Selasa, 12 April 2011, 18:12 WIB

Ikhwanul Muslimin: Larangan Cadar Prancis, Perang terhadap Muslim

Red: Djibril Muhammad
AP
Para perempuan bercadar di London Inggris memprotes larangan burqa di Prancis, Senin (11/4).
Para perempuan bercadar di London Inggris memprotes larangan burqa di Prancis, Senin (11/4).

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN, JORDAN - Ketuaa Ikhwanul Muslimin Yordania, Hammam Saeed menilai pelarangan pemakaian cadar yang berlaku mulai Senin kemarin di Prancis merupakan perang terhadap Muslim. Ia mengklaim pelarangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap kebebasan sipil di Perancis.

Selain itu ia juga menggarisbawahi kebijakan tersebut sebafai sebuah "perilaku tentara salib baru" terhadap Muslim. Saeed mengatakan hal itu dalam pernyataannya Selasa (12/4) yang oleh disebutkan sebagai "tanda dimulainya perang yang berbahaya" antara budaya.

Jaringan politik Ikhwanul Muslimin, yang merupakan Front Aksi Islam, kelompok oposisi terbesar di Yordania. Ikhwanul Muslimin mendukung diterapkannya hukum Syariat Islam yang ketat di negaranya.

Yordania merupakan sekutu AS dan kunci di Timur Tengah dengan Mesir, yang satu-satunya negara di kawasan dengan perjanjian perdamaian dengan Israel. Seperti diketahui, pada Senin kemarin secara resmi Pemerintah Prancis melarang penggunaan cadar bagi para muslimah. Sontak, pelarangan tersebut menimbulkan reaksi muslim setempat.

Sumber : AP/kyivpost.com