"Proyek masa depan akan jauh dari Masjidil Haram, sekitar 300 meter. Bangunan sendiri akan memiliki ketinggian wajar antara 8 hingga 10 lantai," ungkap Walikota  Makkah, Osama Al-Bar, seperti dikutip Reuters, Rabu (9/11).
 
Dalam enam tahun, lanjut dia, otoritas Makkah berharap infrastruktur kota Makkah akan bertambah sehingga mempermudah umat Islam dari seluruh duni menuju Masjidil Haram. "Kami akan membuat jalan, pedestrian, jembatan dan jalur untuk MRT," paparnya.
 
Al-Bar juga memastikan proyek jangka panjang di sekitar masjid akan meliputi hotel, mal dan kafe. Pembangunan wilayah pinggiran kota, termasuk perumahan dan taman bagi warga, telah diselesaikan.
 
"Makkah dikenal sebagai sebuah kota tua, memiliki beberapa bangunan tua yang tidak tertata rapi. Proyek pembangunan akan mengubah dan meningkatkan kapasitas dan layanan kota Makkah," kata Bar.
 
Pada tahun 2020, lanjut Al-Bar, penduduk Makkah dan para jamaah haji bakal melihat dampak dari pembangunan.
 
Meski bermaksud menata ulang tata ruang kota, sejumlah pihak melihat pembangunan itu meniadakan keaslian kota Makkah. Yang terjadi, nuansa kota ala peradaban barat lebih menonjol ketimbang kekhasan kota Makkah.
 
Sebagai contoh, Menara jam Raja Abdulaziz. Bangunan ini dimaksudkan untuk menjadi patokan waktu dunia Islam. Namun, arsitekturnya tidak mencerminkan selayaknya peradaban Islam. Bahkan ada kecenderungan pembangunan ini lebih bernuansa kebarat-baratan.
 
"Apa yang tidak menyenangkan adalah desain luar tidak mengikuti tradisional Arab. Bangunan ini tampak seperti bangunan di Australia, tidak memberikan nuansa Arab dan Makkah," kata Wafa Abbet, jamaah haji asal Australia.
 

 
 
 


Reporter : Agung Sasongko
Redaktur : Chairul Akhmad
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu(QS.Al-Baqarah:45)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  wildeni Caniago Selasa, 13 November 2012, 16:31
hotel hilton di Makkah seakan-akan mencibirkan Ka,bah, cobalah perhatikan dgn teliti.
  anjat maulana Minggu, 13 November 2011, 14:15
dampak gdung"tinggi akibatnya kota mekah jadi panas...
  sansan Minggu, 13 November 2011, 12:17
Kalau hanya bangunan yang meniru gaya Barat sih ngga masalah, yang penting tidak melanggar kaidah2 keislaman.
(misal WC tidak menghadap kiblat,dll)

Dan yang paling penting adalah pengisii bangunan tadi harus menjalankan kaidah2 keislaman.
  H RENO GOZALI Sabtu, 12 November 2011, 17:45
ya ya yaaaa kemewahan cepat atau lambat tumbuh disekitar Masjidil Haram yang halamannya sempit tidak bisa lagi menampung jama'ah. untuk shalat saja kita bukan hanya berdesak desakan dengan sesama jama'ah, tapi juga dengan pertokooan dan hotel
  teja Jumat, 11 November 2011, 09:26
ya pasti kebarat-baratan lah, karena kalau pake bangunan gaya tradisional arab atau islam nanti dinilai bid'ah dan harus dihancurkan