Kajian Islam akan Jadi Kurikulum Baru Pendidikan di Jerman

Selasa, 27 Juli 2010, 00:54 WIB
Kajian Islam akan Jadi Kurikulum Baru Pendidikan di Jerman
Muslim di Jerman (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN--Menteri Pendidikan Jerman, Annette Schavan  mendukung rencana memasukan Islam sebagai bagian dari kurikulum di negara tersebut. Schavan menilai kurikulim tentang Islam  bisa mengantarkan integrasi masyarakat Muslim Jerman secara utuh.

Tak hanya itu, keberadaan pendidikan tentang islam akan menjadi jembatan kesepahaman antara pelajar muslim dan nonmuslim di Jerman. "Tentu saya sangat mengetahui ketakutan warga Jerman ketika membahas masalah tersebut. Namun, saya melihatnya sebagai wujud kebebasan beragama sekaligus menengahi dialog antara muslim dan nonmuslim," ungkapnya seperti dikutip dari Abnar.ir, Senin (26/7).

Ia mengakui, selama ini pendidikan tentang islam tidaklah berkaitan erat dengan Alquran namun lebih condong kepada islam radikal. Maka itu, kata dia, kebijakan baru bisa menjauhkan islam dari citra kekerasan dan radikalisme serta membuatnya menjadi sangat transparan.

"Pengalaman saya sebagai menteri kebudayaan sangat positif. Penerimaan terhadap islam di Jerman berubah drastis," ungkapnya. "Faktanya, tidak ada yang dirahasiakan soal Islam ketika diajarkan," kata dia.

Selain mendukung kebijakan baru tentang kurikulum Islam, Schavan memimpikan pendirian universitas yang khusus mengkaji Islam. Ia juga mengharapkan adanya pendidikan tentang Imam di Univeritas di Jerman, yang akan bekerja sebagai guru di masjid. "Kami membutuhkan pemimpin yang mempelajari agama secara ilmiah dan kritis," kata dia.

Schavan juga mengatakan komunitas muslim di Jerman sebaiknya memahami diri mereka sebagai bagian dari masyarakat Jerman. Ia meminta tidak ada isolasi ataupun tuduhan bernada diskriminasi. "Jadi, tidak akan ada isolasi, semua berjalan secara transparan," tegas dia.

Sebagai informasi, Schavan merupakan sosok dibalik perkenalan kurikulum islam di  Baden-Württemberg. Semasa menjadi menteri kebudayaam, Schavan memperbolehkan seorang guru muslim untuk mengenakan jilbab.

Langkah Schavan bukan tanpa menuai protes dari warga Jerman. Namun, seiring perkembangan komunitas Islam di Jerman,  negara tersebut memiliki kebijakan lain tentang penanganan komunitas muslim seperti tidak mengikuti Perancis dan Belgia yang melarang burka.

Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Agung Sasongko
Nabi saw bertemu dengan suatu kafilah di Rauha', beliau bertanya: Siapa rombongan ini? Mereka berkata: Siapa engkau? Beliau menjawab: "Rasulullah." Kemudian seorang perempuan mengangkat anak kecil seraya bertanya: Apakah yang ini boleh berhaji? Beliau bersabda: Ya boleh, dan untukmu pahala." (HR Muslim)
Ale Al habib, Selasa, 27 Juli 2010, 21:56

tidak Akan lama lagi, islam akan kembali berjaya di muka bumi ini... Allahu akbar..

Balas
mansur pamma, Selasa, 27 Juli 2010, 03:38

Alhamdulillah.....maha besar engkau yaa Allah,tidak ada kekuatan selain kuasamu yaa Allah.

Balas
arief budiman, Senin, 26 Juli 2010, 23:59

Alhamdulillah...
Allahu Akbar!!!

Balas
Isi Komentar

Nama
Email
silahkan mengisi kode keamanan
Komentar
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -  Batalnya pelaksanaan pembatasan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap jalannya program penghematan BBM bersubsidi. Sebab,...