Kamis , 01 Maret 2012, 10:29 WIB

Gelombang Migrasi Kaum Muslim ke Amerika

Red: Heri Ruslan
Muslim Amerika
Muslim Amerika

REPUBLIKA.CO.ID,  Migrasi kaum Muslim ke benua Amerika secara besar-besaran diperkirakan terjadi pada abad ke-17 hingga 19 M. Jhon L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, mengungkapkan hampir seperlima orang-orang yang dibawa ke Amerika dalam era perdagangan budak adalah Muslim.

‘’Awalnya, mereka mereka berupaya mempraktikkan ajaran agamanya (Islam), tetapi banyak dari mereka yang dipaksa pindah agama menjadi Kristen,’’ ungkap Esposito. Menurutnya, tak banyak catatan tentang kisah para budak Muslim yang tetap mempertahankan keyakinannya.

Meski begitu, kata dia, kaum Muslim di benua Amerika pernah melakukan gerakan semacam revolusi. Menurut Esposito, pada  1758 umat Islam sempat melakukan revolusi di Haiti. ‘’Bahkan, pernah mendirikan sebuah negara Islam yang berumur pendek di Brasil,’’ paparnya.

Esposito mengungkapkan, lenyapnya kaum Muslim Afrika awal di Amerika akibat penyiksaan yang keras, telah berbalik pada abad ke-20 M dengan bertambahnya jumlah pemeluk Islam keturunan Afrika di Amerika. Selain itu, jumlah pemeluk Islam kian bertamab di negeri Paman Sam, seiring dengan migrasi kaum Muslim dari berbagai negara di dunia ke benua itu.

Migrasai umat Islam dari berbagai penjuru dunia ke Amerika terjadi pada akhir abad ke-19 M. ‘’Mayoritas adalah orang-orang Arab dari Kesultanan Usmaniyah,’’ tutur guru besar Hubungan Internasional dan Studi Islam pada Georgetown University, Amerika Serikat  itu.

Menurut Esposito, gelombang migrasi besar-besaran umat Islam ke Amerika terjadi dalam empat periode. Gelombang pertama, dimulai pada 1975 yang ditandai dengan datangnya imigran dari Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina. Mereka adalah orang-orang yang kurang berpendidikan dan tak terampil.

Tujuan mereka datang ke Amerika dengan alasan ekonomi, yakni mencari penghidupan yang lebih baik dan kembali ke negara asalnya. Pada gelombang pertama itu, para imigran Muslim bekerja sebagai pekerja tambang, pekerja tak tetap, penjaga toko, hingga pedagang kecil-kecilan.

Gelombang kedua,  berlangsung pada abad ke-20 M dan sempat terhenti ketika Perang Dunia II meletus. Imigran Muslim yang diizinkan masuk sesuai Undang-undang Keimigrasian Amerika adalah orang-orang Negro dan orang-orang kulit putih. Sedangkan, orang-orang Arab tak bisa masuk ke Amerika.

Gelombang ketiga, terjadi antara  pertengahan 1940 hingga 1960. Imigran Muslim yang datang ke Amerika Serikat pada periode ketiga ini berpendidikan lebih tinggi disbanding pada gelombang sebelumnya. Mereka hijrah ke Amerika untuk melepaskan diri dari tekanan politik di negaranya.

‘’Pada gelombang  ketiga ini, jumlah imigran Muslim terbesar berasal dari Palestina, setelah terbentuknya negara Israel,’’ papar direktur Prince Alwaleed Bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding  pada Georgetown University itu. Selain itu, imigran dari Mesir berdatangan setelah Gamal Abdul Nasser melakukan nasionalisasi. Orang Irak hijrah ke Amerika setelah pecahnya Revolusi 1948 dan Muslim dari Eropa Tengah  pindah menghindari penguasa Komunis.

Gelombang keempat, dimulai dari  1967 hingga sekarang.  Menurut Esposito, mayoritas Muslim yang hijrah ke Amerika pada periode keempat ini berasal dari kalangan terdidik dan menguasai bahasa Inggris dengan baik. Mereka, kata dia, datang untuk meningkatkan keahlian. Mereka datang ke AS untuk mendapat status sosial dan ekonomi yang lebih baik.

Berita Terkait