Kamis , 13 Juli 2017, 19:00 WIB

Kesepakatan Bersejarah Hamburg-Umat Islam

Red: Agung Sasongko
Muslim Jerman
Muslim Jerman

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Tahun lalu, tepatnya pada 13 November, terjalin kesepakatan bersejarah bagi Muslimin Hamburg, bahkan Muslimin Jerman secara umum. Wali Kota Hamburg Olaf Scholz menandatangani kesepakatan dengan para pemimpin dari tiga organisasi Muslim Hamburg, yakni Uni Islam Turki DITIB (DITIB), Dewan Komunitas Islam (Syura), dan Federasi Pusat Budaya Islam (VIKZ). Organisasi tersebut telah mewakili sekitar 90 persen Muslim Hamburg.

Bukan sekadar mengakui tiga ormas Islam, pemerintah kota juga mendeklarasikan pengakuan Islam sebagai sebuah agama. Artinya, Muslimin mendapat hak-hak lebih dari pemerintah. Menurut Islam Today, perjanjian tersebut menjamin hak untuk memeluk dan mempraktikkan Islam, melindungi properti komunitas Muslim, persetujuan pembangunan masjid dengan menara dan kubah, peruntukan lahan untuk pemakaman Muslim, penyediaan makanan halal di penjara dan rumah sakit, pengakuan hari libur Muslim, perwakilan Muslim di lembaga-lembaga negara, dan beberapa hak-hak lainnya.

Tak hanya itu, menurut Gatestone Institute, pengakuan tersebut juga memberikan tempat bagi kurikulum pengajaran Islam di sekolah umum. Muslim Hamburg juga berhak mendapat libur di tiga hari besar, yakni Idul Fitri, Idul Adha, dan Hari Asyura. Kesepakatan tersebut juga mencakup ketentuan yang lebih ramah bagi pembangunan masjid dan sarana Muslimin lain.

Pemerintah Hamburg bahkan memasukkan siaran Muslim bersama siaran Protestan dan Katolik di radio dan televisi, baik milik publik maupun swasta. Muslim juga berhak mendapat penyiaran publik dan federal Saluran TV ZDF Jerman. Intinya, seluruh hak dasar dan kesetaraan diberikan Pemerintah Hamburg bagi Muslimin.

Menurut Wali Kota Hamburg Olaf Scholz, kesepakatan dengan Muslimin tersebut merupakan sebuah tonggak baru untuk integrasi. Ia ingin membangun masyarakat yang kuat dan memberikan hak bagi setiap warganya. "Dengan ditandatanganinya perjanjian ini, kita memperkuat dasar masyarakat kota kita bahwa kita semua adalah warga Hamburg," ujarnya yang juga mantan menteri perburuhan federal Jerman dari partai Sosial Demokrat.

Ketua Uni Islam Turki DITIB Hamburg, Zekeriya Altug, menyebut kesepakatan tersebut sebagai "hari bersejarah" bagi Muslim Hamburg dan Jerman. Muslimin sangat menyambut gembira dengan adanya kesepakatan tersebut. "Hamburg hari ini menjadi preseden bagi masa depan negara kita. Banyak pegawai Muslim tidak berani meminta hari libur pada hari raya karena takut terlihat buruk. Namun, sekarang mereka mampu berkata, "Ini liburan saya, dan ini diatur oleh hukum." Tentu saja. ini membuat perubahan besar," ujarnya.