Minggu, 5 Ramadhan 1439 / 20 Mei 2018

Minggu, 5 Ramadhan 1439 / 20 Mei 2018

Pesona Islamic Cultural Center New York

Senin 30 April 2018 15:58 WIB

Red: Agung Sasongko

Islamic Cultural Center of New York

Islamic Cultural Center of New York

Foto: nyc-architecture.com
Masjid ini menggambarkan kehadiran Islam di abad ke-21.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat New York memanggil masjid ini dengan berbagai sebutan, mulai dari Manhattan Mosque, New York Mosque, sampai 96th Street Mosque. Semua nama tersebut didasarkan pada lokasi masjid yang memang beralamat di 96th Street, sektor Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat. Adapun nama resmi dari masjid yang sekaligus berfungsi sebagai pusat kebudayaan Islam ini adalah Islamic Cultural Center New York.

Rencana pembangunan masjid sebenarnya sudah ada sejak 1966, tetapi dibutuhkan waktu yang lama untuk mengurus masalah pembebasan lahan dan perizinannya. Pembangunan masjid baru dimulai pada 1987.

Dalam salah satu artikelnya, The New York Times, menyebutkan, sebanyak 46 negara Muslim telah menyumbang biaya pembangunan masjid ini hingga mencapai 17 juta dolar AS. Sumbangan terbesar berasal dari pemerintah Kuwait, Arab Saudi, dan Libya.

Pada awalnya proyek pembangunan masjid yang pertama kali dibangun di Kota New York ini dipercayakan kepada Ali Dadras, seorang arsitek keturunan Iran-Amerika. Dipercaya demikian, Ali Dadras berencana membangun masjid tersebut dengan gaya arsitektur tradisional.

Namun, para donatur lebih menginginkan sebuah bangunan masjid yang memiliki gaya arsitektur modern, yaitu sebuah masjid yang dapat menggambarkan kehadiran Islam di abad ke-21. Proyek pembangunan lalu dipercayakan kepada Skidmore, Owings & Merrill (SOM), sebuah perusahaan terpercaya yang telah mengerjakan berbagai proyek pembangunan di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain.

Proyek yang telah dikerjakan oleh perusahaan ini, di antaranya adalah beberapa bangunan di Kota Jeddah, yaitu Terminal Haji, National Commercial Bank, dan Universitas King Abdul Aziz.

Mengenai gaya arsitekturnya, para donatur menginginkan sebuah masjid dengan arsitektur modern, tetapi mereka juga tetap menginginkan kehadiran nuansa kebudayaan Islam pada bangunan masjidnya. Menanggapi permintaan mereka, SOM kemudian membuat rancangan masjid dengan cara mengadopsi gaya arsitektur Turki Usmani abad ke-18-19 dan menggabungkannya dengan gaya arsitektur modern.

Gaya arsitektur Turki Usmani abad ke-18-19 memiliki ciri khas pada bangunan masjidnya yang tinggi dilengkapi dengan kubah tunggal, jendela-jendela besar, dan menara, seperti pada masjid Ortakoy dan Nur Osmaniye di Istanbul, Turki.

Pembangunan menara masjid dipercayakan kepada perusahaan Swanke Hayden Connell Architects of New York, sedangkan perancang menaranya adalah Alton Gursel, seorang arsitek keturunan Turki-Amerika. Menara yang ada sekarang ini merupakan pilihan terbaik di antara sembilan rancangan yang telah dibuatnya. Desain menara dibangun mengikuti gaya bangunan masjidnya dengan perbandingan tinggi masjid dan tinggi menara 1:1,5. Maka, berdirilah masjid yang indah nan megah di Kota New York.

Penggabungan antara unsur kebudayaan Islam yang kaya akan nilai sejarah dan desain modern yang sederhana dalam pembangunan masjid ini menghasilkan sebuah karya yang dapat mempresentasikan kehadiran Islam yang berperadaban tinggi dan sederhana di tengah Kota New York. Sejak pembukaannya pada 1991, Islamic Cultural Center New York telah menjadi salah satu landmark di kota itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES