Kamis , 18 Mei 2017, 17:00 WIB

Kampong Cham, Rumah Muslim Kamboja

Red: Agung Sasongko
thecmdf.org
Muslim Kamboja sedang silaturahim.
Muslim Kamboja sedang silaturahim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa sejarawan beranggapan bahwa Islam sampai di Kamboja pada abad ke-11 Masehi. Ketika itu kaum Muslimin berperan penting dalam pemerintahan kerajaan Campa. Setelah kerajaan itu runtuh, kaum Muslim memisahkan diri. Sebagian sampai di Kamboja.

Muslim Cham yakin garis keturunan mereka terhubung hingga ayah mertua Rasulullah SAW, Jahsy bin Ri'ab yang merupakan ayah dari Zainab, salah satu istri Raulullah. Hal itu dikaitkan dengan arus kedatangan para sahabat di Indo-Cina pada 617-618 dari Abyssinia melalui jalur laut.

Menurut data Pew Research Center , jumlah Muslim di Cambodia pada 2009 mencapai 236 ribu atau 1,6 persen dari total populasi. Namun, menurut Ketua Senat Mahasiswa Muslim Kamboja, Sles Alfin, populasi Muslim di negaranya diperkirakan mencapai lima persen. Kebanyakan merupakan etnis Cham dan Melayu yang merupakan kelompok minoritas di Kamboja.

Pada 2008, Muslim di Kamboja mencapai 321 ribu jiwa. Mayoritas Muslim di Kamboja adalah Sunni bermazhab Syafi'i yang kebanyakan tinggal di Provinsi Kampong Cham. Provinsi dengan luas wilayah 9.799 km2 itu ditinggali 1.680.694 jiwa (2008).

Sebelum kemenangan Khmer Merah pada 1975, komunitas Muslim Kamboja sebenarnya terdiri dari kaum Cham dari bekas kerajaan Champa di Vietnam yang runtuh pada 1470 M. Kaum Cham pada mulanya diislamkan oleh para pedagang dan pengrajin dari Arab dan India. Kaum tersebut berimigrasi dalam jumlah besar ke Kamboja pada abad ke-15.

Selain kaum etnis Cham, Muslim Melayu dari Indonesia dan kawasan yang sekarang bernama Malaysia juga memasuki Kamboja pada abad yang sama. Kaum Arab, kaum imigran dari Anak Benua India, dan pribumi yang masuk Islam juga menjadi bagian dari komunitas Muslim di Kamboja saat ini.

Mereka tersebar di seluruh wilayah Kamboja, terutama di sepanjang Mekong, dekat Ibu Kota Phnom Penh, dan di Kompot, Tonle Sap, Kompong, serta Battambang. Muslim Kamboja rata-rata bekerja di bidang perdagang an, pertanian, dan perikanan.

Dalam Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern (2002) disebutkan, praktik dan kepercayaan Muslim di Kamboja mirip dengan Muslim Asia Tenggara ortodoks lainnya. Mereka cenderung mengikuti praktik-praktik religius secara lebih teratur dibanding Muslim Vietnam.

Pada 1975, sebelum pembantaian Khmer Merah, terdapat antara 113 dan 120 masjid dengan sekitar 300 guru agama dan 300 khatib. Banyak di antara guru-guru tersebut yang belajar di Malaysia dan universitas-universitas Islam di Kairo, India, atau Madinah.

Perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Kamboja tidak terlepas dari peran negara-negara Islam lain. Keberadaan para Salafi dan Wahabi di sana misalnya, seperti ditulis Bjorn Blengsli, adalah hasil dari pendanaan yang dilakukan Islamic Development Bank yang berlokasi di Jeddah, Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al-Islamiy), serta sejumlah organisasi di Arab Saudi dan Kuwait yang mendanai pendirian sekolahsekolah Islam di Kamboja.

Alat penting dalam menanamkan pemahaman agama di Kamboja adalah pengembangan sekolah. Kebanyakan sekolah baru di sana adalah madrasah, beberapa di antaranya menggunakan konsep pesantren dengan pembelajaran yang lebih jauh dan mendalam tentang teks-teks Islam. Hingga 2005, jumlah pemukiman Muslim di Kamboja telah mencapai 417 desa, dengan rata-rata tiga hingga tujuh sekolah Islam di setiap desa.