Rabu , 06 September 2017, 18:51 WIB

Semasa Dinasti Tang dan Song, Islam Tersebar Luas di Cina

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Agung Sasongko
.
Masjid Agung Guangzhou, juga dikenal sebagai Masjid Huaisheng, masjid tertua di Cina. Dibangun pada masa kekaisaran Dinasti Tang pada tahun 635 M (islaminchina.info)
Masjid Agung Guangzhou, juga dikenal sebagai Masjid Huaisheng, masjid tertua di Cina. Dibangun pada masa kekaisaran Dinasti Tang pada tahun 635 M (islaminchina.info)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Kebanyakan kaum Muslim setempat menghuni daerah perkotaan atau kawasan pelabuhan. Penguasa Cina saat itu tidak keberatan dengan aktivitas kaum Muslim yang mayoritasnya merupakan pedagang atau diplomat dari negeri-negeri luar.

Tambahan pula, diplomasi Cina dengan kekhilafahan Muslim berlangsung dengan cukup harmonis dalam beberapa ratus tahun. Komunitas Muslim Cina, dengan demikian, dapat menjalani mobilitas sosial dan menjadi bagian dari birokrasi kekaisaran. Mereka yang memiliki darah pendatang cenderung tanpa kesulitan berbaur dengan masyarakat Cina asli.

Perkembangan yang signifikan terjadi di wilayah barat Cina. Menjelang habis kekuasaan Dinasti Tang pada 840, suku bangsa Hui Hus hijrah ke arah barat. Kelompok yang paling mengemuka dipimpin Panglima Pangteqin. Dia memimpin pengikutnya untuk menyeberangi Sungai Chu untuk sampai ke tanah yang dikuasai suku nomad Garluq.

Asimilasi antara suku Hui Hus dan Garluq melahirkan corak kebangsaan baru bernama Karakitai, yang mampu bertahan selama 370 tahun sejak medio abad kesembilan. Satuk Boghra Khan (910-956) merupakan pemimpin suku Karakitai pertama yang memaklumkan diri memeluk Islam.

Dia lantas berganti nama menjadi Abdul Karim. Para sejarawan menduga, Satuk menjadi Muslim lantaran pengaruh kebudayaan Dinasti Samanid (819-999), yang berpusat di Samarkand. Pada 960, Musa, putra sekaligus penerus tahta Satuk, meresmikan Islam sebagai agama negara.

Meskipun terhitung suku minoritas, kehadiran Karakitai penting dalam menandakan pengaruh Islam di Cina. Sebab, suku itulah yang mula-mula menaklukkan Yutian (kini Hetian, Daerah Otonomi Xinjiang- Uyghur), Qiemo, dan Ruoqiang, sehingga mengembangkan kebudayaan Islam di Cina barat. Sampai kini, pengaruh Islam masih terpelihara.

Misalnya, bahasa Uighur yang memakai aksara Arab atau pusatpusat kajian Islam dan sufi. Eksistensi khan-khan Muslim di Cina barat bukanlah ancaman bagi kekaisaran Cina. Bagi setiap kaisar Cina, orang-orang Mongol selalu membuat was-was karena besarnya kekuatan militer mereka.

Terbukti, sejak tahun 1219, Mongol di bawah pimpinan Genghis Khan (1162-1227) dan kemudian anak cucunya melakukan ekspansi besarbesaran. Khan-khan (orang terhormat) Muslim di Cina barat menyatukan diri dengan orang-orang Arab dan Persia untuk bertempur melawab tentara Kubilai Khan.

Mereka semua membentuk koalisi wilayah barat. Pertempuran berlangsung secara periodik. Begitu peperangan usai, para tentara Muslim menetap di wilayah tersebut, utamanya di selatan Sungai Yangtze. Para pria lantas menikah dengan perempuan lokal dan membentuk komunitas baru yang tunduk pada kekaisaran Cina.

Dalam era Dinasti Yuan, kaum Muslim di Cina barat mengalami kenaikan strata sosial. Wangsa tersebut memberlakukan hukum piramida sosial, yang membagibagi masyarakat ke dalam empat kasta berdasarkan keturunan.

Kasta tertinggi tentunya adalah kalangan bangsawan Yuan. Adapun orang Islam dimasukkan sebagai Se Mu, yang masih tergolong kasta menengah. Meski begitu, kalangan cerdik pandai Muslim dapat diterima de ngan baik ke dalam birokrasi Dinas ti Yuan. Namun, Kaisar Yuan cenderung mengeksklusi kawasan tem pat tinggal kaum Muslim sehingga kurang bisa berbaur sewajarnya dengan masyarakat mayoritas.

Menjelang runtuhnya Dinasti Yuan, para kaisar memandang rendah kehadiran Islam. Hal ini berbeda bila dibandingkan dengan awal-awal era wangsa tersebut berkuasa. Umpamanya, kala itu negara mengakui peran para kadi Muslim sehingga mendirikan Departemen Hukum Islam.

Bahkan, beberapa Muslim ditempatkan sebagai gubernur. Misalnya, Sayyid Ajall Syamsuddin Umar al-Bukhari (wafat 1279), yang juga kakek buyut Cheng Ho, adalah gubernur Yunan. Para kaisar Dinasti Yuan pun terbilang berjasa dalam menyilakan Islam berkembang di Cina. Masjidmasjid berdiri dengan cukup bebas.

Hal itu terjadi sepanjang tokoh Muslim setempat tunduk pada kekuasaan kaisar. Singkatnya, tidak ada konflik yang berarti antara agama dan negara. Setelah keruntuhan Dinasti Yuan, berikutnya muncul Dinasti Ming (1368 - 1644). Masa ini boleh dikatakan puncak kemesraan hubungan antara Cina dan Islam.

Populasi kaum Muslim meningkat pesat di Nanjing, pusat pemerintahan Dinasti Ming. Tokoh-tokoh militer Muslim ikut membantu munculnya Dinasti Ming menggantikan Dinasti Yuan.

Beberapa dari mereka mendapatkan jabatan penting. Zhu Yuanzhang, kaisar pertama Dinasti Ming, mendirikan Masjid Jing Jue untuk memperingati 21 tahun kekuasaannya.

Pembangunan masjid itu sebagai bentuk apresiasinya atas ke se tiaan para jenderal Muslim dalam menyokong keberlangsungan Dinasti Ming. Sampai hari ini, masjid seluas 67 hekatare itu masih dapat dijumpai di Nanjing.

Berita Terkait