Rabu , 31 May 2017, 14:00 WIB
Sumbangsih Muslimah dalam Peradaban Islam

Peran Muslimah Menata Pemerintahan

Rep: c23/ Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Ilustrasi Dakwah Muslimah. (Republika/ Prayogi)
Ilustrasi Dakwah Muslimah. (Republika/ Prayogi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam bidang tata pemerintahan, sejarah peradaban Islam mencatatkan nama Dhaifa Khatun. Ia lahir di Aleppo, Suriah, pada 1186 M. Daifa merupakan anak dari Raja al-Adel yang berkerabat dengan Salah al-Din Al-Ayyubi dan Raja al-Kamel.

Lahir dari golongan bangsawan, Daifa pun menikah dengan Raja al-Zahir bin Salah al-Din, lalu menjadi ratu. Ia sempat memimpin Aleppo selama enam tahun.

Selama menjadi ratu, Daifa banyak meluncurkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Ia menghapus ketidakadilan, termasuk pajak-pajak yang sangat membebani masyarakat kecil di Aleppo. Tak hanya itu, ia pun mendirikan banyak lembaga amal untuk membantu perekonomian masyarakat miskin atau dhuafa. Tak heran bila Daifa sangat dicintai rakyatnya, terutama mereka yang berasal dari golongan miskin.

Selain kiprah politik dan sosialnya, Daifa pun disanjung karena perhatiannya yang besar dalam bidang pendidikan. Ia membangun dua sekolah, yakni al-Firdaus yang terletak di dekat Bab al-Makam di Aleppo dan Khankah yang berlokasi di Mahalat al-Frafera.

Al-Firdaus dikhususkan untuk pelajar yang ingin mendalami studi Islam dan hukum-hukum Islam, terutama yang bersumber dari Imam Syafii. Sedangkan Khankah, khusus untuk ilmu syariat dan bidang-bidang lainnya.

Dalam bidang keperawatan, peradaban Islam juga memiliki sederet nama tokoh perempuan. Satu yang cukup terkenal adalah Rufaida binti Saad al-Islamiah. Dialah perawat pertama dalam sejarah Islam.

Hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, Rufaida kerap merawat korban terluka dan sekarat akibat perang. Pada Perang Badar, ia selalu meminta para prajurit yang ikut bertempur bersama Nabi Muhammad SAW untuk mengangkut korban luka ke tenda yang telah didirikan. Di dalam tenda, Rufaida pun merawat dan mengobati mereka dengan keahlian medisnya.

Sebagian besar pengetahuan Rufaida tentang dunia medis didapatkan dari ayahnya, Saad al-Islami, yang juga seorang dokter. Pengalamannya merawat para korban di tengah medan perang membuat ilmunya makin bertambah dan makin matang.

Ketika peperangan berakhir, Rufaida mengabdikan diri dengan merawat orang sakit, termasuk anak-anak yatim, cacat, dan miskin. Ia pun tak segan membagi ilmu dan wawasannya kepada perempuan-perempuan lain di masanya yang ingin belajar dan mendalami dunia medis atau keperawatan.

Selain Rufaida, sejarah Islam juga mencatat dua tokoh Muslimah lain yang menggeluti bidang medis. Mereka adalah al-Ahifa binti Abdullah dan Nusaiba binti Harits al-Ansari. Sejarah mencatat, mereka pernah merawat Rasulullah SAW ketika menderita luka-luka akibat peperangan.