Pemerintah Dianggap Gagal Ciptakan Kerukunan Beragama

Saturday, 28 August 2010, 06:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua Presidium Dewan Antaragama Indonesia/Interfait Relegion Council (IRC), Din Syamsuddin menilai pemerintah telah gagal menciptakan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Pemerintah dianggap tidak mampu meneggakkan hukum bagi pihak yang menghalangi kebebasan menjalankan ibadah.

Padahal, selain hal itu menjadi amanat Undang-undang Dasar 1945, pemerintah berkewajiban menjamin kebebasan umat beragama supaya beribadah sesuai keyakinan masing-masing. ”Terancamnya kerukunan beragama pertanda negara abai,” jelas dia di Jakarta, Jumat (27/8)

Din mengungkapkan, kasus demi kasus yang mengancam keharmonian umat beragama di Indonesia harusnya menjadi pelajaran bagi pemerintah. Jika dibiarkan, bukan mustahil akan menyulut peristiwa serupa dan lebih besar di sejumlah daerah. Oleh karena itu, pemerintah mesti melakukan intervensi menyelesaikan masalah ini. Intervensi tersebut, tandas dia, sebatas dalam ranah interaksi sosial dan bukan level akidah.

Menurut Din yang juga ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah ini, ada dua hal yang selama ini potensial menjadi sumber konflik yaitu penyiaran agama dan pendirian rumah ibadah. Diperlukan solusi tepat yang berasaskan keadilan dan disepakati semua pihak.

Idealnya, pengaturan tersebut bisa dilakukan di internal umat beragama. Ini bisa dilakukan  dengan membuat konsensus yang berisikan kode etik. Selain itu, tuturnya, dibutuhkan regulasi dan peran aktif pemerintah sebab kebebasan beribadah tidak dapat diserahkan secara mutlak kepada publik.

Namun demikian, Din optimis keharmonisan dan kerukunan umat beragama di Indonesia akan terwujud. Bangsa Indonesia mempunyai modal sebagai bangsa toleran, baik secara antropologis maupun historis. Akan tetapi, kata Din, modal tersebut harus didukung dengan peran aktif dan aksi nyata pemerintah. ”Negara tidak hanya berkata-kata tapi harus bekerja secara nyata,” desak dia.

Redaktur: Arif Supriyono
Reporter: cr1
Ibnu Umar r.a mengatakan bahwa Nabi saw masuk ke Mekah dari Kada' dari Tsaniyatil Ulya di Bath-ha', dan beliau keluar dari Tsaniyatis Sufla. (HR Bukhari)
indi, Monday, 30 August 2010, 17:57

kita termasuk umat yg paling toleran saya sudah ke berbagai negara belahan dunia kalau umat islam minoritas kita di injak" bahkan kita tdk boleh sholat apalagi mendirikan Masjid...di Indonesia hampir setiap RT ada gereja bahkan kita tdk pernah melarang mereka utk melakukan ibadah.Apakah itu jg masih kurang utk kalian.

Balas
hans, Sunday, 29 August 2010, 17:40

Din Syamsuddin benar... kalau pemerintah tegas dalam tegakkan aturan tentu tak biarkan gereja dibangun secara liar tanpa aturan apalagi dibangun dengan cara menipu umat disekitarnya... Ummat sudah jenuh dg cara bangun gereja kayak gitu.. tlg pemerintah tegas dlm hal ini agar tak ada benturan pd akar rumput.

Balas
ridwan, Sunday, 29 August 2010, 06:44

siapa yang menghalangi? siapa yang dihalangi? jangan hanya melihat apa yang diberitakan di media, tapi juga apa yang tidak dipublikasikan (realitasnya)

Balas
alex, Saturday, 28 August 2010, 05:39

Din syamsuddin juga sering tampil berlebihan. Fakta yang anda angkat sebenarnya bukan kesalahan pemerintah semata, anda hanya pintar bicara tapi tidak ada kemampuan berbuat. Dimana-mana Muhammadiyah+NU hanya sibuk mengklaim diri bahwa mrk organisasi terbesar ? Perasaan di lingkungan saya gk ada tuch Muhmadyah atau NU

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...