Rabu , 08 March 2017, 16:00 WIB

Masyarakat Islam di Negara Orang Jujur

Red: Agung Sasongko
blogspot.com
Masjid di Burkina Faso
Masjid di Burkina Faso

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Sebanyak 1,5 juta penduduk yang tersebar di bagian tengah Afrika Barat adalah orang-orang Songhai. Sekitar 137 ribu di antaranya berada di Burkina Faso.

Mereka bisa ditemukan di bagian Barat Laut negara itu, berdekatan dengan perbatasan dengan Nigeria. Beberapa masyarakat Songhai ada juga yang tinggal di dekat padang pasir dengan jumlah air yang sedikit dan vegetasi yang minim.

Orang-orang Songhai bila dilacak garis sejarahnya, mereka berasal dari abad VIII pada masa Kerajaan Za. Islam sudah mulai dipeluk oleh suku itu sejak tahun 1010, tetapi ketika itu agama Islam masih bercampur dengan kepercayaan tradisional. Kerajaan Za hanya bertahan sampai abad  XVII, setelah ditaklukkan oleh Kesultanan Maroko.

Mereka yang berasal dari masyarakat Songhai sudah pasti beragama Islam. Keberadaan mereka di Burkina Faso memberikan pengaruh penting bagi perkembangan jumlah pemeluk agama Islam di negara itu. Hubungan politik mereka dengan Libya yang dijalin dengan baik, memberikan tambahan kekuatan bagi orang-orang Songhai di negara itu.

Dikaji dari sistem sosialnya, masyarakat Songhai adalah masyarakat patrilineal. Laki-laki mempunyai peran penting dalam kelompok masyarakat. Biasanya pada keluarga bangsawan Songhai, anak pertama yang lahir dan akan mewarisi gelar kebangsawanan harus menikah dengan anak perempuan dari pamannya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kemurnian keturunannya.

Golongan masyarakat lain yang berpengaruh di Burkina Faso adalah suku Badui dari Arab. Mereka berasal dari daerah gurun di jazirah Arab. Namun, mereka melakukan perjalanan hingga ke bagian utara dan barat dari Benua Afrika. Saat ini sekitar 10.000 orang dari suku Badui hidup di Burkina Faso. Terutama di sisi selatan negara itu. Sebagaian besar dari suku Badui adalah Islam Suni.

Dalam struktur sosialnya, suku Badui dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah suku Badui murni yang hidup nomaden dari satu daerah ke daerah lain. Kedua adalah Fellahin, atau suku Badui yang cenderung menetap dan bercocok tanam.

Para Fellahin ini sebagian besar hidup di pinggiran gurun. Sedangkan suku Badui murni lebih sering melintasi gurun dengan karavan mereka. Biasanya mereka menembus gurun pada musim dingin dan kembali ke sisi-sisi gurun pada musim kering atau musim panas. Suku Badui yang tinggal di Burkina Faso tetap menggunakan bahasa mereka dalam berkomunikasi.

Asosiasi pelajar Muslim

Pada 2009 silam, Asosiasi Pelajar Muslim Burkina Faso yang dipimpin oleh Noufou Tiendrebeogo memutuskan untuk bergabung dalam gerakan World March for Peace and Nonviolence. Gerakan tersebut merupakan aksi dunia yang merespons keadaan saat ini yang masih saja penuh dengan ancaman perang.

Seperti masih terbukanya peluang perang nuklir, persaingan produksi senjata, dan invasi militer suatu negara ke negara yang lain. Gerakan ini menginginkan adanya dunia tanpa perang.

Asosiasi pelajar yang merangkul lebih dari 100 ribu anggotanya itu memilih bergabung dalam gerakan antiperang tersebut karena sesuai dengan akar dari agama Islam yang menawarkan kedamaian bagi semua orang. Asosiasi ini terbentuk sejak 1986 dengan tujuan mengenalkan Islam ke berbagai sekolah dan universitas.