Selasa , 12 September 2017, 23:00 WIB

Petra Miliki Sistem Pengairan yang Rumit

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
NatGeo
Kota Petra, Yordania
Kota Petra, Yordania

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Petra didirikan enam tahun sebelum Masehi. Ia merupakan ibu kota Kerajaan Nabatea. Warga Nabatean membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit. Mereka memi liki teknologi hidrolik untuk mengangkat air.

Di kota ini juga terdapat terowongan dan bilik air untuk menyalurkan air bersih ke kota. Mereka pun sangat mahir dalam membuat tangki air bawah tanah untuk mengumpulkan air bersih yang bisa digunakan saat mereka bepergian jauh. Sehingga, di manapun mereka berada, mereka bisa membuat galian untuk saluran air guna meme nuhi kebutuhan mereka terhadap air bersih.

Pada akhir abad keempat SM, berkembangnya dunia perdagangan membuat suku Nabatean turut berkecimpung dalam perdagangan dunia. Rute perdagangan dunia mulai tumbuh subur di bagian selatan Yordania dan selatan Laut Mati. Mereka lalu memanfaatkan posisi tempat tinggal mereka yang strategis itu sebagai salah satu rute perdagangan dunia.

Berkat perdagangan aneka produk seperti dupa, rempah-rempah, dan gading yang antara lain berasal dari Arab bagian selatan dan India bagian timur, Kerajaan Nabatea menjadi negeri yang makmur dan memiliki banyak saudara suk ses. Kemakmuran itu ditunjang pula oleh posisi Petra yang strategis yang berada di jalur distri busi barang antara Eropa dan Timur Tengah.

Namun, pada 106 M, Romawi mencaplok Petra, sehingga peran jalur perdagangannya melemah. Pada sekitar 700 M, sistem hidrolik dan be berapa bangunan utama yang menunjang kehi dupan masyarakat di kota itu hancur menjadi puing.

Diyakini, sebagaimana tersurat dalam Alquran, kota ini hancur akibat bencana maha dahsyat. Saat itu, Petra pun menghilang dari peta bumi dan hanya tinggal legenda.