Sabtu , 04 Maret 2017, 17:12 WIB

Muslim Ontario Berjuang Pertahankan Identitas

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
www.islamicblog.co.in
 Seorang Muslimah Kanada mendirikan shalat di dekat kedai kopi Tim Hortons di Toronto, Ontario, Kanada. (ilustrasi)
Seorang Muslimah Kanada mendirikan shalat di dekat kedai kopi Tim Hortons di Toronto, Ontario, Kanada. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Gelombang Islamofobia yang melanda Barat pascatragedi 9/11 memberikan efek luar biasa terhadap pola interaksi dan komunikasi antara Muslim dan warga lokal di sejumlah wilayah, tak terkecuali di Kanada.

Dalam populasi yang lebih besar, sebuah jajak pendapat terbaru oleh Ipsos Reid menemukan bahwa 60 persen dari responden merasa ada peningkatan diskriminasi terhadap umat Islam dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu.

Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Asosiasi Studi Kanada pada 2011, kurang dari setengah atau 43 persen dari 2.345 orang yang disurvei menyatakan sangat positif atau agak positif  berkaitan dengan persepsi terhadap Muslim. Islamofobia bisa berwujud halus lewat diskriminasi di tempat bekerja atau ketika mereka berada di tengah masyarakat. Seperti yang melanda Muslim Ontario. Ironisnya, media sering kali menutupi kasus yang paling menonjol.

Implikasi sosial dari ketidakpedulian media itu berkontribusi pada pembungkaman publik, marginalisasi atau pengasingan Muslim Ontario dari komunitas Kanada. Sikap dan pandangan negatif terhadap Islam dan Muslim meluas di kalangan masyarakat Ontario.

Sebagian besar didominasi oleh persepsi negatif terkait korelasi Islam dan Muslim dengan kekerasan dan terorisme. Selain itu, sebagian publik menganggap Muslim bertanggung jawab secara kolektif untuk menjelaskan tentang tudingan keterkaitan itu.         

Pandangan anti-Muslim kadang-kadang dicampur dengan antiimigran dan atau ras serta prasangka berbasis etnis dan bias. Perlakuan semacam ini pernah diterima oleh guru Muslim di Toronto, Shalwar Kameez. Saat mengajar di sekolah, ia pernah mengenakan baju bermotif khas India. Ia pun mendapat cibiran dari sejumlah teman seprofesinya. “Uh! Kau tampak seperti mereka (Muslim),” katanya menirukan cemoohan koleganya.  

Meski demikian, Muslim di Ontario masih beranggapan positif tentang hak-hak dan kebebasan menjalankan keyakinan dan ritual agama mereka. Tak sedikit yang mengutip Piagam Kanada atau Ontario Human Rights Code yang melindungi hak asasi tersebut.

Ini terlihat dari keterlibatan Muslim sepanjang 10 hingga 15 tahun terakhir dengan Dewan Sekolah Distrik Toronto (TDSB), entah sebagai guru, pendidik, atau administrator sehingga mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang bersentuhan langsung dengan pelaksanaan praktik keagamaan.     

Sebagai respons terhadap Islamofobia di masyarakat Kanada, tak terkecuali di wilayah Ontario, muncul beragam komentar seperti pentingnya menggambarkan diri mereka sendiri dan komunitas mereka sebagai Kanada dan sebagai Muslim dengan cara-cara yang positif dalam interaksi sosial mereka sehari-hari.

Muslim di Ontario dituntut mampu berbaur dengan komunitas lokal tanpa harus mengisolasi diri dari dunia luar. Inisiatif itu bisa membantu menciptakan kohesi sosial yang harmoni. Termasuk desakan agar pemerintah melindungi hak-hak beragama dan kebebasan Muslim Kanada di bawah hukum. Dan, terakhir memberikan edukasi kepada generasi muda lewat pendidikan dengan melibatkan guru-guru Muslim di berbagai sekolah.