Sabtu , 12 August 2017, 22:21 WIB
Lindungi Masjid Al-Aqsha

Ihwal Kuil Sulaiman

Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Agung Sasongko
Mardiah
Sejarah Masjid Al Aqsha
Sejarah Masjid Al Aqsha

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Kuil yang dibangun oleh Sulaiman pada 966 Sebelum Masehi ini, diperuntukkan sebagai tempat pemujaan dan pengorbanan (korbanot) menurut Yahudi kuno.    

Nama:
Bait Salomo, Beit HaMikdash, Bait Pertama, dan Haikal Sulaiman

Lokasi
Para sejarawan tak sepakat soal lokasi. Beberapa nama tempat muncul, seperti Gunung Moria, Yerussalem.  

Penghancuran
Kuil ini mengalami beberapa penghancuran sepanjang catatan sejarah, di antaranya sebagai berikut:

634-562 Sebelum Masehi (SM)
Raja Nebukadnezar dari Babilonia menginvansi Yerussalem dan menghancurkan kuil ini.   

576-530 SM
Raja Persia, Cyrus, yang merebut Yerusalem membangun kembali Haikal Sulaiman.

70 M
Romawi meratakan kuil ini dengan tanah saat penyerangan Yerusalem dan memboyong harta karun kuil ini. Hingga kini, beberapa di antaranya tersimpan di Vatikan dan berusaha didatangkan kembali oleh Israel ke Palestina. 

Doktrin Zionisme

Pada Kongres I Zionisme Internasional di Bassel, Swiss, pada 1987, Theodore Hertzl mengklaim di bawah Masjid al-Aqsha adalah lokasi Haikal Sulaiman. Target mereka menghancurkan kiblat pertama umat Islam untuk membangun kembali kuil tersebut. Kuil ini menjadi pusat dan kiblat kejayaan dunia.   

Eksplorasi Kuil
Upaya pencarian pun terus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk merusak Masjid al-Aqsha:

1867-1870 M
Ekspedisi Warren menyimpulkan tak ada bukti arkeologi keberadaan Kuil Sulaiman. 

1940
Arkeolog Amerika Nelson G mengklaim menemukan tambang Edom Sulaiman. 

1969
Yahudi fanatik berupa membakar al-Aqsha. Hingga kini, Zionis Israel masih menguasai Masjid al-Aqsha.

1981
Sebuah prasasti yang diperkirakan ada pada abad ke-6 SM ditemukan dan diprediksi berasal dari Kuil Sulaiman.

1997
Zionis melakukan rekayasa genetika sapi berbulu merah usia tiga tahun dan tak pernah melahirkan. Ini sebagai syarat yang diajukan Vatikan agar harta karun kuil kembali.

2004
Lembaga Arkeologi Israel menyatakan prasasti itu palsu.

2012
Lembaga yang sama menyatakan temuan inkripsi abad ke-9 SM pada 2003 tidak bisa dipertanggungjawabkan.