Senin , 11 October 2010, 21:13 WIB

Muslim Islandia Tolak Pembangunan Masjid yang Didanai Asing

Rep: Islamtoday/ Red: Budi Raharjo
Kota Reykjavik, ilustrasi
Kota Reykjavik, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,REYKJAVIK--Masyarakat Muslim di Islandia menolak rencana pembangunan sebuah masjid yang disponsori oleh seorang asing yang kaya raya. Mereka khawatir masjid itu kelak akan digunakan untuk mengembangkan ajaran Islam garis keras dan tak mampu beradaptasi dengan budaya setempat.

Investor asing yang tak disebutkan namanya itu telah membeli sebuah rumah di Ibukota Islandia, Reykjavik, dan berniat mengubahnya menjadi sebuah masjid dan pusat komunitas Muslim. Asosiasi Muslim Islandia mengungkapkan pihaknya tak ada kaitannya dengan investor tersebut dan telah melaporkan kepada polisi karena khawatir pembangunan masjid itu akan digunakan untuk kelompok Islam garis keras untuk mendapatkan pijakan di negara tersebut.

Ketua Asosiasi Muslim Islandia, Salmann Tamimi, mengungkapkan umat Islam setempat memang telah menunggu bertahun-tahun agar diberikan tanah hibah dari pemerintah Kota Reykjavik untuk dibangun menjadi sebuah masjid. Namun, dia melanjutkan, pembangunan masjid yang dibiayai orang asing itu bukanlah solusinya.

Belajar dari pengalaman di negara lain, dia menganggap, adalah sikap bijaksana untuk menolak bantuan dana asing untuk kegiatan keagamaan. Pasalnya dikhawatirkan, pemberi bantuan itu akan memasukkan pula tradisi dari negara asalnya yang belum tentu bisa beradaptasi denagn tradisi di Islandia.

Pada 2000, Asosiasi Muslim Islandia coba membangun sebuah masjid di Reykjavik. Namun, pemerintah kota setempat belum menyetujui secara penuh rencana tersebut meskipun pemerintah telah memberikan tanah seluas 1.500 meter persegi atau kurang dari setengah tanah yang diminta Asosiasi.

Permintaan tambahan lahan itu ternyata harus disertai izin dari gereja Ortodoks Rusia dan pemerintah kota mensyarakat agar lahan itu harus berdekatan dengan fasilitas awal. Di Islandia diperkirakan terdapat sekitar 600 warga Muslim yang sebagian besar tinggal di dekat atau di Reykjavik. Ada pula sebagian kecil pengungsi Muslim Kosovo di Kota Dalvik.

Sekitar 30 sampai 40 warga asli Islandia telah memeluk Islam dalam beberapa tahun terakhir. Pada April 2009, dua warga asli Islandia yang menjadi mualaf melangsungkan pernikahan, yaitu Hjalti Bjorn Valthorsson dan Gunnhildur Aevarsdottir. Pernikahan itu dipandang sebagai tonggak penting bagi komunitas Muslim di Islandia karena menandakan mulai berakarnya penganut Islam dari warga lokal Islandia.