Friday, 28 Ramadhan 1435 / 25 July 2014
find us on : 
  Login |  Register

Eropa, Anti Yahudi, Krisis Gaza

Wednesday, 07 January 2009, 13:41 WIB
Komentar : 0
PARIS -- Pemerintah negara-negara Eropa dan perkumpulan-perkumpulan masyarakat Yahudi di benua itu bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya kekerasan anti Semit (anti Yahudi) menyusul invasi Israel di Gaza yang telah mendorong munculnya ketegangan-ketegangan sosial dalam masyarakat Eropa.

Prancis yang menjadi negara berpenduduk keturunan Arab dan Yahudi terbesar di Eropa, ngeri pada meningkatnya kekerasan anti Semit itu setelah para penyerang tak dikenal menabrakkan sebuah mobil ke gerbang sebuah sinagog (tempat ibadah Yahudi) di Toulouse, selatan Prancis, Senin, dan ini bisa memperbesar bara kekerasan rasial.

Tidak ada yang terluka dalam insiden itu namun kegilaan itu membangkitkan kenangan buruk pada kerusuhan bernuansa kejahatan anti Semit pada 2002 mengingat latarbelakangnya sama dengan penyebab meletusnya pertempuran antara Israel dan Palestina sekarang.

Presiden Nicolas Sarkozy yang sedang mengadakan lawatan ke Timur Tengah untuk mencari dukungan bagi gencatan senjata di Gaza, mengeluarkan kutukan atas serangan ke sinagog tersebut."Presiden Republik (Prancis) percaya bahwa negara kita tidak akan menoleransi ketegangan internasional berubah menjadi kekerasan sosial," kata Sarkozy mengingatkan.

Dia menyeru bangsa Prancis untuk bersatu di bawah upaya diplomatiknya menciptakan perdamaian di Gaza, seraya menyatakan insiden itu "mungkin hanya reaksi sesaat dan prilaku bermartabat negara kita menghadapi perkembangan tragis di Timur Tengah."

Sementara Menteri Dalam Negeri Michele Alliot-Marie menyebut serangan terhadap sinagog itu sebagai "bodoh dan menjijikkan" seraya menandaskan, "Keprihatinan saya adalah situasi itu tidak akan memburukkan citra negara kita bahwa kekerasan tidak bisa diimpor."

Di negara tetangga Prancis, Belgia, seorang juru bicara pemerintah menyatakan pasukan keamanan sedang mengambil tindakan pencegahan begitu demonstrasi menentang kampanye militer Israel di Gaza menjadi membesar dan diselimuti oleh kemarahan."Kami mencatat bahwa situasi tersebut menjadi lebih eksplosif," kata sang juru bicara.

Bentrokan antar demonstran terjadi kota pelabuhan Antwerp, Belgia, antara komunitas Yahudi dan Muslim menyusul demonstrasi pro Palestina di negeri itu.  Esoknya, Selasa, para pemimpin kedua komunitas mengeluarkan pernyataan bersama untuk menenangkan keadaan.

"Kaum Yahudi dan Muslim Antwerp tidak berbagi pandangan yang sama mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah, namun itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membawa (suasana) konflik di sini.  Kami semua warga kota Antwerp, rakyat Flemish (warga Belgia keturunan Belanda), rakyat Belgia dan semua tetangganya," demikian bunyi komunike itu.

Menyeberangi Selat Channel di Inggris, seorang juru bicara sebuah kumpulan yang memonitor serangan-serangan anti Semit menyatakan, kekersan terhadap orang Yahudi dan semua propertinya telah meningkat empat kali dari level normal sejak kampanye militer Israel di Gaza dilakukan."Sepanjang minggu lalu, kami menyaksikan lebih dari 20, mungkin 25, insiden anti Semit yang muncul, berhubungan dengan kekerasan di Gaza dan selatan Israel," kata Mark Gardner dari Community Security Trust.

Leila Shahid, utusan khusus Palestina untuk Uni Eropa, tidak meragukan serangan Senin ke sinagog di Toulouse itu berkaitan dengan meningkatnya kemarahan pada lima juta warga muslim Prancis setelah mengikuti pemberitaan media mengenai konflik di Gaza."Lihat insiden mengerikan yang terjadi kemarin di Toulouse di mana mobil ditabrakan ke tempat peribadatan yang memang tak bisa diterima, tetapi itu adalah hasil dari gambaran-gambaran yang terjadi di Gaza," kata Leila kepada radio RMC.

Prancis yang pernah menjadi penguasa kolonial untuk sejumlah kawasan Laut Tengah, adalah rumah bagi jutaan keturunan muslim dan Yahudi yang sebenarnya hidup berdampingan secara damai di banyak sudut di kota-kota besar Prancis.

Pada 2000, bertepatan dengan meledaknya gerakan intifada kedua atau aksi penentangan Palestina atas pendudukan Israel, para pemimpin 600 ribu warga Yahudi Prancis mengeluhkan rangkaian gangguan dan serangan terhadap kuil-kuil dan sinagog-sinagog mereka.

Pada 2002 saat perang hebat berkecamuk di Timur Tengah dan Afghanistan serta persiapan invasi AS ke Irak, jumlah serangan anti Semit tercatat melonjak dari 32 menjadi 193 insiden per tahun.

Kini, setelah tank-tank Israel sekali lagi beraksi di Gaza, demonstrasi-demonstrasi jalanan menentang perang mulai merembet kepada pecahnya aksi kekerasan.  Sabtu pekan lalu, gerombolan demonstran membakar mobil dan menjarah toko-toko perhiasan di Paris.

Minggu lalu, di beberapa tempat, para penjarah juga merobohkan bagian patung Dinding Perdamaian di taman yang berseberangan dengan Menara Eiffel, menyasar sebuah panel bertuliskan "Shalom" dan "Salam", dua kata berarti perdamaian dari Bahasa Ibrani (Yahudi) dan Bahasa Arab.

Himpunan Mahasiswa Yahudi di Prancis mencatat dua serangan toko-toko kosher (halal ala Yahudi) di baratdaya Bordeaux, satu terhadap apartemen Yahudi di Paris dan lainnya di sebuah sinagog di selatan Toulon sejak Perayaan Tahun Baru lalu.
"Kita tidak boleh membiarkan konflik di Timur Tengah menghancurkan kebersamaan kita," ingat himpunan itu melalui satu pernyataannya.

Biro Nasional untuk Kewaspadaan pada Anti Semitisme juga meningkatkan sinyal bahaya setelah melihat serangan terhadap mobil yang dikendarai seorang rabbi dekat Paris minggu lalu, seperti halnya dengan membludaknya pesan-pesan anti Yahudi dalam banyak bilik obrol maya (chatroom) Internet di Prancis.ant/afp/kp
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka. ((QS.Al-Baqarah [2]:119))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar