Kamis , 18 May 2017, 16:15 WIB

Muslim di Kamboja Miliki Dua Nama

Rep: Amri Amrullah/Berbagai Sumber/ Red: Agung Sasongko
usaid.gov
Muslimah Kamboja.
Muslimah Kamboja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bjorn Blengsli dalam The Propagation of Islam in Cambodia: Dynamics of Religious Change(2006), mengungkapkan, penduduk Kamboja yang telah berhaji sampai 2005 berjumlah 1.174 orang. April 2006, sebuah perkumpulan Tablighi di desa Trea, distrik Chhraich Chhmao, Provinsi Kampong Cham, dihadiri lebih dari 20 ribu orang.

Umumnya, Muslim di Kamboja memiliki dua nama. Nama Muslim dan nama nasional Kamboja. Di kampung halamannya Sles Alfin dikenal dengan nama Saleh Arifin. Nama nasional di Kamboja harus pendek. Jadi, Arifin akhirnya disingkat menjadi Alfin, tutur Koordinator Program Sap Cham itu.

Pembantaian massal yang dipimpin Pol Pot terhadap penduduk Kamboja pada 1975 mengurangi jumlah penduduk Muslim di negara tersebut secara signifikan. Tidak terkira jumlah Muslim yang dibunuh saat itu, ditambah sekitar 12 ribu hingga 15 ribu Muslim meninggalkan Kamboja menuju kamp-kamp pengungsian terdekat atau bermukim di luar negeri.

Menurut Jhon L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, hampir setengah dari jumlah pengungsi hijrah ke Malaysia karena negara tersebut diperintah oleh Muslim. Sisanya menetap di Prancis, Australia, dan Amerika Serikat.

Dari 600 guru agama dan khatib yang ada pada tahun 1975, hanya tersisa kurang dari 40 orang pada 1980. Pembantaian itu juga menyisakan 150 ribu hingga 190 ribu Muslim saja dari 700 ribu jiwa sebelum 1975. Hanya 20 dari sekitar 113 ulama terkemuka Cham yang selamat dari periode kelam tersebut.

Menurut sumber-sumber dari kaum Cham, sebanyak 132 masjid dihancurkan sepanjang era Khmer Rouge dan sejumlah lainnya dinodai. Pada masa itu, Muslim tidak diizinkan melakukan ibadah.

Ensiklopedi Oxford menambahkan, dari sembilan lulusan Al-Azhar Kairo yang dimiliki Kamboja, hanya satu yang masih hidup. Hal itu memperlemah pendidikan dan pemahaman keagamaan di tengah komunitas Muslim Kamboja yang tersisa. Ada kesenjangan besar dalam pengenalan kaum Muslim akan persoalan dasar sejarah Islam, teologi, dan dunia Muslim internasional. Dari situ, Muslim Kamboja bangkit melanjutkan kelangsungan Islam.