Selasa , 09 Mei 2017, 15:30 WIB

Jejak Islam di Wunsdorf

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Agung Sasongko
Muslim Jerman
Muslim Jerman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 1917, sebagian besar tahanan kamp Wunsdorf dikirim untuk bekerja di kamp di Romania. Sejak itu, komunitas Muslim di Wunsdorf berkurang meski tak benar-benar hilang. Sensus 2015 menunjukkan, dari populasi Jerman yang mencapai 82 juta jiwa, hampir lima juta di antaranya adalah Muslim.

World of Doner, sebuah toko milik warga keturunan Turki, merupakan satu-satunya toko yang buka di jalan utama Zossen pada Sabtu siang. Berdan Cacan (17 tahun) adalah satu-satunya tenaga bantuan di akhir pekan bagi bisnis keluarga itu. Sanak keluarga Cacan yang berdarah Turki kini sudah menetap di Jerman.

Cacan berharap bisa melanjut kan hidup setelah magang di sebuah perusahaan asuransi. Meski ia mengaku tidak banyak mengalami diskriminasi, ia masih ingat insiden yang membuatnya masih khawatir. "Dua atau tiga pria masuk ke sini dan mengusir ayah saya, meminta ayah kembali ke Turki,'' kata Cacan.

Cacan sendiri sudah lancar berbicara Bahasa Jerman dan sudah berinteraksi dengan warga sekitar. Hanya, ia menyayangkan hingga saat ini belum ada masjid di area itu. Padahal, bila ada, mereka bisa pergi ke sana untuk shalat bersama.

Kamp Wunsdorf kembali jadi berita karena kamp pengungsian di sana berdiri tepat di atas tanah yang sama dimana sebuah masjid kamp tahanan pernah berdiri beberapa dekade lalu. Sama seperti sejumlah pusat pengungsian lain di Jerman, Kamp Wunsdorf juga mengalami pembakaran oleh orang tak dikenal.

Pada 16 Mei 2015 tak lama sebelum pembukaan kamp, dua warga setempat yang diduga punya kaitan dengan kelompok sayap kanan di Jerman, menyulut api di kontainer sampah. Berdasarkan berita di surat kabar di Frankfurt, Allgemeine, pelaku mengendarai kendaraan sambil menabur pasir untuk menghindari kejaran polisi. Petasan dan 20 poster xenofobia ditemukan di mobil mereka.

Opini tentang kamp pengungsian itu sendiri beragam di kalangan warga lokal. Ada yang menilai tidak adil bagi Pemerintah Jerman membagi anggaran bagi orangorang yang menetap di Jerman tapi tidak bekerja.

Sekelompok warga lokal juga membuat gerakan di media sosial yang mengajak warga setempat untuk menolak pengungsi melalui Gerakan Wunsdorf Wehrt Sich (Wunsdorf Melawan). Di Facebook, gerakan ini memiliki 2.039 follower dan menampilkan beberapa pesan termasuk kegembiraan atas menangnya Donald Trump dalam pemilihan presiden AS.

Al-Khayeri, si pemuda gymnasium yang berasal dari Irak jadi ingat, pada suatu siang di akhir Oktober saat ia dan beberapa temannya berjalan-jalan di sekitar Wunsdorf. Mereka melintasi tempat yang bertanda bekas bunker. Di sana tertera pula larangan untuk berjalanjalan di sekitar area bunker yang ditulis dalam beberapa bahasa termasuk bahasa Arab. "Tertulis, bom aktif masih terdapat di area tersebut. Itu mengingatkan saya akan Irak,'' kata Al-Khayeri.

Kepada Al-Khayeri, seorang pengungsi Suriah yang kini bekerja untuk Palang Merah menjelaskan, bunker itu merupakan bekas Perang Dunia II. Pengungsi asal Suriah itu ju ga memberi tahu Al-Khayeri tentang tahanan Muslim yang ditempatkan di sana selama perang berlangsung. Tinggal di tempat yang menyimpan sejarah perang masa lalu, Al-Khayeri hanya mengangkat bahu sesaat. Saat ini ia hanya ingin fokus menjalani hidupnya agar lebih baik. Ia tersenyum sebelum berbalik badan dan kembali ke gymansium.