Selasa , 28 February 2017, 05:07 WIB

Pujian Ibnu Arabi: Buku Teman Terbaik

Rep: Dyah Ratna Meta Novia/ Red: Agung Sasongko
worldobserveronline.com
buku islam (ilustrasi)
buku islam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah pujian terlontar dari mulut Ibnu Arabi. Pujian itu bukan berupa  kekaguman terhadap kecantikan seseorang atau ketakjuban pada keindahan sebuah bentangan alam. Pujian dari ilmuwan Muslim ternama ini disematkan pada buku yang dianggap sebagai teman terbaik.

Menurut Ibnu Arabi, buku tak akan membuat seseorang menjadi bosan. Ia mengatakan, buku pun mengajarkan masa lalu dengan bukti-bukti kuat, akhlak yang baik, dan nasihat yang bagus. Ia mengatakan, buku-buku itu melakukannya tanpa rasa takut dan tak dengan sikap memusuhi.

Menghimpun ilmu dalam sebuah buku memang telah mentradisi. Hal ini dilakukan para ilmuwan Muslim untuk melestarikan ilmu yang ia kuasai. Lalu, buku itu menjadi rujukan bagi orang-orang yang sezaman ataupun penerus mereka. Pada masa Islam, kecintaan terhadap buku terlihat begitu besar.

Kecintaan itu seperti yang ditunjukkan Ibnu Arabi dalam pujiannya terhadap buku. Banyak kalangan telah memiliki kesadaran akan pentingnya buku. Mereka adalah para cendekiawan, ahli fikih, ataupun para pejabat tinggi dan masyarakat lainnya.

Selain Ibnu Arabi, para ahli fikih sangat suka memiliki beragam buku. Koleksi buku mereka tak melulu soal agama. Mereka pun memiliki buku-buku filsafat dan kalam. Mereka mendalaminya untuk memperluas cakrawala pengetahuan saat kelak berhadapan dengan para filsuf.

Sebenarnya, sejumlah ahli fikih ada yang melarang buku-buku filsafat, terutama untuk diajarkan di sekolah-sekolah agama. Sebab, mereka menilai, pemikiran filsafat ada yang bertentangan dengan agama. Namun, mereka mengoleksi dan mengkajinya.

Selain itu, mereka mengakui, dari sisi metodologi dan substansi, buku-buku kajian filsafat itu bermanfaat. Mereka juga memuji sejumlah siswa yang telah mencapai tingkat pemahaman agama yang tinggi, lalu melakukan kajian terhadap buku-buku filsafat.

Bahkan, menurut Goerge A Makdisi dalam Cita Humanisme Islam, seiring berjalannya waktu, para ahli fikih itu berkutat dengan pemikiran filsafat dan logika Yunani. Mereka adalah para intelektual ternama, seperti Ibnu Aqil, Al Ghazali, Al Amidi, Fakhr al-Din al Razi, Ibnu Taymiyah, dan Al Tufi.

Berita Terkait