Jumat , 08 September 2017, 16:44 WIB

Jalan Terjal Membangun Masjid di Rusia

Red: Agung Sasongko
EPA/Sergei Chirikov
Ribuan muslim di Rusia melaksanakan shalat Idul Adha.
Ribuan muslim di Rusia melaksanakan shalat Idul Adha.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Minimnya jumlah masjid menjadi kendala lain. Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, hanya 100 masjid yang tersisa di Rusia. Sekitar 8000 masjid dibangun dalam 24 tahun terakhir di seluruh Rusia. Meski ada ratusan masjid besar-kecil di Moskow, jumlah itu belum cukup untuk menampung jamaah yang kian membeludak.

"Sekian banyak tenaga kerja migran datang ke masjid kami. Selama musim liburan, masjid kami penuh sesak sampai banyak jamaah terpaksa berdoa di luar di tengah hujan es," tutur Wakil Kepala Dewan Mufti Rusia, Iman Rushan Abbyasov, dilansir dari Muslim Village.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin dinilai mengesampingkan pembangunan beberapa masjid. Dia sempat mengatakan, warga Moskow menjadi jengkel karena orang-orang berbicara dalam bahasa yang berbeda dan memiliki kebiasaan berbeda. Pernyataan itu menimbulkan kemarahan umat Islam.

Kendati demikian, akhir September ini, pemerintah merencanakan pembukaan Masjid Katedral di Moskow. Ini adalah masjid utama di Moskow sebelum ditutup lantaran renovasi satu dekade lalu. Kaum Muslim menyambut dengan sukacita, sekalipun daya tampung masjid itu masih terbatas, yaitu hanya 10 ribu jamaah.

Sebaliknya, gereja di Moskow telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, ada 383 gereja Ortodoks Rusia yang aktif di ibu kota. Lima tahun lalu, program 200 Gereja diresmikan, yang bertujuan untuk membangun gereja di setiap kota kabupaten.